Pages

Thursday, 13 March 2014

Katei houmon

Bulan Maret adalah akhir dari tahun akademik di Jepang.  Untuk tahun ini, bukan hanya bermakna sebentar lagi libur sekolah, tapi pertanda tidak lama lagi saya dan pasukan akan pulkam setelah tiga tahun di Nagasaki.  Jadi teringat, berbagai pengalaman memasukkan anak ke SD disini.  Ada beberapa program yang menurut saya baik, yang secara konsisten dilaksanakan oleh sekolah.  Diantaranya adalah 'katei houmon'.

Secara bahasa, 'katei houmon' kira-kira berarti kunjungan ke rumah.  Istilah ini saya dapatkan dari suatu program kunjungan seorang guru/wali kelas sekolah di Jepang ke setiap rumah anak muridnya untuk bertemu orang tua mereka.  Ada lagi istilah 'jugyou sankan' yang merupakan kebalikan dari katei houmon karena istilah ini berarti orang tua yang datang ke sekolah untuk melihat proses belajar mengajar di kelas.

Saya akan sharing pengalaman mengenai 'katei houmon' untuk anak pertama saya di kelas 1 SD.  Insya Allah di tulisan berikutnya saya akan berbagi tentang 'jugyou sankan'.   Di awal masuk program kelas 1 SD (bulan April) ada edaran dari sekolah yang meminta jadwal orang tua untuk kunjungan guru ke rumah.  Karena di hari kerja, ada himbauan kedua orang tua dapat meluangkan waktunya untuk menerima kunjungan guru.  Dari cerita yang pernah saya dengar, guru tersebut juga tidak masalah bila hanya diterima di teras tanpa perlu masuk ke dalam rumah seperti seorang tamu yang formal.  Orang Jepang sangat menjaga privasi, begitu informasi yang saya dengar.

Di hari dan jam yang saya usulkan, datanglah ibu guru/wali kelas anak saya ke rumah. Seperti biasa bila berhadapan dengan orang Jepang, amunisi telah saya siapkan. Kamus elektronik!!! maklum bahasa Jepang saya dan istri cuma bisa buat nawar barang di recycle shop. Sebagaimana informasi yang saya dengar, si ibu guru tersebut, setelah bilang terima kasih kepada saya sudah meluangkan waktu, langsung mengatakan pertemuan ini hanya membutuhkan waktu maksimal 10 menit sehingga tidak masalah ngobrolnya di depan pintu saja...

Saya masih agak tidak biasa menerima tamu di teras tanpa mempersilahkan masuk. Apalagi ini seorang guru dan yang akan dibicarakan terkait dengan pendidikan anak.  Karena itu tetap saja beliau saya persilahkan masuk dan siapkan teh di meja (tentu sambil lesehan di tatami), saya bisa mendapat penjelasan yang agak lengkap tentang maksud dan tujuan katei houmon ini.

Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah, tapi ini merupakan tugas utama orang tua.  Karena itu dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan guru demi perkembangan anak.  Dibutuhkan informasi dari orang tua mengenai kebiasaan, kesukaan, kebutuhan khusus anak (bila ada), pantangan tertentu, dsb yang terkait dengan kebutuhannya selama di sekolah yang dimulai dari pukul 08.10-14.40.  Saat itu saya menyampaikan terutama perlunya kesabaran ekstra bagi Ibu guru karena keterbatasan bahasa Jepang anak saya dan ketidakbolehan adanya ingredient haram dalam menu makan siang.

Ada hal yang membuat saya jadi malu, si ibu guru mengatakan bahwa dia siap bila sewaktu-waktu di complain bila ternyata dia tidak bisa mendidik dengan benar. Ada buku komunikasi yang bisa menjadi jembatan antara guru dan orang tua, atau bisa datang langsung ke sekolah bila diperlukan. Tidak terasa, rari rencana pertemuan yang maksimal hanya 10 menit, menjadi obrolan hampir setengah jam. Dan saya mempunyai kesan yang baik terhadap program ini.

Friday, 7 March 2014

Uniknya proses melahirkan di Jepang

Anak ketiga saya, Aisyah Hannani Harjanto lahir di Nagasaki tanggal 20 Desember 2013.  Seperti anak pertama dan kedua, saya mendampingi proses melahirkan mulai dari mengantar istri kontrol hingga menyaksikan persalinan.  Perbedaan di bidang pelayanan dan biaya melahirkan antara Jepang dan Indonesia tidak perlulah dibahas panjang lebar.  Seperti layanan fasilitas umum lainnya, harus diakui kita memang masih kurang maksimal dalam hal memberikan pelayanan kepada konsumen, apalagi kalau dikaitkan dengan dukungan finansial dari pemerintah seperti yang telah saya tulis disini sebelumnya.

Ada beberapa keunikan yang tidak saya temui di Indonesia.  Setelah dokter menyatakan positif hamil, istri saya diharuskan melapor ke city hall (kalau di Indonesia mungkin kantor walikota ya) .  Mereka seperti ingin memastikan kondisi ibu dan anak yang dikandung tetap terjaga.  Si ibu diberikan kupon untuk pemeriksaan rutin di dokter yang dengan kupon itu bayarnya jadi jauh lebih murah.  

Untuk mencegah terjadinya ada ibu hamil yang berdiri di bus/kereta, diberikan semacam badge/tanda yang jelas dapat terlihat dan terbaca orang bahwa orang itu sedang hamil sehingga mendapat prioritas untuk duduk.  Kepekaan penumpang disini bolehlah dicontoh.  Pernah suatu kali istri saya naik bus yang penuh, dan harus berdiri di tengah.  Tiba-tiba ada seorang Bapak yang menegur dengan keras pemuda disebelah istri saya yang sedang duduk agar segera berdiri dan memberikan tempat duduk.  Dengan perasaan malu, pemuda tersebut berdiri sambil berulang kali minta maaf kepada istri saya.

Setelah melahirkan, ibu dan anaknya harus tinggal di rumah sakit minimal 5 hari untuk persalinan normal dan 9 hari untuk persalinan cesar.  Selama tinggal disana dibuatlah program-program untuk ibu merawat bayinya, karena umumnya tidak ada yang punya asisten rumah tangga atau baby sitter disini.  Program yang melibatkan saya adalah memandikan bayi.  Jadi, sebagai bapaknya saya diharuskan menyaksikan dan membantu istri saya memandikan bayi. Hmmm...sejujurnya ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Hal yang paling menarik buat saya adalah saat sedang mengisi formulir yang berkaitan dengan data diri, agak terkejut juga tidak ada kolom 'suami', yang ada adalah 'kepala keluarga'.  Ternyata, kolom itu tidak harus diisi dengan nama suami, bisa nama ayahnya, ibunya, temannya atau siapaun selain dirinya.  Pantas saja ketika beberapa kali istri saya harus periksa rutin ke rumah sakit sendiri, karena kesibukan saya di kampus, perawat maupun dokternya dengan hati-hati bertanya, 'nanti kalau melahirkan apa ada orang yang akan mengantar ke rumah sakit?'  Tentu saja istri saya langsung menjawab, 'iya, suami saya akan mengantar'.  Mereka dengan spontan langsung berkata, 'oooo, ada suaminya ya yokatta ne'.....Tinggal istri saya yang bengong...

*yokatta ne..istilah yang kira-kira merujuk ke arti, aahh leganya, atau ooo untunglah...

Wednesday, 5 March 2014

Banyak anak banyak subsidi

Ada kebiasaan di lab yang hampir tiap hari dilakukan bersama, yaitu makan siang bersama dan nge-teh bareng di sekitar jam 3-4 siang.  Selalu ada saja yang dibicarakan, mulai dari yang serius sampai yang cuma buat guyonan.  Karena kemampuan bahasa Jepang yang sangat-sangat mepet, kalau ada yang ingin diceritakan atau minta pendapat saya mereka harus menjelaskan pelan-pelan, mirip ngobrol dengan anak-anak.

Kemarin ada satu topik menarik yang dibicarakan yaitu tentang trend dan dilema wanita Jepang antara memilih karir atau berumah tangga.  Jadi ingat beberapa waktu lalu detik.com menurunkan berita tentang menurunnya angka lahir bayi dan merebaknya sindrom bujangan di Jepang.  Saat ini saya mendengar langsung dari teman-teman mahasiswa Jepang yang belum menikah dan sensei saya (seorang Associate Professor wanita) yang telah menikah dan mempunyai satu anak berusia 5 tahun.

Ada kesamaan dengan berita yang ditulis detik.com bahwa telah ada upaya dari pemerintah Jepang untuk mengurangi sindrom bujangan dan meningkat angka kelahiran anak, karena kekuatiran menurunnya populasi penduduk.  Pemerintah memberikan subsidi kepada keluarga yang melahirkan berupa pemberian bantuan persalinan yang besarnya 420,000 yen (Rp 42 juta kalau 1 yen = Rp 100,-).  Begitu anak itu lahir, setiap bulan akan mendapat 'uang saku' antara 10,000-15,000 yen tergantung jumlah anak.  Ketiadaan pembantu rumah tangga diatasi pemerintah dengan mendirikan day care dengan menyediakan subsidi bagi yang tidak mampu. Belum lagi fasilitas lainnya seperti kesehatan dan jaminan pendidikan hingga setingkat SMP.  Luar biasanya, pemberian fasilitas ini tidak membedakan apakah dia orang asing atau orang Jepang.

Apakah ini cukup efektif? Mungkin ini hanya efektif untuk mahasiswa asing seperti saya he he he.  Karena dengan kelahiran anak ketiga bulan Desember berarti bertambah subsidi untuk keluarga saya.  Sampai-sampai di kalangan mahasiswa asing disini ada ungkapan, banyak anak banyak subsidi.  Tetapi untuk keseluruhan penduduk Jepang, menurut salah seorang Professor yang lain sepertinya belum berhasil. Parameternya adalah jumlah anak SD saat ini jauh lebih sedikit dibandingkan jaman dia sekolah. Apalagi ada media yang pernah menulis bahwa tahun 2012 penjualan popok dewasa lebih besar daripada popok bayi.

Hal yang tidak ditulis oleh detik.com adalah ternyata meskipun pemerintah Jepang mendorong peningkatan angka kelahiran, faktanya mereka juga mendorong para wanita untuk terus bekerja meningkatkan karirnya.  Sensei saya bercerita bahwa sulit sekali baginya untuk mengajukan cuti melahirkan, dengan adanya tuntutan untuk segera menjadi Professor penuh. Bila dia cuti, tidak ada yang bisa menggantikan karena masing-masing Professor memiliki bidang keahlian yang berbeda. Entah dengan alasan apa, dua orang sensei perempuan lain di fakultas ini malah belum menikah.

Beberapa teman satu lab yang perempuan juga mengatakan tidak ingin terburu-buru menikah, bahkan ada yang belum terlintas sedikit pun tentang pernikahan atau keluarga.  Ada kecenderungan kalau yang cepat menikah itu yang pendidikannya rendah dan pergaulannya kurang, sedangkan wanita pintar dan aktif akan lebih memilih menunda.  Begitu kata mereka.  Bahkan ada yang mengatakan bahwa menikah, punya anak dan suami/istri merupakan gangguan dalam menikmati masa muda yang indah, yang penuh kebebasan.

Begitulah salah satu problem sosial, diantara berbagai problem lain, yang mungkin tidak hanya terjadi di Jepang tapi juga di negara maju lainnya.  Mereka bisa saja dikagumi karena maju secara teknologi, tetapi sesungguhnya mengalami kekosongan hati.   Berbagai persoalan hidup siap menanti ketika tidak ada aturan Ilahi yang ditaati.  Sungguh beruntung kita yang masih memiliki keimanan di hati, segalanya dilakukan hanya untuk mengabdi kepada Zat Yang Maha Pemberi.

Friday, 14 February 2014

Menghindari perbuatan 'allergen'

Allergen adalah zat yang menjadi pemicu timbulnya alergi dan terdapat di banyak bahan makanan.  Allergen dapat menimbulkan alergi terhadap orang yang sensitif terhadap makanan tersebut.   Secara garis besar, mekanisme terjadinya alergi terdiri dari dua tahap.   Orang yang alergi terhadap udang, ketika pertama kali mengkonsumsi udang tidak langsung timbul gejala alergi. Alergen pertama dari udang yang masuk akan direspon tubuhnya dengan membentuk antibodi. Ikatan antara allergen dan antibodi tersebut akan menempel pada sel mast. Setelah reaksi ini, gejala alergi belum terjadi, tetapi tubuh telah ‘sensitif’. 

Bila untuk kedua kalinya tubuh yang sudah sensitif ini mengkonsumsi kembali udang, antibodi pada permukaan sel mast tadi akan bereaksi dengan allergen kedua ini menghasilkan senyawa kimia yang bersifat racun.  Setelah ini barulah gejala alergi timbul, mulai yang ‘ringan’ seperti gatal-gatal hingga kesulitan bernapas yang dapat berujung kematian.  Sejauh ini sepertinya belum ada obat yang dapat menghilangkan alergi, yang ada hanyalah mengobati gejala yang timbul.  Oleh karena itu cara paling efektif bagi penderita alergi adalah dengan menjauhi/tidak mendekati makanan dan bahan-bahan lain yang telah diketahui menyebabkan alergi pada dirinya.

Bila dicermati, ternyata ada perbuatan yang menurut saya punya kemiripan dengan sifat ‘alergen’ ini.  Perbuatan tersebut masih dapat ditoleransi ketika baru pertama kali dilakukan tanpa sengaja.  Setelah itu kita dilarang melakukan perbuatan yang sama.  Contohnya adalah melihat aurat yang tidak halal.  Kita diajarkan bahwa pandangan pertama masih bisa ditoleransi sepanjang segera berpaling dan tidak dinikmati. 

Seperti reaksi allergen, pandangan tidak sengaja tersebut sejatinya akan menyebabkan tubuh kita ‘sensitif’.  Sangat wajar bila pandangan kedua sangat dilarang karena bisa meracuni tubuh yang telah sensitif ini, yang berpotensi meracuni seseorang.  Berapa banyak kasus-kasus pelecehan dan perzinahan yang diawali dari memandang atau menonton hal-hal yang tidak seharusnya dilihat.

Sebagaimana alergi makanan, cara paling efektif menghindari ‘perbuatan allergen’ ini adalah dengan tidak mendekatinya.  Tentu saja bukan hal yang mudah untuk melakukannya apalagi ditengah lingkungan yang tidak menjadikan batasan aurat sebagai bagian syariat dan berbagai fasilitas akses di dunia maya yang digunakan tanpa batas.  Tidak peduli apakah seseorang merasa sudah mencapai level iman yang tinggi atau sudah merasa berilmu tinggi, tetap saja diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan tidak mendekati zina. Tubuh kita memang sangat mudah sensitif sebagaimana tubuh yang telah terkena allergen.

Tuesday, 7 January 2014

Perhatikan dirimu!!!

Memperhatikan lingkungan sekitar jelas sangat diperlukan ketika akan melakukan suatu tindakan yang berpotensi menimbulkan pengaruh.  Tetapi, kita juga tetap perlu memperhatikan kondisi diri kita sebelum melakukukan tindakan tersebut.  Cerita yang saya ambil dari suatu postingan di jagat twitland berikut ini contohnya.

Di kafe starbu*k seorang wanita berparas cantik duduk dengan gelisah. Kali ini ia sulit sekali menahan untuk tidak buang angin (k*ntut). Seketika wanita itu mendapat ide brilian!!! Ia akan mengeluarkannya bersamaan dengan suara musik saat penyanyinya berteriak agar suaranya tersamar. 

Maka terjadilah. 

Akibat cukup lama menahan, ia mengeluarkannya hingga berkali2, sambil sesekali kepalanya bergoyang mengikuti hentakan musik yang keras. Setelah selesai, ia menarik napas panjang... huaahhh, akhirnya. legaaa...

Eeh tapi sebentar, ada yang aneh!!! Kenapa sekarang semua mata memandang ke arahnya dengan tatapan yang tidak biasa??? Sedetik kemudian dia baru sadar kalau ternyata dari tadi dia mendengarkan musik melalui earphone...