Pages

Wednesday, 31 July 2013

Teladan muslimah dalam berpuasa

Di antara teladan Muslimah dalam hal puasa dan shalat malam adalah Hafshah binti Umar bin Khattab. Karena sikap yang sangat zuhud, wara' dan selalu berpuasa, ia mendapatkan julukan 'sawwamah' (orang yang selalu berpuasa) dan qowwomah (orang yang selalu bangun malam). Hafshah tidak pernah henti berpuasa dan bangun malam untuk bertemu dengan Rabbnya. Maka, ia selalu berpuasa, menahan lapar dan dahaga, dan terus bangun malam, meskipun di siang hari tetap bekerja.

Akhirnya, Rasulullah SAW berkenan menikahinya dan menjadikan dia sebagai 'Ummul Mukminun'. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jibril berkata, wahai Muhammad, rujuklah kepada Hafshah, karena sesungguhnya dia perempuan yang ahli puasa dan ahli ibadah"
Kegigihannya berpuasa tentu tak hanya Ramadhan, tapi puasa sunah. Sampai-sampai diriwayatkan, ia meninggal pun dalam keadaan berpuasa. Nafi Ibnu Umar berkata: Hafshah meninggal sebelum sempat berbuka puasa. Demikian pula tahajud Hafshah, menjadi sebab langgengnya sebagai istri Rasulullah SAW, di dunia dan di akhirat.

(dikutip dari Keutamaan puasa muslimah Komunitas Rindu Syariah & Khilafah)

Monday, 3 June 2013

Tidak perlu takutkan larutnya malam

Bulan Mei dan Juni ini merupakan masa-masa puncak ketegangan dan sangat menentukan dalam perjalanan hidup saya di Jepang.  Untuk orang nekat seperti saya yang prestasi akademiknya biasa saja serta minim kemampuan bahasa Inggris, apalagi bahasa Jepang, memutuskan untuk melanjutkan S2 di jepang benar-benar butuh keberanian ekstra.  Sejak datang ke sini, saya sama sekali tidak punya beasiswa.  Tujuan awal saya adalah menjadi research student, itupun alasan terbesarnya adalah untuk membawa anak-anak lebih dekat dengan ibunya istri yang sedang S2.

Ketika mendaftar S2, sama sekali tidak ada bekal beasiswa.  Dukungan atasan, dosen pembimbing, dan tentu saja keluarga lah yang membuat saya memberanikan diri mencebur ke dunia yang terasa asing ini.  Semester pertama dilalui hanya dengan beasiswa SPP.  Tapi itu menyelematkan saya, karena untuk mendapatkan ijin sekolah harus mempunyai beasiswa apapun.  Tapi, tentu saja itu tidak cukup, karena beredar informasi bahwa potongan SPP untuk mahasiswa asing akan semakin dibatasi.  Dan benar saja, hanya 50% potongan SPP yang saya terima.

Bagaimana dengan pengajuan beasiswa? Inilah masalahnya.  Ternyata sangat sulit untuk orang yang pasangannya sudah menerima beasiswa dari pemerintah Jepang (monbukagakusho) untuk mengajukan beasiswa lainnya.  Informasi ini tidak saya terima dengan akurat sebelumnya.  Jadilah saya diminta menunggu hingga istri saya selesai.  Lha, selama menunggu ini, bagaimana caranya saya hidup disini yang biayanya amat sangat tinggi sekali?  Setelah itu pun, berbagai macam beasiswa yang saya ajukan tidak pernah diterima.  Ada saja alasannya, ketidakmampuan bahasa Jepang, kurangnya prestasi akademik selama S1, tidak ada kerjasama dengan instansi asal, dll.

Tidak mudah melukiskan kembali apa yang saya alami saat itu.  Berbagai pengalaman hidup dan kejadian-kejadian tidak terduga datang silih berganti.  Hingga bulan April lalu ada satu beasiswa lagi yang coba diajukan.  Ini adalah kesempatan terkahir, pengalaman tahun lalu informasi beasiswa baru ada lagi di bulan November, itupun untuk penerimaan April 2014. Padahal program S2 saya selesai Maret.  Pengumunan beasiswa disebutkan sekitar Juni.  Itulah mengapa saya sebutkan bulan ini merupakan saat-saat yang sangat menegangkan.

Istri saya selalu menghibur, Allah tidak akan memberikan cobaan lebih dari kemampuan hamba-Nya. Kalau pun beasiswa ini tidak diterima, akan ada rejeki lainnya.  Boleh saja saya terlihat tegar didepan istri dan anak-anak, tetapi tidak di hadapan-Nya.  Sampai akhirnya saya mendapat telp dari International Student Center, yang mengabarkan saya mendapat beasiswa Hashiya, peluang terakhir beasiswa saya.  Beasiswa yang hanya ditujukan untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Tidak perlu takut dengan malam yang semakin larut, karena itulah tanda alami akan tibanya sinar mentari.  Pun hilangkan resah dan gelisah, karena itulah saat terbaik doa diijabah.  Bersama kesulitan akan dijelang kemudahan. Dan sungguh bersama kesulitan akan dijelang kemudahan.  Karena itulah janji Sang Maha, dalam kitab suci-Nya.

Wednesday, 24 April 2013

Intropeksi diri

Bila untaian doa sudah tidak lagi disertai dengan harap dan cemas akan diterima

saat waktu dhuha sudah tidak lagi istimewa

ketika keheningan sepertiga malam sudah tidak lagi mampu meneteskan air mata penyesalan atas dosa dosa yang telah dilakukan

cobalah berhenti sejenak

jangan-jangan benih kesombongan dan ketinggian hati mulai tumbuh dalam diri

jangan-jangan diri ini sudah mulai merasa hebat, sehingga ketergantungan kepada Allah berkurang cepat.

Saturday, 16 February 2013

Berkumpul lagi

Apa hal yang sangat dinantikan seorang ayah dan suami selain bertemu kembali dengan anak dan istrinya setelah 4 bulan berpisah? Hari ini terbalas seluruh kerinduan.  Meskipun pertama kali bertemu di bandara Chacha dan Fiya cuma menyambut dengan senyuman tipis, nyaris tanpa ekspresi.  Sulit menduga apa yang ada dalam hati mereka tapi yang jelas, kangen banget sama kamu nak…

Setelah melalui proses yang panjang dan rumit, akhirnya keluarlah ijin belajar untuk ibunya anak-anak.  Kalau dua tahun lalu saya datang ke Nagasaki untuk mengantar anak-anak, sekarang gantian istri saya melakukan itu untuk saya.  Bedanya, saya dulu datang dengan perasaan senang dan bahagia, saat ini keadaannya lain.  Roda sedang dan selalu berputar.

Dulu saya berani datang ke Nagasaki karena istri saya mendapat besiswa monbukagakusho.  Dengan hidup hemat, satu beasiswa itu bisa cukup dijalani untuk sekeluarga.  Tapi sekarang? Istri saya datang hanya berbekal keyakinan bahwa apapun yang akan terjadi kemudian, hidup bersama jauh lebih baik daripada terpisah.   Keyakinan bahwa rejeki anak dan istri tidaklah semata ditentukan oleh penghasilan ayah dan suami, karena Allah-lah Sang Pemberi Rejeki.


Hmmm… malu hati dibuatnya.  Sambil mengamati mereka yang tertidur kelelahan, teringat pernah membaca bahwa salah satu ciri pasangan yang bahagia adalah ketika suami selalu merasa bersyukur mempunyai istri yang cantik, pintar dan shalehah, sementara sang istri selalu bersabar dengan keadaan suami.  

*keterangan foto: Chacha dan Fiya datang lagi ke Nagasaki, kali ini lewat bandara Osaka.  Biar sekalian bisa main ke Universal Studio

Thursday, 24 January 2013

Ijinkan aku memelukmu

Masjid itu terisi penuh oleh generasi terbaik yang pernah dilahirkan ke tengah-tengah manusia.  Sang suri tauladan, Rasulullah SAW, dihari-hari terakhir menjelang akhir hayatnya, sedang menyampaikan khutbahnya. Hingga keluarlah dari lisannya yang mulia perkataan, bahwa siapa saja yang merasa pernah tersakiti, balaslah saat ini sebelum kelak menuntut di hari kiamat. 

Seisi masjid terdiam dan tertunduk. Duhai Nabi, siapakah gerangan orang yang merasa pernah tersakiti. Semua kenangan bersamamu adalah kenangan indah. Tidak ada yang keluar dari lisanmu kecuali perkaataan yang penuh hikmah. Semua tindakan, perkataan bahkan diammu menjadi hukum syara. Akhlakmu adalah Al Quran dari Sang Pencipta

Karena tidak ada yang menjawab, Rasullullah mengulangi permintaannya. Semua masih terdiam.  Beliau mengualangi kembali, dan tiba-tiba berdirilah seorang bernama Ukasyah bin Mihshan. Dengan lantang dia berkata bahwa ketika perang badar, saat Nabi hendak memukulkan cambuk/tongkatnya ke unta tunggangan beliau, tongkat tersebut mengenai badannya. Sakit sekali ya Rasulullah, lanjut Ukasyah.

Hari ini Ukasyah ingin menuntut balas. meng-qishas tindakan Rasulullah!!!! 

Seluruh sahabat terperanjat.... tidak menyangka akan menyaksikan pemandangan ini.

Rasulullah meminta Bilal mengambilkan tongkat yang penah dipakai tersebut dan diberikan kepada Ukasyah.  Ketika tongkat sudah berada ditangannya, semua mata tertuju kepada Ukasyah. Seisi masjid tegang…apa gerangan yang diinginkan Ukasyah.

Dua sahabat terbaik, Abu Bakar dan Umar bergantian berdiri sambil berkata, jangan engkau sakiti Rasulullah.  Sebagai ganti pukulah aku Ukasyah, aku siap menggantikan beliau, begitu permintaan Abu Bakar dan Umar bergantian.

Dengan penuh kelembutan Rasul meminta mereka untuk kembali duduk.  Sesungguhnya Allah mengetahui kedudukan mulia Abu Bakar dan Umar. Lalu berturut-turut, Usman dan Ali meminta untuk menggantikan beliau di qishas oleh Ukasyah.  Bahkan Hasan dan Husein, cucu beliau, tidak sampai hati ada yang memukul Rasul. Namun apa daya, semua keinginan ditolak oleh Rasulullah.  Ukasyah dipersilahkan memukul.

Ukasyah mendekat kehadapan Nabi sambil berkata, ketika terpukul dahulu aku tidak menggunakan pakaian. Saat ini pun aku ingin engkau membuka baju. Dengan segera Rasul memenuhi permintaannya dan menyingkapkan bajunya.

Seketika menangislah seisi masjid…Duhai Rasulullah, biarlah kami yang menggantikan.  Bagaimana mungkin kami bisa berdiam diri melihat engkau di pukul untuk kesalahan yang tidak pernah engkau perbuat. Di medan Uhud pun kami siap mengorbankan jiwa dan raga kami demi bisa menjadi tameng hidupmu terhadap serangan tentara kafir Qurais. Ada apa pula dengan Ukasyah hingga begitu tega ingin menyakiti Rasul. 

Seolah tidak peduli dengan perasaan yang berkecamuk di dada seluruh sahabat, sambil tetap menggenggam tongkat Ukasyah berjalan mendekat…semakin dekat…menuju Rasulullah...seolah siap melaksanakan niatnya untuk memukul.

Ketika semakin dekat ke Rasulullah, tiba-tiba terjatuhlah tongkat ditangannya dan seketika dipeluklah dengan penuh kasih sayang Rasulullah junjungannya.  Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah. Siapakah gerangan yang sanggup memukul engkau. Aku melakukan ini karena ingin menyentuh tubuhmu yang dimuliakan Allah, agar dengan kehormatanmu aku bisa terhindar dari api neraka…

Demikianlah perkataan Ukasyah yang penuh cinta kasih kepada Rasulullah. Bila Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Husein, dan sahabat-sahabat lainnya senantiasa dekat dengan Rasulullah sehingga dapat bersentuhan secara langsung, tidak demikian halnya dengan Ukasyah yang merasa tidak sedekat seperti mereka.  Hingga ketika kabar sakitnya Rasulullah semakin jelas terdengar, perasaan takut kehilangan orang yang sangat dicintai berkecamuk dan menimbulkan kerinduan hebat yang merasuk ke dalam jiwanya. Saat di awal khutbahnya Rasulullah mengulang pernyataan untuk menuntut balas, dibuatlah skenario untuk meng-qishas beliau, hanya agar bisa mendekat dan menyentuh langsung Rasulullah.

Sampai kemudian Rasulullah berkata kepada seluruh orang yang hadir, sekiranya kalian ingin melihat ahli surga, lihatlah orang (Ukasyah) ini…

Duhai Ukasyah, betapa beruntungnya engkau…bagaimanakah rasanya memeluk sang Nabi…mungkinkah kami dapat mengikuti jejakmu? Hanya membaca dan menulis kembali kisah ini saja telah menimbulkan getaran dan genangan air mata akibat kerinduan yang berkecamuk hebat dalam dada.

Akankah Ramadhan ini menjadi bekal yang cukup untuk menuju Ar Rayyan, salah satu pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa? Ingin sekali bisa mendekat ke pintu Ar Rayyan, lalu dipanggil dan dipersilahkan masuk ke dalam surga-Nya.

Disana, ingin sekali bisa menemuinya... memandang wajahnya... atau, mungkin dapat mendekatinya... atau, mungkin juga dapat menggenggam dan mencium tangannya... atau.... ah, aku pun sangat ingin seperti Ukasyah, bisa memeluk Rasulullah...
Ya Nabi salam alaika…Ijinkan aku Ya Allah...