Tadi malam, di tengah makan malam bersama, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba Fiya menutup muka dengan kedua tanggannya sambil menangis. Sampai selesai makan dia gak mau cerita penyebabnya menangis. Selesai makan, Fiya minta dipangku sambil dipeluk. Lalu kakaknya, Chacha, sambil masih menikmati dinner buatan abinya, berkata, Abi tadi waktu Chacha cerita tentang si Comel (panggilan sayang untuk adik kecilnya, Aisyah) Chacha juga hampir mau nangis.
Lho, ada apa ini koq tiba-tiba dua-duanya jadi melow.
Hari ini Ummi dan Aisyah memang saya ijinkan untuk pergi dan menginap satu malam. Si Ummi minta ijin mengajar dua hari di Serang. Ketika menerima tawaran, dikira tempatnya dekat dan bisa dijangkau dengan pulang pergi, ternyata harus menginap. Jadilah saya kasih ijin dengan catatan, Aisyah juga dibawa.
Fiya terus bilang, tadi waktu makan Fiya kangen sama Ummi. pengin makan sama Ummi. Dia terus cerita sambil terus memeluk abinya. Hmmmm, baru aja ditinggal sehari...
Jadilah untuk mengusir rasa kangen, mereka saya ajak naik motor mencari dan membeli makanan kesukaan mereka. Kembali kerumah, mereka saya kasih HP untuk telp Umminya, lalu di rumah saya ajak mengulang pelajaran Qiraati dan Iqra sampai mereka mengantuk. Sebelum tidur, Fiya minta diceritakan tentang Rasulullah. Saya ceritakan kisah seorang wanita kulit hitam yang punya penyakit ayan/epilepsi, yang minta didoakan oleh Rasulullah agar penyakitnya sembuh. Rasulullah memberi pilihan, didoakan agar penyakitnya sembuh atau dia bersabar atas penyakitnya sehingga mendapat balasan surga atas kesabarannya mempunyai penyakit itu. Wanita itu memilih bersabar, tetapi minta Rasul mendoakan agar bila penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. Sabar. Itu sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki setiap orang. Cerita selesai, Fiya mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur. Seperti biasa, setelah mata mereka terpejam, saya cium dan berdoa untuk kebaikan mereka. Setelah itu gantian, saya yang keluar air mata...Maafkan abi nak.
Sepulang kerja, saya sudah semaksimal mungkin berusaha memainkan peran sebagai seorang Ibu. Saya buatkan mereka makanan dan makan bersama; saya minta mereka sholat maghrib dan isya berdua berjamaah (sementara saya ke masjid), saya ajak mereka bermain; bersama-sama mengulang pelajaran dan menyiapkan untuk pelajaran besok, Tetapi, betapapun telah berusaha dengan keras, saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang Ibu. Bagaimanapun dekatnya mereka dengan abinya, tetap sosok Ummi yang selalu diinginkan. Seberapapun 'galaknya' ummi ke mereka, tetap saja mereka tidak rela lepas walau semalam.
Thursday, 19 March 2015
Saturday, 14 February 2015
Cinta semu di V-day
Hari ini masih saja sebagian besar orang merayakan apa yang mereka sebut hari kasih sayang. Meskipun mungkin punya motivasi masing-masing yang boleh jadi tidak sama, tapi fakta menunjukkan bahwa pada hari tersebut banyak digunakan sebagai ajang perzinahan. Sedikitnya lima walikota melarang warganya merayakan valentine day sambil men-sweeping minmarket yang kedapatan memajang coklat dengan minuman keras dan kondom. Lebih miris lagi ketika hotel kelas melati di beberapa tempat diisi oleh bukan pasangan suami istri. naudzubillah.
#Cinta semu
#Cinta semu
Telah menjadi dasar perayaan itu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Sama halnya dengan #Cinta buta
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
#Cinta mulia
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Begitupun #Cinta sejati
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Demikian juga #Cinta suci
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Sehingga #Cinta terindah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dan akhirnya #Cinta tertinggi
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Wednesday, 21 January 2015
Memerangi kemalasan
Alhamdulillah, bisa kembali membuka blog yang sudah beberapa bulan tidak di update. Tidak ada dan tidak boleh ada alasan lain selain memang M.A.L.A.S. Sibuk sejatinya bukanlah alasan untuk menulis, pun juga ide-ide bukannya tidak ada. Kemalasan memang sesuatu yang harus diperangi dan ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Monday, 11 August 2014
Kebiasaan
Ada banyak cerita menarik dari seseorang yang pulang dari tanah suci, apalagi umrah di hari-hari terakhir Ramadhan. Siapaun akan merindukan mengucapkan doa saat malam lailatul qadr dan di tempat terbaik melaksanakan ibadah (masjidil haram). Menurut cerita, di sepuluh malam terkahir Ramadhan tidak ada yang melewatkan dengan tidur. Tarawih satu juz dimulai pukul 21.00an dan berakhir hingga sekitar pukul 24.00 . Selepas istirahat hampir satu jam, lanjut shalat tahajud hingga pukul 3.00, lalu sahur dan shalat shubuh. Tidur dilakukan setelah shalat dhuha sampai menjelang shalat dzuhur, yang paling banyak 2 jam.
Sesampai di tanah air, kebiasaan tidak tidur semalam masih terbawa. Begitulah, sesuatu yang awalnya terasa berat, ketika dilakukan secara rutin bisa menjadi sesuatu yang biasa saja. Orang yang terbiasa puasa senin-kamis akan menyambut ramadhan dengan lebih bergembira dibanding yang tidak biasa; yang punya kebiasaan shalat berjamaah akan merasa berat ketika meninggalkannya; yang sudah rutin mengalokasikan hartanya untuk zakat, infaq dan shadaqah tidak akan merasa berat mengeluarkan berapapun besarnya.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang bersama dua bidadari kecil yang saat itu berusia 4 dan 1.5 tahun, saya tidak terbayang bagaimana keduanya akan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dengan perbedaan bahasa. Tetapi setelah 6 bulan ditempatkan di hoikuen (daycare), mereka bisa akrab dengan teman-temanya karena setiap hari dibiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa disana.
Demikian pula yang mempunyai kebiasaan buruk, sulit sekali melepaskannya. Saya pernah mempunyai asisten rumah tangga yang ternyata suka mengambil barang milik orang lain tanpa ijin. Ketika kami ajak ke rumah orang tua, banyak barang-barang 'nganggur' seperti HP, uang di saku dan di celengan, dll diambilnya dengan alasan yang aneh 'nemu'. Hebatnya, selama seminggu melakukan aksinya tidak ada satupun orang yang memergokinya.
Orang-orang hebat, baik dalam hal baik atau buruk, umumnya bisa melakukan aktifitas tersebut setelah melakukannya berkali-kali atau menjadikan aktifitas tersebut sebagai kebiasaannya. Istilah yang sering digunakan adalah tergantung 'jam terbang'. Kebiasaan baik perlu dilakukan sejak masih muda, sehat dan kuat, agar ketika fisik sudah melemah dan tidak mampu lagi melakukannya, berniat melakukannya saja akan dihitung sebagai pahala. Atau jikapun tiba-tiba umur didunia sudah berakhir, nyawa kita diambil ketika sedang melakukan kebiasaan baik. Sayang sekali jika sewaktu muda, sehat dan kuat malah digunakan untuk melakukan kebiasaan yang buruk. Wallahualam
Monday, 4 August 2014
Mudik
Salah satu ciri khas berlebaran di Indonesia adalah ritual mudik atau pulang kampung yang tujuan mulianya adalah untuk bersilaturahim dengan orang tua, keluarga dan/atau kerabat. Tahun ini, lebaran pertama setelah tiga tahun tidak berlebaran bersama keluarga besar, saya sekeluarga mudik ke Muara Dua, yang termasuk dalam kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, propinsi Sumatera Selatan. Perjalanan normal dari Bogor dengan membawa kendaraan sendiri ditempuh dalam waktu minimal 16 jam.
Dengan perjalanan yang sedemikan panjang dan melelahkan itu, tentu saja butuh persiapan matang apalagi membawa tiga bidadari kecil. Mulai dari 'mendandani' mobil, perbekalan selama diperjalanan, oleh-oleh, dan yang pasti uang yang cukup. Saya berada di Muara Dua hingga Sabtu sedangkan istri dan anak-anak masih tetap tinggal hingga cutinya selesai.
Perjalanan kembali ke Bogor Sabtu kemarin benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, berangkat dari rumah pukul 8.30, bus berangkat pukul 12.00 siang dan berhasil tiba di pelabuhan Bakaheuni sekitar pukul 1.00 dinihari, namun antrian panjang masuk kapal yang dilansir detik.com hingga mencapai 5 km menyebabkan bus yang saya tumpangi baru bisa masuk kapal sekitar pukul 11.10. Lebih dari 10 jam antri di pelabuhan. Baru pukul 18.30 saya berhasil tiba di rumah dengan selamat, yang berarti total perjalanan dari rumah ke rumah sekitar 35 jam.
Sepanjang perjalanan saya teringat bahwa pada hakekatnya kita semua juga akan 'mudik'. Tempat tinggal pertama Nabi Adam ketika diciptakan oleh Allah adalah di surga, sehingga wajar bila ada yang mengatakan surga sesungguhnya adalah 'kampung halaman' kita. Bila mudik lebaran kita bisa memperkirakan jarak tempuh kampung halaman, 'mudik ke surga' ini tidak dapat dipastikan jauh perjalanannya.
Kita hanya tahu bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian dan setelah masuk ke alam kubur semua akan menanti dibangkitkan di hari akhir untuk mempertangguungjawabkan perbuatannya sebelum ada keputusan apakah kita akan kembali ke 'kampung halaman' di surga atau justru ke neraka. Hidup di dunia ini merupakan persiapan untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung halaman. Bila untuk perjalanan selama 16 jam atau 35 jam saja persiapan yang dibutuhkan sangat detil, apalagi perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.
Kesempatan mengumpulkan bekal hanya ketika di dunia karena setelah di alam kubur hanya tiga hal yang menemani, doa anak yang shaleh/shalehah, ilmu yang bermanfaat dan amal yang ketiganya harus disiapkan di dunia. Seberapa banyak harta yang dimiliki di dunia, harta terakhir yang dibawa adalah kain kafan, semewah apapun kendaraan yang dimiliki di dunia, kendaraan terakhir yang digunakan adalah keranda dan seberapa luaspun rumah didunia, tempat tinggal terakhir hanyalah kuburan seluas 1x2 meter.
Tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan dirinya akan meninggalkan dunia. Maut tidak mengenal tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, pria-wanita, pejabat-rakyat jelata, semua pasti mengalami kematian. Tidak ada yang bisa merasa umur masih panjang hanya karena masih berusia muda atau masih sehat, segar bugar, punya uang banyak untuk berobat, dsb.
Ketika saya antri di pelabuhan selama lebih dari 10 jam, perasaan bosan, jengkel dan lelah fisik begitu menyiksa. Pikiran ini mengembara ke suatu masa ketika nanti menghadapi antrian di padang mahsyar yang tidak bisa diperkirakan waktunya, menunggu giliran di hisab yang dikabarkan pada saat itu matahari berjarak sangat dekat dengan ubun-ubun kepala sehingga ada yang tenggelam di keringatnya sendiri. Hidup di dunia yang sebentar ini benar-benar akan menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya di alam kubur, hari kebangkitan dan alam akhirat.
Wallahualam.
Dengan perjalanan yang sedemikan panjang dan melelahkan itu, tentu saja butuh persiapan matang apalagi membawa tiga bidadari kecil. Mulai dari 'mendandani' mobil, perbekalan selama diperjalanan, oleh-oleh, dan yang pasti uang yang cukup. Saya berada di Muara Dua hingga Sabtu sedangkan istri dan anak-anak masih tetap tinggal hingga cutinya selesai.
Perjalanan kembali ke Bogor Sabtu kemarin benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, berangkat dari rumah pukul 8.30, bus berangkat pukul 12.00 siang dan berhasil tiba di pelabuhan Bakaheuni sekitar pukul 1.00 dinihari, namun antrian panjang masuk kapal yang dilansir detik.com hingga mencapai 5 km menyebabkan bus yang saya tumpangi baru bisa masuk kapal sekitar pukul 11.10. Lebih dari 10 jam antri di pelabuhan. Baru pukul 18.30 saya berhasil tiba di rumah dengan selamat, yang berarti total perjalanan dari rumah ke rumah sekitar 35 jam.
Sepanjang perjalanan saya teringat bahwa pada hakekatnya kita semua juga akan 'mudik'. Tempat tinggal pertama Nabi Adam ketika diciptakan oleh Allah adalah di surga, sehingga wajar bila ada yang mengatakan surga sesungguhnya adalah 'kampung halaman' kita. Bila mudik lebaran kita bisa memperkirakan jarak tempuh kampung halaman, 'mudik ke surga' ini tidak dapat dipastikan jauh perjalanannya.
Kita hanya tahu bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian dan setelah masuk ke alam kubur semua akan menanti dibangkitkan di hari akhir untuk mempertangguungjawabkan perbuatannya sebelum ada keputusan apakah kita akan kembali ke 'kampung halaman' di surga atau justru ke neraka. Hidup di dunia ini merupakan persiapan untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung halaman. Bila untuk perjalanan selama 16 jam atau 35 jam saja persiapan yang dibutuhkan sangat detil, apalagi perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.
Kesempatan mengumpulkan bekal hanya ketika di dunia karena setelah di alam kubur hanya tiga hal yang menemani, doa anak yang shaleh/shalehah, ilmu yang bermanfaat dan amal yang ketiganya harus disiapkan di dunia. Seberapa banyak harta yang dimiliki di dunia, harta terakhir yang dibawa adalah kain kafan, semewah apapun kendaraan yang dimiliki di dunia, kendaraan terakhir yang digunakan adalah keranda dan seberapa luaspun rumah didunia, tempat tinggal terakhir hanyalah kuburan seluas 1x2 meter.
Tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan dirinya akan meninggalkan dunia. Maut tidak mengenal tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, pria-wanita, pejabat-rakyat jelata, semua pasti mengalami kematian. Tidak ada yang bisa merasa umur masih panjang hanya karena masih berusia muda atau masih sehat, segar bugar, punya uang banyak untuk berobat, dsb.
Ketika saya antri di pelabuhan selama lebih dari 10 jam, perasaan bosan, jengkel dan lelah fisik begitu menyiksa. Pikiran ini mengembara ke suatu masa ketika nanti menghadapi antrian di padang mahsyar yang tidak bisa diperkirakan waktunya, menunggu giliran di hisab yang dikabarkan pada saat itu matahari berjarak sangat dekat dengan ubun-ubun kepala sehingga ada yang tenggelam di keringatnya sendiri. Hidup di dunia yang sebentar ini benar-benar akan menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya di alam kubur, hari kebangkitan dan alam akhirat.
Wallahualam.
Subscribe to:
Posts (Atom)