Salah satu resolusi yang saya tuliskan diakhir tahun 2012 adalah mengadakan kegiatan yang melibatkan orang-orang Indonesia yang ada di Nagasaki. Ini tidak terlepas dari amanah yang telah diberikan teman-teman kepada saya sebagai ketua PPI Nagasaki periode 2012-2013. Ketika menuliskan resolusi ini, belum terlintas bagaimana cara mewujudkanya, bentuk acaranya, siapa yang akan diundang sebagai pembicara, darimana asal dananya, dsb. Apalagi belum pernah ada acara besar sebelumnya yang diselenggarakan PPI Nagasaki.
Bermimpilah menggapai bintang di langit, kalaupun gagal kita akan jatuh diantara awan. Jangan bermimpi setinggi genteng rumah, karena kalau gagal jatuhnya ke comberan he he he. Begitulah, sampai bulan Juni tidak ada aktifitas berarti yang saya lakukan untuk mewujudkan resolusi tersebut. Barulah setelah mendapat kepastian menerima beasiswa Hashiya, seluruh resolusi kembali saya review untuk direalisasikan sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya.
Jalan itu perlahan terbuka ketika Allah menuntun saya berkenalan hanya melalui email dengan orang yang sangat bersahaja, Nur Ahmadi, penanggung jawab Dompet Dhuafa (DD) di Jepang. Setelah beberapa kali berkomunikasi, dan dengan proposal yang dibuat secara kilat (maklum sebelumnya bingung mau desain kegiatan apa), DD menyatakan siap mendukung kegiatan di Nagasaki. Dari beliaulah saya disarankan untuk meminta dukungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Tokyo, yang kemudian tidak hanya bersedia memberikan dukungan finansial, tetapi Bapak Atase, Dr. Iqbal Djawad, juga bersedia hadir sebagai pembicara.
Ketika kesulitan mencari pembicara berkelas dari Indonesia karena waktu yang mepet, dari Nur Ahmadi juga saya dikenalkan dengan seorang trainer muda, Rendy Saputra, yang bersedia memberikan seminar bertema Inspirasi Muda Mulia. Tidak hanya itu, Kang Rendy, sapaan akrabnya, juga bersedia tidak mendapatkan fasilitas apa-apa dari panitia.
Jadilah acara tersebut terealisasi dengan nama Inspirasi Muda Mulia: Berkarya dan Sukses Mulia sejak Muda. Sekitar 60 orang hadir pada acara tersebut, dapat dikatakan telah melibatkan seluruh pelajar, orang Indonesia yang berdomisili di Nagasaki maupun kenshusei (peserta magang di perusahaan Jepang). Meskipun tentu saja selalu ada banyak kekurangan yang terjadi karena kurangnya koordinasi, komunikasi, dsb, tetapi ucapan rasa syukur tak henti terucap. Satu lagi, Allah memberikan jalan untuk merealisasikan resolusi 2013.
(Berita tentang pelaksanaan kegiatan ini juga dimuat di website DD Jepang disini dan live kultwit yang saya tulis untuk acara tersebut disini. Kang Rendy juga menuliskan pengalamannya di website pribadinya disini)
Friday, 20 September 2013
Wednesday, 4 September 2013
Belajar dari mata air
Ada hadist Nabi yang kira-kira isinya menyebutkan bahwa kaum
muslimin berseri kat dalam tiga hal, padang rumput, air dan api. Sepemahaman saya, maksud hadist tersebut adalah
ketiganya merupakan kepemilikan umum yang tidak tidak bisa dimiliki oleh
golongan, apalagi dikuasai pribadi.
Nah, tidak jauh dari apartemen yang saya tempati, tepatnya di
Nishimachi, Nagasaki City, ada sebuah sumber mata air yang berada di
tengah-tengah pemukiman penduduk yang padat.
Mata air ini bebas dinikmati oleh siapapun. Hal yang menarik berdasarkan informasi yang
saya terima dari penduduk sekitar, secara berkala Pemerintah Kota Nagasaki
melakukan pemeriksaan terhadap aspek keamanan dan kesehatan untuk memastikan
air tersebut memang masih layak dikonsumsi secara langsung (tidak perlu di
rebus lagi).
Ketika musim panas tiba, seperti saat ini, air tersebut begitu
menyegarkan bagi siapapun yang meminumnya. Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga,
pernah saya melihat ada yang mengisi hingga berjerigen-jerigen dan diangkut
dengan mobil untuk keperluan rumah makannya.
Saya mencoba merenungi kembali hadist di atas. Sulitkah
menerapkannya? Padang rumput (hutan-hutan), air (sumber air), api
(sumber-sumber energi, barang tambang, dll) bisakah tidak dimiliki oleh
golongan, apalagi pribadi? Bisakah dikuasai Negara dan pemanfaatannya
diperuntukkan bagi kemaslahatan seluruh rakyatnya? Subhanallah, di sini, di
negeri yang agama saja orang-orangnya tidak peduli, ucapan mulia Baginda Nabi
terimplementasi. Bukti sederhana
mudahnya penerapan aturan yang datang dari Sang Pencipta.
Dan dari mata air ini juga saya belajar, kalau tidak bisa
menjadi air hujan yang membasahi dan meyejukkan hati seisi bumi, jadilah mata
air yang keberadaannya dirindukan, sehingga banyak di datangi orang. Hindari menjadi air PAM yang baru datang
ketika diundang dan tidak mau keluar sebelum dibayar. Dan jangan sekali-kali menjadi air comberan
yang isinya segala jenis penyakit dan
kotoran, Jangankan ditelan, baunya saja
tidak enak *dirasakan.
*Keterangan foto. Atas: sumber mata air yang terletak di pemukiman penduduk. Bawah: anak saya sedang memperhatikan orang yang sedang mengambil air
Thursday, 15 August 2013
Festival Obon
Hari ini menyempatkan jalan-jalan keluar rumah bersama keluarga.
Agak terkejut, karena jalanan sangat
ramai. Ternyata hari ini ada festival
obon (bacanya obong). Kira-kira festival
itu merupakan tradisi orang Jepang untuk ‘mengenang’ arwah keluarga mereka yang
telah meninggal. Saat hari obon ini ada
tradisi mudik/pulang kampung ke rumah orang tua. Mirip tradisi mudik lebaran kita kali ya..
Bedanya mudik kita untuk bermaaf-maafan dan bersilarurahmi dengan
orang tua dan kerabat, mudik saat obon selain menjadi sarana berkumpul dengan
seluruh anggota keluarga, juga untuk berdoa bersama untuk arwah. Mereka percaya arwah akan berkunjung ke atau masih
ada di rumah sehingga harus diantar ke alamnya.
Bagaimana cara mengantar arwah? Mereka membuat miniatur kapal
yang dihias dengan sebaik mungkin, lalu dibawa menuju laut sambil diiringi suara
bisingnya petasan. Itulah mengapa di
awal saya tulis jalanan ramai sekali.
Mengapa petasan? Karena petasan diyakini berguna untuk mengusir roh
jahat yang mungkin mengganggu selama perjalanan.
Demikianlah, masyarakat yang sudah dikenal maju secara
teknologi masih mempunyai tradisi seperti ini.
Padahal banyak orang yang ketika disinggung mengenai agama dan
eksistensi Tuhan terkesan tidak peduli.
Bahkan keesaan Tuhan merupakan sesuatu yang sangat tidak logis.
Lalu, tradisi yang baru saya tonton ini jauh lebih tidak
logis lagi? Hmmm, memang penilaian logis dan tidak logis tergantung standar
pemikiran yang dipahami dan digunakan. Tetapi
terlepas dari itu, festival obon ini semakin menunjukkan bahwa manusia adalah
makhluk yang lemah, yang mempunyai naluri dasar mensucikan sesuatu. Ucapan syukur langsung terucap lantaran
hingga saat ini masih, Insha Allah akan terus dan selalu mensucikan dan beriman kepada
Allah Yang Maha Esa.
Iman kepada Allah mengharuskan kita untuk selalu mengikut perintah
dan laranganan-Nya, serta menghamba kepada-Nya menggunakan standar/aturan/hokum
yang hanya berasal dari-Nya. Selain itu,
sepertinya hanya menjadikan manusia kosong jiwanya tanpa visi akhirat dan
hilang kemuliaan hidup di dunia.
Wallahualam.
*Keterangan foto: salah satu miniatur kapal saat festival obon
*Keterangan foto: salah satu miniatur kapal saat festival obon
Wednesday, 31 July 2013
Teladan muslimah dalam berpuasa
Di antara teladan Muslimah dalam hal puasa dan shalat malam
adalah Hafshah binti Umar bin Khattab. Karena sikap yang sangat zuhud, wara'
dan selalu berpuasa, ia mendapatkan julukan 'sawwamah' (orang yang selalu
berpuasa) dan qowwomah (orang yang selalu bangun malam). Hafshah tidak pernah
henti berpuasa dan bangun malam untuk bertemu dengan Rabbnya. Maka, ia selalu
berpuasa, menahan lapar dan dahaga, dan terus bangun malam, meskipun di siang
hari tetap bekerja.
Akhirnya, Rasulullah SAW berkenan menikahinya dan menjadikan dia sebagai 'Ummul Mukminun'. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jibril berkata, wahai Muhammad, rujuklah kepada Hafshah, karena sesungguhnya dia perempuan yang ahli puasa dan ahli ibadah"
Kegigihannya berpuasa tentu tak hanya Ramadhan, tapi puasa sunah. Sampai-sampai diriwayatkan, ia meninggal pun dalam keadaan berpuasa. Nafi Ibnu Umar berkata: Hafshah meninggal sebelum sempat berbuka puasa. Demikian pula tahajud Hafshah, menjadi sebab langgengnya sebagai istri Rasulullah SAW, di dunia dan di akhirat.
(dikutip dari Keutamaan puasa muslimah Komunitas Rindu Syariah & Khilafah)
Akhirnya, Rasulullah SAW berkenan menikahinya dan menjadikan dia sebagai 'Ummul Mukminun'. Sebuah gelar kemuliaan yang disandangnya, dan kelak akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jibril berkata, wahai Muhammad, rujuklah kepada Hafshah, karena sesungguhnya dia perempuan yang ahli puasa dan ahli ibadah"
Kegigihannya berpuasa tentu tak hanya Ramadhan, tapi puasa sunah. Sampai-sampai diriwayatkan, ia meninggal pun dalam keadaan berpuasa. Nafi Ibnu Umar berkata: Hafshah meninggal sebelum sempat berbuka puasa. Demikian pula tahajud Hafshah, menjadi sebab langgengnya sebagai istri Rasulullah SAW, di dunia dan di akhirat.
(dikutip dari Keutamaan puasa muslimah Komunitas Rindu Syariah & Khilafah)
Monday, 3 June 2013
Tidak perlu takutkan larutnya malam
Bulan Mei dan Juni ini merupakan masa-masa puncak ketegangan dan sangat
menentukan dalam perjalanan hidup saya di Jepang. Untuk orang nekat seperti saya yang prestasi akademiknya biasa saja serta minim kemampuan bahasa Inggris, apalagi bahasa
Jepang, memutuskan untuk melanjutkan S2 di jepang benar-benar butuh keberanian
ekstra. Sejak datang ke sini, saya sama
sekali tidak punya beasiswa. Tujuan awal
saya adalah menjadi research student,
itupun alasan terbesarnya adalah untuk membawa anak-anak lebih dekat dengan
ibunya istri yang sedang S2.
Ketika mendaftar S2, sama sekali tidak ada bekal
beasiswa. Dukungan atasan, dosen
pembimbing, dan tentu saja keluarga lah yang membuat saya memberanikan diri
mencebur ke dunia yang terasa asing ini.
Semester pertama dilalui hanya dengan beasiswa SPP. Tapi itu menyelematkan saya, karena untuk
mendapatkan ijin sekolah harus mempunyai beasiswa apapun. Tapi, tentu saja itu tidak cukup, karena
beredar informasi bahwa potongan SPP untuk mahasiswa asing akan semakin dibatasi. Dan benar saja, hanya 50% potongan SPP yang
saya terima.
Bagaimana dengan pengajuan beasiswa? Inilah masalahnya. Ternyata sangat sulit untuk orang yang
pasangannya sudah menerima beasiswa dari pemerintah Jepang (monbukagakusho)
untuk mengajukan beasiswa lainnya. Informasi
ini tidak saya terima dengan akurat sebelumnya.
Jadilah saya diminta menunggu hingga istri saya selesai. Lha, selama menunggu ini, bagaimana caranya
saya hidup disini yang biayanya amat sangat tinggi sekali? Setelah itu pun, berbagai macam beasiswa yang
saya ajukan tidak pernah diterima. Ada
saja alasannya, ketidakmampuan bahasa Jepang, kurangnya prestasi akademik
selama S1, tidak ada kerjasama dengan instansi asal, dll.
Tidak mudah melukiskan kembali apa yang saya alami saat itu. Berbagai pengalaman hidup dan
kejadian-kejadian tidak terduga datang silih berganti. Hingga bulan April lalu ada satu beasiswa
lagi yang coba diajukan. Ini adalah
kesempatan terkahir, pengalaman tahun lalu informasi beasiswa baru ada lagi di
bulan November, itupun untuk penerimaan April 2014. Padahal program S2 saya selesai
Maret. Pengumunan beasiswa disebutkan
sekitar Juni. Itulah mengapa saya
sebutkan bulan ini merupakan saat-saat yang sangat menegangkan.
Istri saya selalu menghibur, Allah tidak akan memberikan
cobaan lebih dari kemampuan hamba-Nya. Kalau pun beasiswa ini tidak diterima, akan
ada rejeki lainnya. Boleh saja saya terlihat
tegar didepan istri dan anak-anak, tetapi tidak di hadapan-Nya. Sampai akhirnya saya mendapat telp dari
International Student Center, yang mengabarkan saya mendapat beasiswa Hashiya, peluang
terakhir beasiswa saya. Beasiswa yang
hanya ditujukan untuk mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang. Subhanallah, Alhamdulillah,
Allahu Akbar.
Subscribe to:
Posts (Atom)

