Pages

Monday, 11 August 2014

Kebiasaan

Ada banyak cerita menarik dari seseorang yang pulang dari tanah suci, apalagi umrah di hari-hari terakhir Ramadhan.  Siapaun akan merindukan mengucapkan doa saat malam lailatul qadr dan di tempat terbaik melaksanakan ibadah (masjidil haram).  Menurut cerita, di sepuluh malam terkahir Ramadhan tidak ada yang melewatkan dengan tidur. Tarawih satu juz dimulai pukul 21.00an dan berakhir hingga sekitar pukul 24.00 .  Selepas istirahat hampir satu jam, lanjut shalat tahajud hingga pukul 3.00, lalu sahur dan shalat shubuh.  Tidur dilakukan setelah shalat dhuha sampai menjelang shalat dzuhur, yang paling banyak 2 jam.

Sesampai di tanah air, kebiasaan tidak tidur semalam masih terbawa.  Begitulah, sesuatu yang awalnya terasa berat, ketika dilakukan secara rutin bisa menjadi sesuatu yang biasa saja.  Orang yang terbiasa puasa senin-kamis akan menyambut ramadhan dengan lebih bergembira dibanding yang tidak biasa; yang punya kebiasaan shalat berjamaah akan merasa berat ketika meninggalkannya; yang sudah rutin mengalokasikan hartanya untuk zakat, infaq dan shadaqah tidak akan merasa berat mengeluarkan berapapun besarnya. 

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang bersama dua bidadari kecil yang saat itu berusia 4 dan 1.5 tahun, saya tidak terbayang bagaimana keduanya akan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dengan perbedaan bahasa.  Tetapi setelah 6 bulan ditempatkan di  hoikuen (daycare), mereka bisa akrab dengan teman-temanya karena setiap hari dibiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa disana.

Demikian pula yang mempunyai kebiasaan buruk, sulit sekali melepaskannya.  Saya pernah mempunyai asisten rumah tangga yang ternyata suka mengambil barang milik orang lain tanpa ijin.  Ketika kami ajak ke rumah orang tua, banyak barang-barang 'nganggur' seperti HP, uang di saku dan di celengan, dll diambilnya dengan alasan yang aneh 'nemu'.  Hebatnya, selama seminggu melakukan aksinya tidak ada satupun orang yang memergokinya.

Orang-orang hebat, baik dalam hal baik atau buruk, umumnya bisa melakukan aktifitas tersebut setelah melakukannya berkali-kali atau menjadikan aktifitas tersebut sebagai kebiasaannya.  Istilah yang sering digunakan adalah tergantung 'jam terbang'.  Kebiasaan baik perlu dilakukan sejak masih muda, sehat dan kuat, agar ketika fisik sudah melemah dan tidak mampu lagi melakukannya, berniat melakukannya saja akan dihitung sebagai pahala.  Atau jikapun tiba-tiba umur didunia sudah berakhir, nyawa kita diambil ketika sedang melakukan kebiasaan baik. Sayang sekali jika sewaktu muda, sehat dan kuat malah digunakan untuk melakukan kebiasaan yang buruk.  Wallahualam

Monday, 4 August 2014

Mudik

Salah satu ciri khas berlebaran di Indonesia adalah ritual mudik atau pulang kampung yang tujuan mulianya adalah untuk bersilaturahim dengan orang tua, keluarga dan/atau kerabat.  Tahun ini, lebaran pertama setelah tiga tahun tidak berlebaran bersama keluarga besar, saya sekeluarga mudik ke Muara Dua, yang termasuk dalam kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, propinsi Sumatera Selatan.  Perjalanan normal dari Bogor dengan membawa kendaraan sendiri ditempuh dalam waktu minimal 16 jam.

Dengan perjalanan yang sedemikan panjang dan melelahkan itu, tentu saja butuh persiapan matang apalagi membawa tiga bidadari kecil.  Mulai dari 'mendandani' mobil, perbekalan selama diperjalanan, oleh-oleh, dan yang pasti uang yang cukup.  Saya berada di Muara Dua hingga Sabtu sedangkan istri dan anak-anak masih tetap tinggal hingga cutinya selesai.

Perjalanan kembali ke Bogor Sabtu kemarin benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.  Bagaimana tidak, berangkat dari rumah pukul 8.30, bus berangkat pukul 12.00 siang dan berhasil tiba di pelabuhan Bakaheuni sekitar pukul 1.00 dinihari, namun antrian panjang masuk kapal yang dilansir detik.com hingga mencapai 5 km menyebabkan bus yang saya tumpangi baru bisa masuk kapal sekitar pukul 11.10.  Lebih dari 10 jam antri di pelabuhan.  Baru pukul 18.30 saya berhasil tiba di rumah dengan selamat, yang berarti total perjalanan dari rumah ke rumah sekitar 35 jam.

Sepanjang perjalanan saya teringat bahwa pada hakekatnya kita semua juga akan 'mudik'.  Tempat tinggal pertama Nabi Adam ketika diciptakan oleh Allah adalah di surga, sehingga wajar bila ada yang mengatakan surga sesungguhnya adalah 'kampung halaman' kita.  Bila mudik lebaran kita bisa memperkirakan jarak tempuh kampung halaman, 'mudik ke surga' ini tidak dapat dipastikan jauh perjalanannya.

Kita hanya tahu bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian dan setelah masuk ke alam kubur semua akan menanti dibangkitkan di hari akhir untuk mempertangguungjawabkan perbuatannya sebelum ada keputusan apakah kita akan kembali ke 'kampung halaman' di surga atau justru ke neraka.  Hidup di dunia ini merupakan persiapan untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung halaman.  Bila untuk perjalanan selama 16 jam atau 35 jam saja persiapan yang dibutuhkan sangat detil, apalagi perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.

Kesempatan mengumpulkan bekal hanya ketika di dunia karena setelah di alam kubur hanya tiga hal yang menemani, doa anak yang shaleh/shalehah, ilmu yang bermanfaat dan amal yang ketiganya harus disiapkan di dunia.  Seberapa banyak harta yang dimiliki di dunia, harta terakhir yang dibawa adalah kain kafan, semewah apapun kendaraan yang dimiliki di dunia, kendaraan terakhir yang digunakan adalah keranda dan seberapa luaspun rumah didunia, tempat tinggal terakhir hanyalah kuburan seluas 1x2 meter.

Tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan dirinya akan meninggalkan dunia.  Maut tidak mengenal tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, pria-wanita, pejabat-rakyat jelata, semua pasti mengalami kematian. Tidak ada yang bisa merasa umur masih panjang hanya karena masih berusia muda atau masih sehat, segar bugar, punya uang banyak untuk berobat, dsb.

Ketika saya antri di pelabuhan selama lebih dari 10 jam, perasaan bosan, jengkel dan lelah fisik begitu menyiksa.  Pikiran ini mengembara ke suatu masa ketika nanti menghadapi antrian di padang mahsyar yang tidak bisa diperkirakan waktunya, menunggu giliran di hisab yang dikabarkan pada saat itu matahari berjarak sangat dekat dengan ubun-ubun kepala sehingga ada yang tenggelam di keringatnya sendiri.  Hidup di dunia yang sebentar ini benar-benar akan menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya di alam kubur, hari kebangkitan dan alam akhirat.
Wallahualam.

Tuesday, 29 July 2014

Rembulan di langit hatiku: A tribute...

Suatu malam di hari kedua tahun baru 2013.  Seperti biasa, tempat terbaik adalah tetap di laboratorium (lab), bukan karena hobi eksperimen tapi salah satu strategi penghematan biaya listrik, air, dan gas, apalagi di musim dingin yang semakin menggigit.  Strategi ini juga memungkinkan tidak perlu menggunakan smartphone atau koneksi internet di apato (apartment) karena wifi sangat kencang di kampus.  Tidak disangsikan lagi, lab adalah tempat tinggal terfavorit, sudah ada ijin dari Sensei buat mahasiswa bahkan bila setiap hari ingin menginap. Hari ini masih suasana libur tahun baru, salah satu momen sakral buat masyarakat Jepang, sehingga liburnya tidak cukup hanya tanggal 1 Januari.

Malam ini, seperti juga malam-malam sebelumnya, chatting, free call, free video call via YM, atau skype  (tergantung kekuatan jaringan di Bogor) dilakukan bukan hanya untuk melepas rindu, tapi juga menguatkan hati.  Di seberang sana, kali ini dirimu memberi kabar baik dan kabar kurang baik.  Kabar baiknya, anak-anak dalam keadaan sehat dan tetap kangen abinya.  Alhamdulillah. Kabar kurang baiknya, tidak ada ijin dari atasan untuk kembali lagi ke Nagasaki.  Alasannya cukup jelas dan masuk akal, "bagaimana kamu dan anak-anak akan hidup di sana, sementara suamimu tidak punya beasiswa? membiayai dirinya sendiri saja belum tentu bisa apalagi kalau ditambah keluarga?" demikian ucap atasanmu.

Meskipun tidak terlihat, aku tahu ada air mata yang tidak terbendung.  Hari-hari terakhir ini perasaan putus asa memang sudah ada diambang pintu.  Seorang teman mengatakan, istilah dalam bahasa Jepangnya 'yaruki ga arimasen' atau 'yaruki ga nai'.  Kalau orang Jepang sudah mengucapkan kalimat itu, berarti menunjukkan dia sudah tidak ada motivasi atau semangat lagi.  Kata-kata itu sudah sempat diucapkan ke Sensei, hingga beliau sangat terkejut.  Bagaimana lagi, saat dirimu selesai Master akhir September 2012, itu berarti tidak ada lagi sumber beasiswa.  Tapi keputusan sudah dibuat, sekolah harus tetap dilanjutkan mesku saat ini belum ada financial support, sementara dirimu dan anak-anak pulang ke Indonesia.

Usaha bukannya tidak dilakukan.  Entah sudah berapa kali aplikasi beasiswa dan lamaran kerja part time diajukan, tapi tidak ada yang diterima.  "Wajar aja, dengan kemampuan akademik yang pas-pasan, bahasa Inggris gak karuan dan kemampuan bahasa Jepang awut-awutan, mana mungkin bisa dapat beasiswa atau part time di sini?" pikiran itu selalu saja menghantui.  Hampir semua orang yang mengetahui berkata, "nekat amat sih tetep keukeuh ngambil S2 dengan kondisi kayak begitu".

Tetapi kata-kata dari dirimu ini telah membuat motivasi terus tegak, meski tidak bisa dikatakan kuat.

"Apapun yang akan terjadi, ummi dan anak-anak akan tetap datang ke Nagasaki sebelum Maret.  Dulu Abi sudah memenuhi janji membawa anak-anak ke Nagasaki, sekarang Ummi akan menetapi janji membawa mereka sebelum berpisah dengan Abi-nya lebih dari 5 bulan."  dirimu berkata sambil agak terisak.

"Lalu bagaimana dengan hidup di sini? bayaran kuliah sekitar Rp 30 juta per semester, biaya hidup sekeluarga yang paling minimal Rp 12 juta per bulan" akupun mulai sangsi.

"Bukan Abi yang ngasih rejeki ke ummi dan anak-anak. Setiap orang akan diberikan dan sudah punya rejeki masing-masing. Buat apa kuatir?  Kita masih punya Allah. Menuntut ilmu kan ibadah, buat apa kuatir? Kalau memang Allah mentakdirkan abi tidak bisa selesai S2, kita pulang sama-sama dari Nagasaki.  Tidak perlu malu, sampai kapanpun ummi dan anak-anak akan tetap bangga sama abi.  Kalau orang kantor gak ijinin, ya udah ummi aka ambil cuti diluar tanggungan negara aja. Buat apa kuatir? Ummi bisa bantu abi dengan ikut kerja part time disana, jadi apapun termasuk jadi cleaning service seperti yang pernah dilakukan teman dari Kenya" kata-kata itu keluar bersamaan dengan air mata.

Iya, buat apa kuatir. Allah tidak akan pernah memberikan beban diluar kesanggupan manusia.  Artinya, cobaan saat ini masih dalam batas kemampuan, jangan terus-terusan mengeluh dan malas berusaha, apalagi putus asa berdoa.  Teorinya sih begitu.  Tapi tetap saja, rasa kuatir kadang-kadang berhasil menjebol pertahanan.

Hari itu pun tiba.  Tanggal 16 Feb 2013, dirimu dan anak-anak mendarat di Kansai International Airport, Osaka.  Sengaja bukan di Fukuoka atau langsung ke Nagasaki. "Bukan untuk pemborosan.  Kebetulan dapat tiket promo Malaysia Airlines dari Jakarta, yang kalau ditotal tetap lebih murah turun dan menginap di Osaka, ditambah liburan sama-sama ke Universal Studio"

Hari itu, dirimu menetapi janji untuk membawa anak-anak tidak berpisah lebih dari 5 bulan dengan abinya.  Rasa rindu tidak bertemu dua bidadari kecil langsung terobati begitu mereka berebutan memeluk dengan erat.  Tetapi, persoalan dan tantangan besar telah menanti.  Bagaimana nanti kelanjutan hidup kita di sini? "Ya Allah, jangan biarkan istri dan anak-anak kelaparan" bisikku dalam doa.  "Ya Allah, jangan biarkan kami terjerat hutang" begitu salah satu isi doamu.

Bukti kekuasaan Allah secara perlahan benar-benar hadir menyapa kami sekeluarga.  Sebelum sampai di Nagasaki, seorang petugas di supermarket besar mengabarkan kalau aku diterima kerja part time dan bisa mulai kerja tanggal 18 Feb.  Subhanallah, meskipun tetap tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidup, tetapi bisa menggantikan kerja part time di perusahaan ekspedisi yang tidak menentu saat ini. Alhamdulillah. Setelah dihitung penghasilan yang akan didapat, kira-kira itu hanya cukup untuk biaya makan sekeluarga.

"Allah langsung mengabulkan doaku untuk tidak membiarkan ummi dan anak-anak kelaparan" secercah harapan dan rasa optimis mulai timbul.  Bukankan Allah berjanji akan bersama orang-orang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong?

Ketika dirimu mengatakan ingin program punya anak, perasaan kuatir langsung menggoda dengan sangat kuat.  Dengan anak yang ada sekarang saja, kita masih kesulitan bagaimana kalau menambah anak?

Tetapi kekuatiran itu berubah menjadi keyakinan ketika keesokannya Sensei menawarkan dirimu untuk kerja part time di lab membantu penelitiannya.  Tentu saja ini adalah kerja part time terbaik untuk seorang lulusan S2 Jepang daripada menjadi cleaning service atau kerja di supermarket atau yang lainnya.  "Yakin saja bahwa setiap anak punya rejeki dari Yang Maha Pemberi" dirimu selalu menguatkan untuk mengurangi kekuatiran.

Ketika beberapa waktu kemudian dirimu mengatakan dari hasil tes urine sepertinya telah positif mengandung anak yang ketiga, perasaan senang tumpah ruah di apartmen kami.  Anak-anak sudah heboh menyambut adik baru.  Tapi, di Jepang yang berhak mengatakan positif hamil adalah seorang dokter, sehingga harus dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit.  Bila benar positif, harus mendaftarkan kehamilannya ke kantor walikota dan harus melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit.  Sudah terbayang biaya yang harus dikeluarkan untuk periksa rutin dan informasi bahwa biaya melahirkan sekitar Rp 50 juta.  hmmm......

Seperti tidak ingin membiarkan rasa kuatir ini kembali muncul, keesokan harinya petugas dari international student center mengabarkan bahwa aku berhasil mendapat beasiswa Hashiya untuk biaya hidup.  Sujud syukur.  Ini adalah kesempatan terakhir karena setelah ini tidak mungkin lagi mengajukan beasiswa.  Sekali lagi Allah menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas.

Kemudian, saat dokter mengatakan bahwa dirimu benar positif mengandung anak ketiga, Allah kembali menghamparkan rejeki-Nya.  Teman-teman di lab memberikan ucapan selamat via grup di Line bahwa semester tiga ini aku bebas biaya SPP.  Demikian pula ketika Aisyah lahir tanggal 20 Desember, selain ucapan selamat atas kelahiran putri ketiga kami, teman-teman memberikan kabar yang sama bahwa semester empat aku juga bebas biaya SPP.  Doa-doa yang keluar dari lisan dirimu terkabul.  Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan S2 tanpa harus berhutang.

Detail perjalanan hidup itu masih membekas. Semua menjadi lebih mudah ketika dirimu ada disampingku.  Kebahagiaan menyapa saat kita yakin kepada Yang Maha Kuasa.  Keyakinan takkan terusik bila kita mendekat kepada Sang Khalik.

Hari ini, 29 Juli 2014, tepat sembilan tahun akad terucap di hadapan orang tuamu.  Semoga dirimu akan selalu menjadi rembulan di langit hatiku.

Rembulan di langit hatiku
menyalalah engkau selalu
temani kemana meskiku pergi menempuh tempat kita tuju

Doakanlah ku di shalat malammu
pelita perjalananku
Doakanlah ku di shalat malammu
rembulan di langit hatiku

(seismic)

Thursday, 24 July 2014

Sebelum mulai shalat

Biasanya seorang imam akan meminta makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf atau kadang-kadang juga meminta yang membawa alat komunikasi agar dinonaktifkan atau disilent, sesaat sebelum mulai shalat.  Tetapi ada yang beda saat shalat dzuhur kemarin.  Selain mengatakan hal tersebut, imam juga berpesan kepada makmum untuk melakukan tiga hal berikut.

Pertama, ingatlah bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang kita lakukan. Karena itu shalatlah dengan benar, jangan melakukan gerakan yang pada akhirnya memalingkan kekhusyu'an.  Apapun yang kita lakukan, Allah sedang menatap setiap gerakan kita.

Kedua, ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar apa saja yang kita ucapkan.  Karena itu bacalah setiap bacaan shalat atau ayat quran dengan tartil, tidak terburu-buru, yang justru akan mengubah arti bacaan itu.  Apapun yang kita ucapkan, Allah mendengar.

Ketiga, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui, termasuk apa yang ada dalam hati kita.  Karena itu hindari memikirkan hal yang macam-macam yang akan menghilangkan konsentrasi shalat yang sedang kita kerjakan.  Apapaun yang kita pikirkan, Allah pasti mengetahuinya.

Sejujurnya, ketiga nasehat itu mak jleb banget. Sangat mengena. Betapa selama ini sering sekali pikiran berkelana kesana kemari, ke alam lain tanpa sadar bahwa saya sedang menghadap Zat Yang Maha Tahu, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang mengetahui keberadaan seekor semut hitam di atas batu yang sangat hitam di malam yang gelap gulita.  Kadang di waktu shubuh, pikiran mengembara ke urusan rumah, anak dan istri, ketika dzuhur memikirkan urusan pekerjaan yang belum selesai, saat ashar sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan saat pulang, shalat maghrib dan isya sibuk memikirkan makanan, bermain dengan anak, dsb.

Ah, ternyata masih sangat banyak yang harus saya perbaiki, padahal shalat lah yang membedakan seseorang itu muslim atau kafir, shalat juga yang pertama ditanya oleh Allah di hari akhir kelak dan shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.  Bila shalat saya masih gak karuan???? mudah-mudahan masih belum terlambat untuk berbenah.

Thursday, 17 July 2014

Berkah Ramadhan

Ramadhan segera memasuki fase terakhir.  Ada yang telah bersiap-siap menyambut lebaran, berkemas untuk pulang kampung atau masih disibukkan dengan undangan berbuka puasa bersama.  Tetapi, tidak sedikit juga yang semakin giat beribadah demi meraih kemuliaan malam lailatul qadr.  Kita termasuk yang mana? silahkan menghisab diri, merenungi perjalanan hidup dan kesempatan meraih pengampunan di bulan suci serta bagaimana kita memanfaatkan setiap detik Ramadhan.

Anyway, setiap orang mungkin punya pengalaman tersendiri selama bulan Ramadhan.  Ini memang bulan yang sangat istimewa, yang Rasulullah gambarkan andai kita tahu keistimewaannya tentu setiap orang akan berharap sepanjang tahun selalu Ramadhan.

Sebelum masuk Ramadhan, saya punya PR besar yang agak kuatir bisa diselesaikan, yaitu mengajarkan putri pertama (Chacha, 7.5 tahun) dan kedua (Fiya, 5 tahun) saya berpuasa.  Maklum, selama tiga tahun di Nagasaki belum pernah sekalipun mereka berpuasa. Bukan apa-apa, lingkungan sangat mempengaruhi mental mereka.  Tahun lalu sebenarnya saya sudah mencoba melatih Chacha berpuasa tetapi di sekolah selalu ada makan siang bersama sehingga dia tidak mau beda dengan teman-temannya karena itu berarti harus menjelaskan.  Sesuatu yang masih sangat sulit dilakukan, entah karena kesulitan bahasa atau faktor lainnya.

Persiapan dilakukan dengan memberi penjelasan tentang puasa, seperti harus bangun sahur sebelum shubuh dan tidak boleh makan dan minum sampai maghrib.  Terus terang, saya tidak yakin apakah mereka akan bisa bangun sahur dan tahan tidak makan minum sampai maghrib.  Hari pertama puasa mereka berdua kompak menangis tidak mau dibangunkan sahur.  Butuh waktu sekitar setengah jam hanya untuk membangunkan dan mendiamkan tangisan mereka.

Hari pertama, kami pergi melawat sahabat baik kami selama di Nagasaki yang meninggal tepat di tanggal 1 Ramadhan di kediamannya di daerah Ciputat.  Tentu saja melakukan perjalanan di saat terik bulan Ramadhan terasa lebih lelah dibanding hari biasa.  Di tengah perjalanan, Fiya sudah menyerah minta minum. Chacha? ketika sampai di rumah, selepas shalat dzuhur dia mulai menangis tidak tahan haus dan lapar.  Karena tidak tega, saya mengijinkannya untuk berbuka.

Sedih juga melihat kenyataan saya belum berhasil mengajarkan anak-anak berpuasa.  Saya adukan kelemahan saya ini kepada Sang Pencipta manusia.  Saya masih bisa memaklumi untuk Fiya karena masih 5 tahun, tetapi Chacha sudah cukup besar, seharusnya sudah kuat berpuasa.  Ketika mengijinkan berbuka, saya hanya bisa berpesan agar besok tetap coba berpuasa.

Hari kedua.  Seperti hari pertama, keduanya masih kompak menangis dibangunkan sahur.  Hmmm, teringat ketika di rumah dulu, saya sering dimarahin Ibu dan Bapak karena sulit sekali dibangunkan sahur. Like father like daughters.  Membangunkan sahur benar-benar menguji kesabaran Umminya.

Ketika sampai di rumah sepulang kerja, hal pertama yang saya ingin tahu adalah mereka sudah buka sejak jam berapakah? Saat parkir motor, Fiya langsung menyambut dengan tawa khasnya sambil teriak, "Abi, Fiya udah buka dari jam 11" hmmmm, lumayan ada kemajuan... Kemana Chacha? koq tumben gak ada suara khasnya menyambut kepulangan abinya. Setelah masuk ke dalam rumah, saya lihat Chacha tergelatak di tikar dengan wajah kuyu, sambil memegang perutnya. "Abi, Chacha belum buka, tapi sekarang perut Chacha sakit, terus lehernya panas.  Mungkin karena lapar sama haus ya".

Saya langsung mendatangi dan menyemangatinya, berusaha ikut merasakan apa yang sedang dia rasakan.  Perhatiannya berusaha saya alihkan dengan apa yang dia suka.  Bercanda, main game kesukaannya, ajak jalan-jalan naik motor, dsb sampai tiba waktu maghrib. Alhamdulillah, Chacha kuat puasa sampai maghrib.  Subhanallah...

Hari ketiga, keempat dan kelima masih ada keluhan perut sakit atau leher panas, tapi tetap kuat berpuasa sampai maghrib.  Ketika mulai masuk sekolah pun sama sekali tidak ada keluhan lagi keluar darinya.  Lingkungan sekolahnya (SD Insantama) telah banyak membantu mengajarkan Chacha tentang puasa dan bagaimana mengisi kegiatan di bulan Ramadhan.  Meskipun masih saja masih saja dihadapkan pada problem membangunkan sahur, saya tetap bersyukur Chacha terbiasa berpuasa. Fiya? biarlah dia masih berfluktuasi jam berbukanya. Kemarin dia laporan buka puasa jam 4 sore, karena gak tahan lihat pisang goreng.....

Mendengar suara tangisanmu, berat rasanya mengganggu tidur lelapmu
tapi akan lebih berat lagi bila engkau tidak dibekali sejak dini
Kelak engkau akan tahu betapa besar kasih sayangku
ketika engkau telah mampu memahami perkataan mulia sang Nabi:
"Sahur adalah berkah, oleh karena itu janganlah kalian meninggalkannya meskipun dengan menelan seteguk air.  Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya memberikan shalawat kepada orang-orang yang makan sahur (HR. Ahmad)"