Selalu ada kegelisahan mendalam ketika meninggalkan istri dan anak-anak di rumah untuk tugas luar kota. Begitu pula saat ini. Empat hari ke Yogyakarta benar-benar terasa menyiksa ketika tiap malam anak-anak telepon mengatakan, "kita sayang abi, kenapa malam ini gak pulang ke rumah?". Menjawabnya sambil ngelap air mata yang tidak kuasa dibendung dan mendoakan semoga mereka menjadi anak-anak yang shalehah.
Di hari terakhir, sambil terus menahan rasa rindu bertemu mereka, khutbah Jumat kali ini menggugah kesadaran tentang kriteria wantia shalehah. Kira-kira inti ceritanya adalah sebagai berikut.
Pada masa Umar bin Khattab memerintah sebagai Khalifah, ada peraturan yang dibuat agar tidak mencampurkan air ke dalam susu yang akan diperdagangkan. Seperti yang sering dilakukannya, pada tengah malam itu Umar bin Khattab berjalan keliling rumah-rumah penduduk bersama seorang ajudannya. Ketika melewati suatu rumah, mereka mendengar percakapan antara seorang ibu dengan anak perempuannya yang kira-kira sebagai berikut.
"Nak, ayo segera campurkan air ke dalam susu itu, agar kita dapat untung yang lebih besar" perintah ibu kepada anak perempuannya.
" Jangan bu, bukankah Khalifah Umar bin Khattab telah melarang kita melakukan hal demikian karena ini termasuk penipuan terhadap pembeli?" jawab anaknya.
"Sudahlah nak, tidak akan ada yang tahu kalau kita mencampurnya malam-malam begini, apalagi Khalifah" desak ibunya.
"Ibu, Khalifah mungkin tidak tahu perbuatan kita, tapi dimana Allah?" kata anaknya, yang tidak hanya membuat ciut nyali ibunya, tetapi juga membuat Umar yang mendengar percakapan di luar tidak kuasa menahan air matanya.
Segera ketika kembali ke rumah, Khalifah memerintahkan ajudannya untuk kembali ke rumah itu dan memanggil si ibu. Apa yang hendak dilakukan Khalifah, apakah akan menghukum si ibu?
Sesampainya dihadapan Umar, ibu itu ditanya, "Apakah engkau mempunyai anak wanita?" yang langsung dijawab "Ya Amirul mukminin, saya mempunyai satu anak perempuan."
"Aku ingin menjodohkan putraku dengan anak perempuanmu" kata Umar tanpa basa basi.
"Tidak mungkin, derajat kita berbeda. Engkau adalah seorang Khalifah sedangkan kami hanyalah rakyat biasa" protes si ibu yang sama sekali tidak percaya akan mendapat tawaran seperti ini.
Singkat cerita, putra Umar bin Khattab, seorang Khalifah yang memiliki kekuasan lebih dari jazirah Arab menikah dengan putri seorang rakyat jelata. Pernikahan ini bukanlah didasari atas kesamaan kekayaan, kedudukan dan yang lainnya. Pernikahan ini hanyalah didasari kekaguman Khalifah terhadap keimanan sang putri, yang langsung bisa dinilai dari percakapan singkat dengan ibunya. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menyatukan mereka. Kelak dari keturunan mereka, lahirlah seorang laki-laki yang menggetarkan dunia. Seorang yang sangat alim. Khalifah yang layak disejajarkan dengan empat Khulafaur Rasyidin pendahulunya. Dialah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Wanita shalehah akan mendapatkan lelaki shaleh. Itulah janji Allah. Dari merekapun akan lahir keturunan yang shaleh dan shalehah. Tidak terasa, air mata ikut menetes mendengar cerita ini. Tiba-tiba teringat salah satu lantunan doa yang rutin diucapkan anak-anak sehabis shalat. Ya Allah, jadikan Hafshah, Shafiyyah dan Aisyah perempuan yang shalehah seperti Siti Fatimah Ya Allah. Semoga doa ini tidak hanya diaminkan oleh kami orang tuanya, tetapi juga oleh para penghuni langit. Aamiin.
Friday, 23 May 2014
Friday, 16 May 2014
Indonesia itu indah
Rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Peribahasa itu sering kita dengar terutama ketika melihat sesuatu yang tidak kita miliki sepertinya lebih bagus. Sebagai contoh, entah dilakukan secara sadar atau tidak, kita sering kagum melihat keindahan alam di luar negeri padahal kita masih minim pengetahuan tentang panorama negeri sendiri.
Sektiar tahun 2008 saya pernah menjadi staf sekretariat penyelenggaraan sidang internasional di Bali. Ada yang sampai sekarang saya ingat dari perkataan staf WHO tentang Bali, "luar biasa, tempat ini indah sekali seperti surga" padahal saya yakin banget dia belum pernah ke surga. Itu baru Bali. Indonesia masih menyimpan berjuta pesona keindahan alamnya. Saya sendiri belum banyak menjelajahi, tapi mudah saja mencari informasi tersebut via internet.
Ini salah satunya, keindahan ciptaan Allah di kepulauan Bangka. Pantai Parai namanya. Pantai ini menawarkan keindahaan yang sungguh memesona mata dan hati. Kemanapun lensa kamera diarahkan, terbentang pemandangan laut, pantai dengan batuan yang eksotis yang dilatarbelakangi pegunungan dan pohon kelapa. Lebih indah dari imajinasi pemandangan yang selalu kita gambarkan ketika masih SD.
Secara objektif saya bandingkan, tempat ini jauh lebih bagus dari pantai Iojima di Nagasaki yang menjadi tempat favorit berenang dan menikmati keindahan pantai ketika musim panas tiba. Tapi entahlah, sejauh pengamatan saya, tempat ini tidak banyak dikunjungi wisatawan domestik, apalagi mancanegara. Mungkin pengamatan saya salah; mungkin saja pada hari itu memang sedang sepi pengunjung.
Bagaimana dengan kulinernya? hmmm, Bangka seharusnya bisa menyaingi Bangkok. Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah yang berhubungan dengan bangka, martabak bangka atau kerupuk bangka. Belum lagi makanan olahan seafood, seperti halnya kota pinggiran pantai. Makanan khasnya adalah lempah kuning, sejenis pindang ikan berkuah kuning dan mi koba berkuah ikan. Lezat dan menyegarkan.
Saya yakin masih banyak tempat menarik di Indonesia yang belum banyak dikunjungi bahkan oleh bangsa kita sendiri. Tidak perlu jauh-jauh ke negeri orang untuk mencari destinasi wisata yang indah atau kuliner yang lezat dan menyehatkan. Allah Yang Maha Pencipta telah menyediakannya di depan mata kita.
keterangan gambar: atas: panorama pantai parai. bawah: lempah kuning
Sektiar tahun 2008 saya pernah menjadi staf sekretariat penyelenggaraan sidang internasional di Bali. Ada yang sampai sekarang saya ingat dari perkataan staf WHO tentang Bali, "luar biasa, tempat ini indah sekali seperti surga" padahal saya yakin banget dia belum pernah ke surga. Itu baru Bali. Indonesia masih menyimpan berjuta pesona keindahan alamnya. Saya sendiri belum banyak menjelajahi, tapi mudah saja mencari informasi tersebut via internet.
Ini salah satunya, keindahan ciptaan Allah di kepulauan Bangka. Pantai Parai namanya. Pantai ini menawarkan keindahaan yang sungguh memesona mata dan hati. Kemanapun lensa kamera diarahkan, terbentang pemandangan laut, pantai dengan batuan yang eksotis yang dilatarbelakangi pegunungan dan pohon kelapa. Lebih indah dari imajinasi pemandangan yang selalu kita gambarkan ketika masih SD.
Bagaimana dengan kulinernya? hmmm, Bangka seharusnya bisa menyaingi Bangkok. Kita tentu sudah tidak asing dengan istilah yang berhubungan dengan bangka, martabak bangka atau kerupuk bangka. Belum lagi makanan olahan seafood, seperti halnya kota pinggiran pantai. Makanan khasnya adalah lempah kuning, sejenis pindang ikan berkuah kuning dan mi koba berkuah ikan. Lezat dan menyegarkan.
Saya yakin masih banyak tempat menarik di Indonesia yang belum banyak dikunjungi bahkan oleh bangsa kita sendiri. Tidak perlu jauh-jauh ke negeri orang untuk mencari destinasi wisata yang indah atau kuliner yang lezat dan menyehatkan. Allah Yang Maha Pencipta telah menyediakannya di depan mata kita.
keterangan gambar: atas: panorama pantai parai. bawah: lempah kuning
Friday, 2 May 2014
Belajar dari orang luar biasa
Ada momen mengesankan yang saya dapatkan ketika sedang mendapat tugas ke Tasikmalaya. Bukan berkaitan dengan penugasan selama disana. Saya menginap di hotel yang berjarak sekitar 100an meter dari masjid agung kota Tasikmalaya. Ketika sayup-sayup adzan shubuh berkumandang, saya bergegas keluar kamar menuju masjid. Di dalam lift saya berpapasan dengan seorang laki-laki, yang dari pakaiannya menunjukkan bahwa beliau akan ke masjid. Tidak seperti saya yang berpakaian 'seadanya', Bapak berbadan tegap ini berpakaian 'lengkap': baju koko, kopiah hitam, sarung dan tasbih di tangan. Dari pertama kali berpapasan, rasa malu sudah menyelimuti, malu karena berpakaian seadanya untuk menghadap Yang Maha Kuasa.
Orang tersebut-lah yang pertama kali menegur saya, dengan suaranya yang bersahaja. "Mau ke masjid de'?". "eh, iya pak" jawab saya agak gugup, tidak menyangka akan ditegur lebih dahulu. "Ayo sama-sama dengan saya." ajak beliau sambil kemudian menuju ke area tempat mobilnya di parkir. Dari perjalanan ke masjid yang hanya sebentar, terjadilah dialog singkat mengenai asal dan kegiatan masing-masing di Tasikmalaya.
Ternyata beliau berasal dari Mabes TNI AU yang saat ini sedang mengadakan kegiatan di lanud Tasikmalaya. "Pantas saja kemarin ketika datang, di hotel banyak orang berpakaian seragam TNI AU di depan dan dalam lobi," gumam saya dalam hati. Setelah selesai shalat dan dzikir di masjid, kami kembali pulang bersama. Saya mengira-ngira, orang ini pastilah bukan prajurit TNI biasa. Orang yang rajin jamaah shubuh ke masjid pastilah orang hebat, apalagi seorang prajurit TNI AU.
Benar saja....selain punya kegiatan di lanud, beliau juga diminta mengisi kajian dakwah di radio dan tablig akbar di masjid agung. Rasa malu kembali menghampiri...saya melirik sebuah buku tebal di dekat kursi yang saya duduki. Sama sekali saya tidak mengerti buku itu karena judulnya tertulis dalam bahasa arab!!! Dengan tutur kata yang lembut, tanpa ada sedikitpun kesan ingin menyombongkan diri, beliau menceritakan sekilas pendidikan beliau dari Akabri hingga lulus S3 di UIN.
Beliau jugalah, yang ketika hendak berpisah di lift, yang berinisiatif bertukar nomor handphone dan mengundang ke acara tablig akbar di masjid agung. Karena ada agenda kerja, dengan berat hati saya sampaikan tidak bisa memenuhi undangannya. Di akhir ketika mencatat nomor beliau, saya bertanya, "mohon maaf pak, siapa nama bapak?" "Kemalsyah" jawab beliau sebelum kita berpisah di lift.
Lalu saya tanya ke mbah google, siapa gerangan beliau sebenarnya. Dengan mengetik kata kunci 'Kemalsyah, TNI AU" keluarlah dari mesin pencari pintar tersebut informasi: Ustadz Kolonel Sus TNI AU DR. H.M. Kemalsyah, M.Ag. Dengan mudah dapat dibaca kiprah beliau di dunia militer yang diiringi dengan kontribusi nyata di dunia dakwah. Hari itu saya langsung ngetwit: "Bersama dgn seorang alim dr mabes TNI AU ke masjid agung tasikmalaya. Smg Allah karuniakan pejabat militer yg jg @PejuangSubuh seperti beliau", yang tidak lama kemudian di retweet oleh @TNIOnline. Ya, semoga saja.
Orang tersebut-lah yang pertama kali menegur saya, dengan suaranya yang bersahaja. "Mau ke masjid de'?". "eh, iya pak" jawab saya agak gugup, tidak menyangka akan ditegur lebih dahulu. "Ayo sama-sama dengan saya." ajak beliau sambil kemudian menuju ke area tempat mobilnya di parkir. Dari perjalanan ke masjid yang hanya sebentar, terjadilah dialog singkat mengenai asal dan kegiatan masing-masing di Tasikmalaya.
Ternyata beliau berasal dari Mabes TNI AU yang saat ini sedang mengadakan kegiatan di lanud Tasikmalaya. "Pantas saja kemarin ketika datang, di hotel banyak orang berpakaian seragam TNI AU di depan dan dalam lobi," gumam saya dalam hati. Setelah selesai shalat dan dzikir di masjid, kami kembali pulang bersama. Saya mengira-ngira, orang ini pastilah bukan prajurit TNI biasa. Orang yang rajin jamaah shubuh ke masjid pastilah orang hebat, apalagi seorang prajurit TNI AU.
Benar saja....selain punya kegiatan di lanud, beliau juga diminta mengisi kajian dakwah di radio dan tablig akbar di masjid agung. Rasa malu kembali menghampiri...saya melirik sebuah buku tebal di dekat kursi yang saya duduki. Sama sekali saya tidak mengerti buku itu karena judulnya tertulis dalam bahasa arab!!! Dengan tutur kata yang lembut, tanpa ada sedikitpun kesan ingin menyombongkan diri, beliau menceritakan sekilas pendidikan beliau dari Akabri hingga lulus S3 di UIN.
Beliau jugalah, yang ketika hendak berpisah di lift, yang berinisiatif bertukar nomor handphone dan mengundang ke acara tablig akbar di masjid agung. Karena ada agenda kerja, dengan berat hati saya sampaikan tidak bisa memenuhi undangannya. Di akhir ketika mencatat nomor beliau, saya bertanya, "mohon maaf pak, siapa nama bapak?" "Kemalsyah" jawab beliau sebelum kita berpisah di lift.
Lalu saya tanya ke mbah google, siapa gerangan beliau sebenarnya. Dengan mengetik kata kunci 'Kemalsyah, TNI AU" keluarlah dari mesin pencari pintar tersebut informasi: Ustadz Kolonel Sus TNI AU DR. H.M. Kemalsyah, M.Ag. Dengan mudah dapat dibaca kiprah beliau di dunia militer yang diiringi dengan kontribusi nyata di dunia dakwah. Hari itu saya langsung ngetwit: "Bersama dgn seorang alim dr mabes TNI AU ke masjid agung tasikmalaya. Smg Allah karuniakan pejabat militer yg jg @PejuangSubuh seperti beliau", yang tidak lama kemudian di retweet oleh @TNIOnline. Ya, semoga saja.
Monday, 21 April 2014
Sekolah ke luar negeri (2)
Ini
merupakan lanjutan tulisan sebelumnya disini.
Ada buku bisnis yang bagus berjudul “The Power of Kepepet” karya seorang
pengusaha muda yang sukses bernama Jaya Setiabudi. Sesuai judulnya, buku itu memberikan banyak
tips dan kisah sukses dari penulis dan orang lain yang bangkit dari
keterpurukan bisnisnya dengan melakukan hal-hal yang tidak terduga dan
cenderung nekat. Pesannya, kebanyakan orang cenderung lebih
keras berusaha dan mengeluarkan kemampuan terbaik hingga titik tertinggi ketika
sedang kepepet (terdesak). Itulah yang juga terjadi dengan saya.
Di atas
kertas, tanpa kemampuan akademik dan finansial memadai sulit bertahan hidup di
negeri orang untuk sekolah. Bila tidak punya
kekuatan finansial, kemampuan akademik dan bahasa diperlukan untuk mencari
beasiswa. Tapi kalau keduanya tidak
punya? Setidaknya saya masih bisa berdoa…dan tanpa sadar menjalani teori the power of kekepet.
Ada
beberapa langkah yang saya lakukan. Pertama,
meminimkan pengeluaran. Biaya hidup seperti
makan, bayar sewa rumah, listrik, air dan gas itu lumayan besar. Jadi semua komponen tersebut harus di
hemat. Alhamdulillah, meskipun hidup
hemat selama tiga tahun di Jepang saya tidak pernah ke rumah sakit untuk berobat.
Bahkan disaat banyak orang harus menggunakan masker dan tidak bisa
beraktifitas ketika masuk musim dingin karena terserang flu atau demam, saya
tetap dalam keadaan bugar.
Ketika Prof
saya bertanya apa rahasianya, saya jawab, banyak minum air putih, makan jeruk
dan puasa. Sejak lama saya terbiasa
mengkonsumsi air minum minimal 2 liter sehari yang dimulai sejak bangun tidur,
jeruk yang banyak mengandung vitamin C diperlukan untuk memperkuat pertahanan
tubuh sedangkan manfaat puasa untuk kesehatan? Sudah banyak yang mengulas. Kebiasaan itu tidak perlu biaya besar. Puasa jelas mengurangi makan, air minum mudah
diperoleh secara gratis (bisa baca di link ini), harga jeruk di musim dingin
juga lebih murah dibanding musim lainnya.
Kata Prof saya, dari ketiga tips itu hanya makan jeruk yang bisa
dilakukan. Puasa jelas tidak mungkin, minum air putih juga susah karena orang
Jepang terbiasa minum teh dan kopi.
Langkah
berikutnya adalah mencari beasiswa untuk biaya hidup maupun bayar SPP yang
jumlahnya hamper Rp 30 juta per semester.
Saya baru tahu kalau ternyata tersedia banyak sekali beasiswa. Rajin-rajin saja berkunjung ke international
student center baik secara langsung maupun ke websitenya. Dan yang saya lakukan tidak hanya website di
universitas Nagasaki, tapi juga universitas lain di Jepang dan websitenya
JASSO. Kebiasaan ini sangat berguna untuk
mendapatkan informasi peluang besiswa yang informasinya tidak sampai ke Nagasaki. Dengan akses internet yang mudah, informasi
bisa didapatkan dari berbagai sumber.
Luangkan waktu menjelajah di internet.
Tetapi, hal
yang saya kuatirkan terjadi. Tidak ada
satupun beasiswa yang saya ajukan diterima. Gagalnya bisa di tahap wawancara
yang harus menggunakan bahasa Jepang, ataupun langsung tidak lolos di tahap seleksi
administrasi. Situasi makin runyam
tatkala ada informasi bahwa universitas akan mengurangi bantuan SPP bagi
mahasiswa asing. Di tengah kondisi yang
galau, saya nekat tanya-tanya mulai ke Prof saya hingga ke pejabat-pejabat di fakultas.
Tetapi saya mendapat jawaban tidak memuaskan dan kurang membantu mencari
solusi untuk mendapatkan beasiswa. Di
kemudian hari saya baru menyadari bahwa untuk mendapatkan beasiswa, faktor penting
di awal adalah kekuatan lobi dari Prof.
Bila Prof kita cukup senior dan mempunyai pengaruh di unversitas,
peluang lolos dan mendapatkan beasiswa cukup besar meskipun kita tidak punya
kemampuan bahasa Jepang. Sayangnya, saya mempunyai Prof yang masih muda dan
tidak punya pengaruh bahkan di level fakultas!!!
Ada saran
dari mahasiswa asing lain yang senasib.
Cari part time job!!! Dalam kondisi normal, sepertinya itu pekerjaan
sia-sia. Kenapa? Karena dibutuhkan
kemampuan bahasa Jepang (ya iyalah, namanya juga kerja kan harus ngomong…). Tapi tetap saja saya melakukannya. Saya mencari informasi dari berbagai sumber,
mulai koneksi teman-teman Indonesia, mahasiswa asing khususnya dari China, dari
majalah (yang ini minta tolong bacain sama orang Jepang) hingga mendatangi part
time job center milik pemerintah dan swasta.
Dapat kerjanya? Tidak. Alasan utamanya, kemampuan bahasa Jepangnya
kurang memadai. Lengkaplah, sepertinya
tertutup semua peluang untuk mendapat penghasilan.
Resolusi 2013 yang selalu saya doakan antara lain, ingin mendatangkan istri dan anak-anak kembali ke Nagasaki sebelum Maret, mendapat beasiswa atau part time job, mengadakan acara besar di Nagasaki (dalam kapasitas sebagai ketua PPI Nagasaki), jalan-jalan ke Tokyo dan beberapa hal lainnya. Dengan kondisi saat itu, semua resolusi jelas terasa mustahil tapi tetap saja saya meminta istri, anak dan orang tua mendoakannya.
Kenekatan pertama adalah mendatangkan istri dan anak-anak di pertengahan Februari, masih tanpa adanya beasiswa dan part time job. Tidak terbayang bagaimana biaya hidup, hanya keyakinan bahwa tidak baik suami istri terpisah lebih dari empat bulan dan Allah pasti memberikan rejeki kepada setiap makhluk-Nya. Secara matematis, kehidupan akan lebih sulit dengan bertambahnya anggota keluarga yang harus dinafkahi. Tetapi perhitungan manusia jelas berbeda dengan kasih sayang-Nya.
Tepat di hari kedatangan mereka di Nagasaki, saya mendapat part time job di sebuah supermarket, setelah sebelumnya kerja tidak menentu di perusahaan pengiriman barang. Allah benar-benar tidak membiarkan istri dan anak-anak kesulitan karena gajinya cukup untuk biaya hidup meskipun tidak untuk membayar SPP. Kemudian datang lagi kabar kehamilan istri. Lagi-lagi, secara matematis itu akan membebani karena setiap bulan wajib kontrol ke dokter dan biaya persalinanpun katanya cukup mahal. Masih tergambar jelas, diakhir Mei ketika dokter di rumah sakit memastikan kehamilannya, sore hari ada telepon yang sangat tidak terduga. Saya mendapat beasiswa!!!
Setengah tidak percaya, saya segera ke international student centre. Sepanjang perjalanan pikiran berkecamuk? bagaimana mungkin? saya kan gak bisa bahasa Jepang; Prof saya kan tidak punya lobi yang kuat, pengumuman beasiswa kan biasanya maksimal akhir April, dsb, dsb. Namun demikianlah bila Allah telah berkehendak. Saya mendapat beasiswa Hashiya, beasiswa yang disediakan oleh perusahaan makanan di Tokyo yang hanya diperuntukkan untuk mahasiswa Indonesia sehingga tidak perlu persaingan antar Prof karena hanya saya satu-satunya mahasiswa Indonesia di nagasaki yang belum mempunyai beasiswa. Luar biasanya, tidak diperlukan wawancara, jadi tidak masalah meskipun kemampuan bahasa jepang kurang memadai. Dan yang membuat saya tambah bersujud syukur, setiap peserta wajib datang ke Tokyo untuk menghadiri pertemuan dengan sesama penerima beasiswa. Beberapa resolusi 2013 langsung tercapai!!!.
Hari-hari berikutnya saya lalui seperti mahasiswa asing yang 'normal'. Saya memilih untuk tidak melanjutkan part time job karena waktu bermain dengan anak-anak jauh lebih menarik. Setelah itu saya bersama teman-teman pun bisa mengadakan acara Inspirasi Muda Mulia, acara besar pertama di Nagasaki yang dihadiri sekitar 60 orang, hampir seluruh WNI di Nagasaki (link beritanya di sini). Subhanallah, hampir semua resolusi 2013 tercapai. Allah sebaik-baik pemberi janji.
So, buat yang masih mempunyai cita-cita melanjutkan sekolah ke luar negeri, jangan dulu dipadamkan keinginan itu karena adanya rintangan-rintangan. Buat yang sudah mempunyai modal akademik, bahasa, atau bahkan beasiswa, juga jangan terlalu jumawa. Masih banyak tantangan yang harus di hadapi ke depan. Ketika sudah tiba di negara tujuan, perbanyak silaturahmi dengan sesama WNI, dengan saudara-saudara muslim dan mahasiswa asing lain serta selalu pelihara hubungan baik dengan Prof dan teman-teman di lab. Bagi yang sudah berkeluarga, jangan sekali-kali berencana untuk tidak membawa keluarga ikut serta. Keluarga bukanlah pengganggu belajar, mereka adalah sumber semangat, motivasi, keceriaan dan rejeki.
Monday, 7 April 2014
Amanah baru yang tiba-tiba
Tanggal 1 April menjadi hari pertama kembali bekerja setelah tiga tahun berpetualang di luar kantor. Esoknya langsung diajak mengikuti rapat. Masih agak canggung kembali mengunjungi hotel dan membahas dokumen. Saya bukanlah seorang adapter yang baik, tapi ini harus secepatnya dilakukan.
Tanggal 3 April. Sore hari sebelum pulang ada telepon yang sangat mengejutkan. Ada acara pelantikan besok, dan saya termasuk yang diundang. Pesan yang sangat jelas, pindah tempat. Tugas baru, amanah baru. Rasanya meja baru selesai dirapikan, bahkan belum semua laci sempat dibuka.
Akhirnya, kita memang harus selalu siap menghadapi sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Sebagai manusia dengan keterbatasan pengetahuan dan akal, kita tidak pernah tahu mana yang pada akhirnya merupakan hasil terbaik. Tugas kita hanyalah melakukan usaha dan doa yang terbaik dengan menyerahkan seluruh hasil kepada-Nya. Allah, Zat Yang Maha Bijaksana, tidak menilai hasil akhir tetapi proses untuk mendapatkan hasil tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)

