Saat ini sulit sekali menilai sesuatu itu baik atau tidak baik. Opini,
broadcast atau pemberitaan media seringkali memutarbalikkan yang baik
dan tidak baik.
Apakah kenaikan bbm, elpiji, listrik, harga-harga
kebutuhan pokok atau pemblokiran situs itu baik? Akan tergantung siapa yang menilai dan
memberitakan, sudut pandang/standar yang digunakan untuk menilai itu
baik atau tidak baik.
Selama standar perbuatan yang digunakan berbeda, akan selalu berbeda menilai sesuatu itu baik atau tidak baik.
Pemimpin
ibarat tameng bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik akan
membuat kebijakan yang baik. Rakyat yang baik akan selalu mendoakan agar
mempunyai pemimpin yang baik.
Tidak perlu menunggu merasa baik untuk berbuat baik. Orang yang dianggap baik seringkali berbuat baik karena belum merasa baik.
Bila suatu saat merasa lelah setelah berbuat baik, ingat saja bahwa
rasa lelah itu mudah hilang sedangkan nikmat surga itu abadi.
Pun
bila suatu saat merasa senang berbuat tidak baik, ingat saja bahwa rasa
senang itu mudah hilang sedangkan siksa neraka itu abadi.
Friday, 10 April 2015
Thursday, 19 March 2015
Gharizah
Setiap manusia memiliki kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Contohnya, bila lapar kita makan, haus lalu minum, dsb. Bila kebutuhan jasmani tidak dipenuhi, bisa sampai menyebabkan kematian. Selain itu, setiap manusia juga memiliki gharizah (naluri). Naluri ini tidak dapat 'dibunuh'/dihilangkan, bagaimanapun manusia membuat aturannya sendiri. Meskipun bila naluri tidak dipenuhi tidak akan sampai menyebabkan kematian, tetapi dapat menyebabkan kegelisahan. Pemenuhan naluri ini haruslah sesuai dengan fitrah manusia, karena kalau tidak berbagai penyimpangan dapat saja terjadi.
Naluri yang pertama adalah gharizatun baqa (naluri yang berhubungan dengan mempertahankan diri). Pengejawantahan dari naluri ini adalah kecenderungan manusia untuk mempertahankan diri ketika sedang terancam, mempertahankan pendapat atas suatu permasalahan, atau bisa juga kecenderungan untuk berkuasa, mempunyai kedudukan/status sosial yang tinggi, ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin disalahkan, dsb.
Naluri yang kedua adalah gharizatun nau' (naluri yang berhubungan dengan rasa kasih sayang). Dari naluri ini manusia mempunyai kecenderungan untuk sayang terhadap anak, istri/suami, ayah/ibu, ingin saling melindungi, ingin mempunyai keturunan, suka terhadap lawan jenis dsb.
Naluri yang ketiga atau yang terakhir adalah gharizatun tadayyun (naluri yang berhubungan dengan mensucikan sesuatu). Dari naluri ini, sebagai makhluk yang lemah, manusia mempunyai kecenderungan untuk mensucikan atau bergantung terhadap sesuatu yang 'Maha'. Oleh karena itu manusia membutuhkan agama, berdoa dan beribadah kepada Tuhan, merasa lemah dihadapan Pencipta, membutuhkan pertolongan-Nya, dsb. Bahkan orang atheis yang tidak beragamapun tetap mempunyai kecenderungan mensucikan sesuatu. Sebagai contoh, mendewakan Lenin, si pencetus ajaran komunis.
Islam datang untuk mengatur cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan memenuhi seluruh gharizah-nya secara paripurna. Islam mengatur makanan/minuman yang layak dikonsumsi, etika makan/minum dan bagaimana cara yang baik dalam mendapatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Islam juga mengatur cara menyalurkan gharizahnya sesuai dengan fitrah dasar manusia. Islam memberikan tuntunan etika orang berkuasa, mempertahankan kehormatan diri dan negara. Islam juga mengatur hubungan laki-laki dan wanita serta batasan auratnya serta penyaluran rasa kasih sayang dan mempertahankan keturunan melalui ikatan perkawinan. Bisa dilihat dengan mudah, bahwa tanpa aturan yang jelas manusia memenuhi gharizatun nau' nya dengan pacaran, free sex atau perkawinan sesama jenis, sehingga manusia dikategorikan lebih menjijikan dari binatang sekalipun. Di sisi lain, ada yang melarang perkawinan sehingga bisa dipastikan aturan tersebut akan menimbulkan kegelisahan pada yang menjalankan atau bisa jadi berujung pada penyimpangan.
Begitupun, Islam mengatur tentang tata cara beribadah, siapa yang layak disembah, diikuti dan tempat bergantung, yang semuanya sesuai dengan fitrah manusia. Tanpa aturan yang jelas, manusia akan menyembah sesama manusia, menyembah atau mensucikan benda atau makhluk hidup lain untuk memenuhi gharizatun tadayyun-nya.
Naluri yang pertama adalah gharizatun baqa (naluri yang berhubungan dengan mempertahankan diri). Pengejawantahan dari naluri ini adalah kecenderungan manusia untuk mempertahankan diri ketika sedang terancam, mempertahankan pendapat atas suatu permasalahan, atau bisa juga kecenderungan untuk berkuasa, mempunyai kedudukan/status sosial yang tinggi, ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin disalahkan, dsb.
Naluri yang kedua adalah gharizatun nau' (naluri yang berhubungan dengan rasa kasih sayang). Dari naluri ini manusia mempunyai kecenderungan untuk sayang terhadap anak, istri/suami, ayah/ibu, ingin saling melindungi, ingin mempunyai keturunan, suka terhadap lawan jenis dsb.
Naluri yang ketiga atau yang terakhir adalah gharizatun tadayyun (naluri yang berhubungan dengan mensucikan sesuatu). Dari naluri ini, sebagai makhluk yang lemah, manusia mempunyai kecenderungan untuk mensucikan atau bergantung terhadap sesuatu yang 'Maha'. Oleh karena itu manusia membutuhkan agama, berdoa dan beribadah kepada Tuhan, merasa lemah dihadapan Pencipta, membutuhkan pertolongan-Nya, dsb. Bahkan orang atheis yang tidak beragamapun tetap mempunyai kecenderungan mensucikan sesuatu. Sebagai contoh, mendewakan Lenin, si pencetus ajaran komunis.
Islam datang untuk mengatur cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan memenuhi seluruh gharizah-nya secara paripurna. Islam mengatur makanan/minuman yang layak dikonsumsi, etika makan/minum dan bagaimana cara yang baik dalam mendapatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Islam juga mengatur cara menyalurkan gharizahnya sesuai dengan fitrah dasar manusia. Islam memberikan tuntunan etika orang berkuasa, mempertahankan kehormatan diri dan negara. Islam juga mengatur hubungan laki-laki dan wanita serta batasan auratnya serta penyaluran rasa kasih sayang dan mempertahankan keturunan melalui ikatan perkawinan. Bisa dilihat dengan mudah, bahwa tanpa aturan yang jelas manusia memenuhi gharizatun nau' nya dengan pacaran, free sex atau perkawinan sesama jenis, sehingga manusia dikategorikan lebih menjijikan dari binatang sekalipun. Di sisi lain, ada yang melarang perkawinan sehingga bisa dipastikan aturan tersebut akan menimbulkan kegelisahan pada yang menjalankan atau bisa jadi berujung pada penyimpangan.
Begitupun, Islam mengatur tentang tata cara beribadah, siapa yang layak disembah, diikuti dan tempat bergantung, yang semuanya sesuai dengan fitrah manusia. Tanpa aturan yang jelas, manusia akan menyembah sesama manusia, menyembah atau mensucikan benda atau makhluk hidup lain untuk memenuhi gharizatun tadayyun-nya.
Si Comel
Tadi malam, di tengah makan malam bersama, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba Fiya menutup muka dengan kedua tanggannya sambil menangis. Sampai selesai makan dia gak mau cerita penyebabnya menangis. Selesai makan, Fiya minta dipangku sambil dipeluk. Lalu kakaknya, Chacha, sambil masih menikmati dinner buatan abinya, berkata, Abi tadi waktu Chacha cerita tentang si Comel (panggilan sayang untuk adik kecilnya, Aisyah) Chacha juga hampir mau nangis.
Lho, ada apa ini koq tiba-tiba dua-duanya jadi melow.
Hari ini Ummi dan Aisyah memang saya ijinkan untuk pergi dan menginap satu malam. Si Ummi minta ijin mengajar dua hari di Serang. Ketika menerima tawaran, dikira tempatnya dekat dan bisa dijangkau dengan pulang pergi, ternyata harus menginap. Jadilah saya kasih ijin dengan catatan, Aisyah juga dibawa.
Fiya terus bilang, tadi waktu makan Fiya kangen sama Ummi. pengin makan sama Ummi. Dia terus cerita sambil terus memeluk abinya. Hmmmm, baru aja ditinggal sehari...
Jadilah untuk mengusir rasa kangen, mereka saya ajak naik motor mencari dan membeli makanan kesukaan mereka. Kembali kerumah, mereka saya kasih HP untuk telp Umminya, lalu di rumah saya ajak mengulang pelajaran Qiraati dan Iqra sampai mereka mengantuk. Sebelum tidur, Fiya minta diceritakan tentang Rasulullah. Saya ceritakan kisah seorang wanita kulit hitam yang punya penyakit ayan/epilepsi, yang minta didoakan oleh Rasulullah agar penyakitnya sembuh. Rasulullah memberi pilihan, didoakan agar penyakitnya sembuh atau dia bersabar atas penyakitnya sehingga mendapat balasan surga atas kesabarannya mempunyai penyakit itu. Wanita itu memilih bersabar, tetapi minta Rasul mendoakan agar bila penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. Sabar. Itu sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki setiap orang. Cerita selesai, Fiya mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur. Seperti biasa, setelah mata mereka terpejam, saya cium dan berdoa untuk kebaikan mereka. Setelah itu gantian, saya yang keluar air mata...Maafkan abi nak.
Sepulang kerja, saya sudah semaksimal mungkin berusaha memainkan peran sebagai seorang Ibu. Saya buatkan mereka makanan dan makan bersama; saya minta mereka sholat maghrib dan isya berdua berjamaah (sementara saya ke masjid), saya ajak mereka bermain; bersama-sama mengulang pelajaran dan menyiapkan untuk pelajaran besok, Tetapi, betapapun telah berusaha dengan keras, saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang Ibu. Bagaimanapun dekatnya mereka dengan abinya, tetap sosok Ummi yang selalu diinginkan. Seberapapun 'galaknya' ummi ke mereka, tetap saja mereka tidak rela lepas walau semalam.
Lho, ada apa ini koq tiba-tiba dua-duanya jadi melow.
Hari ini Ummi dan Aisyah memang saya ijinkan untuk pergi dan menginap satu malam. Si Ummi minta ijin mengajar dua hari di Serang. Ketika menerima tawaran, dikira tempatnya dekat dan bisa dijangkau dengan pulang pergi, ternyata harus menginap. Jadilah saya kasih ijin dengan catatan, Aisyah juga dibawa.
Fiya terus bilang, tadi waktu makan Fiya kangen sama Ummi. pengin makan sama Ummi. Dia terus cerita sambil terus memeluk abinya. Hmmmm, baru aja ditinggal sehari...
Jadilah untuk mengusir rasa kangen, mereka saya ajak naik motor mencari dan membeli makanan kesukaan mereka. Kembali kerumah, mereka saya kasih HP untuk telp Umminya, lalu di rumah saya ajak mengulang pelajaran Qiraati dan Iqra sampai mereka mengantuk. Sebelum tidur, Fiya minta diceritakan tentang Rasulullah. Saya ceritakan kisah seorang wanita kulit hitam yang punya penyakit ayan/epilepsi, yang minta didoakan oleh Rasulullah agar penyakitnya sembuh. Rasulullah memberi pilihan, didoakan agar penyakitnya sembuh atau dia bersabar atas penyakitnya sehingga mendapat balasan surga atas kesabarannya mempunyai penyakit itu. Wanita itu memilih bersabar, tetapi minta Rasul mendoakan agar bila penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. Sabar. Itu sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki setiap orang. Cerita selesai, Fiya mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur. Seperti biasa, setelah mata mereka terpejam, saya cium dan berdoa untuk kebaikan mereka. Setelah itu gantian, saya yang keluar air mata...Maafkan abi nak.
Sepulang kerja, saya sudah semaksimal mungkin berusaha memainkan peran sebagai seorang Ibu. Saya buatkan mereka makanan dan makan bersama; saya minta mereka sholat maghrib dan isya berdua berjamaah (sementara saya ke masjid), saya ajak mereka bermain; bersama-sama mengulang pelajaran dan menyiapkan untuk pelajaran besok, Tetapi, betapapun telah berusaha dengan keras, saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang Ibu. Bagaimanapun dekatnya mereka dengan abinya, tetap sosok Ummi yang selalu diinginkan. Seberapapun 'galaknya' ummi ke mereka, tetap saja mereka tidak rela lepas walau semalam.
Saturday, 14 February 2015
Cinta semu di V-day
Hari ini masih saja sebagian besar orang merayakan apa yang mereka sebut hari kasih sayang. Meskipun mungkin punya motivasi masing-masing yang boleh jadi tidak sama, tapi fakta menunjukkan bahwa pada hari tersebut banyak digunakan sebagai ajang perzinahan. Sedikitnya lima walikota melarang warganya merayakan valentine day sambil men-sweeping minmarket yang kedapatan memajang coklat dengan minuman keras dan kondom. Lebih miris lagi ketika hotel kelas melati di beberapa tempat diisi oleh bukan pasangan suami istri. naudzubillah.
#Cinta semu
#Cinta semu
Telah menjadi dasar perayaan itu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Sama halnya dengan #Cinta buta
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
#Cinta mulia
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Begitupun #Cinta sejati
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Demikian juga #Cinta suci
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Sehingga #Cinta terindah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dan akhirnya #Cinta tertinggi
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Wednesday, 21 January 2015
Memerangi kemalasan
Alhamdulillah, bisa kembali membuka blog yang sudah beberapa bulan tidak di update. Tidak ada dan tidak boleh ada alasan lain selain memang M.A.L.A.S. Sibuk sejatinya bukanlah alasan untuk menulis, pun juga ide-ide bukannya tidak ada. Kemalasan memang sesuatu yang harus diperangi dan ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Subscribe to:
Posts (Atom)