Pages

Monday, 18 November 2013

Extensive vs intensive variable

Berapa 1+1? Kalau jawaban anda =2, memang begitulah hitungan matematikanya.  Tetapi tahukah anda bahwa ‘penjumlahan’ tidak selalu berarti ‘bertambah’ dan ‘pengurangan’ tidak selalu berarti ‘berkurang’?

Hasil dari 50 ml air + 50 ml air memang menjadi 100 ml air, tetapi kalau diubah satuannya menjadi 50 °C air + 50 °C air apakah akan menghasilkan  100 °C air? Jelas tidak. Mana mungkin air hangat ditambah air hangat menghasilkan air mendidih.  Dalam kondisi tidak terpengaruh suhu lingkungannya, jumlahnya tetap 50 °C air. Demikian pula pengurangan tidak selalu berarti berkurang.  Bila kita mengambil 50 gram dari 100 gram berlian utuh, tingkat kekerasan berlian tersebut tidak akan berkurang. 

Bertambah atau berkurang sangat bergantung dari mana kita menilainya.  Dalam pelajaran kimia, volume air dan massa berlian seperti contoh di atas merupakan extensive variable yang keberadaannya tergantung jumlahnya dalam satu sistem, sedangkan suhu air dan tingkat kekerasan berlian disebut intensive variable yang keberadaannya tidak tergantung jumlah. 

Dalam kehidupan, seringkali kita hanya menilai sesuatu dari sisi extensive variable, dalam arti menilai bertambah atau berkurangnya sesuatu berdasarkan yang kasat mata. Kita baru merasa rejeki (baca uang) bertambah karena peningkatan gaji bulanan, peningkatan penjualan, dapat proyek baru dsb.  Sebaliknya, kita merasa rejeki berkurang bila pendapatan yang kita terima bulan ini kurang dari bulan lalu sehingga yang terjadi adalah mengeluh, iri dengan penghasilan orang lain atau yang lebih parah berprasangka negatif kepada Sang Pemberi Rejeki.

Seringkali kita melupakan intensive variable, sesuatu yang tidak dapat diukur dengan hanya melihat jumlah. Kesehatan diri dan keluarga, keselamatan harta, bertambahnya saudara dan berbagai kenikmatan selain materi, bukankah juga merupakan pertambahan rejeki.  Meningkatnya pendapatan pada hakekatnya tidak ada artinya bila tiba-tiba ada anggota keluarga kita yang sakit yang memerlukan biaya besar atau kita kehilangan sesuatu yang berharga.  

Begitu pula, konsep sedekah mengajarkan  kepada kita bahwa mengeluarkan sebagian harta tidak berarti mengurangi jumlahnya karena semua yang dikeluarkan dengan benar dan ikhlas di jalan-Nya sesungguhnya akan terus bersama kita hingga hari perhitungan. Apalagi kita dijanjikan akan mendapat ganti yang berlipat atas harta yang telah disedekahkan.

Bila ungkapan rasa syukur yang dilakukan saat ini hanya berdasarkan jumlah materi yang diterima, atau masih saja ada keraguan untuk bersedekah di jalan-Nya karena kuatir mengurangi harta, mari segera berbenah.  Ingat bahwa bertambah atau berkurangnya materi juga tergantung dari mana kita menilai. Variabel yang tidak kasat mata dan tidak terhitung jumlahnya telah begitu banyak diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

*Tulisan ini juga dimuat di website favorit saya milik Jamil Azzaini, Inspirator Sukses Mulia, di sini

Tuesday, 15 October 2013

Eid Mubarak

Orang tua yang normal pasti cinta kepada anaknya.  Cinta kepada anak bahkan dapat memotivasi seorang ayah untuk melakukan apapun, hal-hal yang baik bahkan yang buruk sekalipun.  Tetapi Ibrahim telah membuktikan bahwa cintanya yang demikian dalam kepada Ismail, anak yang telah dinantikannya selama bertahun-tahun, sama sekali tidak mengalahkan cintanya kepada Sang Pencipta.

Kitapun punya ‘Ismail-ismail’ yang dapat menghalangi cinta kepada-Nya, apakah itu anak, istri/suami, orang tua, lawan jenis, harta, jabatan, dsb.  Momen Idul Adha merupakan saat yang tepat untuk kembali mengingat bahwa cinta yang tertinggi haruslah dipersembahkan kepada Yang Maha Suci.

Katakanlah, ’Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kailan kuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. At Taubah: 9).


Eid Mubarak

Saturday, 5 October 2013

Mengeluarkan kemampuan terbaik

Manusia mempunyai kecenderungan/naluri untuk mempertahankan dirinya, apalagi ketika terdesak. Bahkan kemampuan terbaik justru seringkali baru keluar saat sepertinya sudah tidak ada harapan lagi.  Misalnya, orang yang larinya pelan bisa berubah menjadi cepat bila ada anjing yang mengejarnya. Atau seperti yang baru saya alami, karena sudah terdesak tidak juga mendapatkan beasiswa, saat ada peluang mengajukan aplikasi tapi harus berbicara di depan orang banyak dalam bahasa Jepang, ya tetap saja dilakukan meskipun saya gak bisa berbahasa Jepang.  Mau contoh lain? dari buku The Power of Kepepet karangan pengusaha sukses Jaya Setiabudi saya menuliskan kembali cerita berikut ini.

Alkisah seorang Raja yang mempunyai putri yang sangat cantik jelita mengadakan sayembara untuk memilih seorang ksatria yang pantas mempersunting putrinya. Pada hari yang telah ditentukan berkumpulah ratusan pemuda, bahkan duda, yang tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Syarat dari Raja cuma satu: berenang menyebrang kolam. Semua teriak, Haaaa CUMA itu? Kata Raja, iya cuma berenang tapi di dalam kolam ini ada buaya kelaparan yang sudah 1 tahun belum makan.

Sunyi...hening...semua termenung dipinggir kolam.  Bagaimanapun, nyawa yang hanya satu ini jauh lebih berharga dibandingkan mendapat putri cantik. Ketika semua orang sedang mengembara dalam alam pikiran masing-masing, tiba-tiba terdengar bunyi yang cukup keras….Jebuurrrrrrr!!!! Semua mata menoleh ke bagian kolam yang menjadi sumber suara tadi.  Lalu terlihat jelas pergerakan dua makhluk yang sama-sama cepat di dalam kolam. Mulai dari pinggir, bergerak sangat cepat ke tengah kolam, sampai ke sisi kolam di sebarangnya….

Sampai munculah kepala seorang pemuda sambil meloncat keluar kolam dengan sangat cepat. Berjarak sepersekian detik dari terkaman buaya yang terlihat frustasi karena kecewa tidak dapat menangkap mangsanya. Sekujur tubuh pemuda tersebut basah kuyup dengan napas tersengal-sengal. Raja lalu berjalan menghampirinya sambil menebar senyum yang lebar.  Sampai di dekatnya, sambil menepuk bahu si pemuda, Raja berkata, “Hebat kau anak muda, luar biasa...sungguh luar biasa.  Engkau memang ksatria, pemberani, tidak terkalahkan,…. Si pemuda, bukannya membalas kata-kata sang Raja yang masih terus mengeluarkan pujian untuknya, malah berbalik memandang orang-orang. Dengan muka merah padam, mata mendelik dan tampang galak dia bersuara keras, "Wooi, siapa tadi yang dorong gue sampe kecebur?!? AYO NGAKU, SIAPA!!!"(@_@;)

Friday, 20 September 2013

Inspirasi Muda Mulia

Salah satu resolusi yang saya tuliskan diakhir tahun 2012 adalah mengadakan kegiatan yang melibatkan orang-orang Indonesia yang ada di Nagasaki.  Ini tidak terlepas dari amanah yang telah diberikan teman-teman kepada saya sebagai ketua PPI Nagasaki periode 2012-2013.  Ketika menuliskan resolusi ini, belum terlintas bagaimana cara mewujudkanya, bentuk acaranya, siapa yang akan diundang sebagai pembicara, darimana asal dananya, dsb.  Apalagi belum pernah ada acara besar sebelumnya yang diselenggarakan PPI Nagasaki.

Bermimpilah menggapai bintang di langit, kalaupun gagal kita akan jatuh diantara awan.  Jangan bermimpi setinggi genteng rumah, karena kalau gagal jatuhnya ke comberan he he he.  Begitulah, sampai bulan Juni tidak ada aktifitas berarti yang saya lakukan untuk mewujudkan resolusi tersebut.  Barulah setelah mendapat kepastian menerima beasiswa Hashiya, seluruh resolusi kembali saya review untuk direalisasikan sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya.

Jalan itu perlahan terbuka ketika Allah menuntun saya berkenalan hanya melalui email dengan orang yang sangat bersahaja, Nur Ahmadi, penanggung jawab Dompet Dhuafa (DD) di Jepang.  Setelah beberapa kali berkomunikasi, dan dengan proposal yang dibuat secara kilat (maklum sebelumnya bingung mau desain kegiatan apa), DD menyatakan siap mendukung kegiatan di Nagasaki.  Dari beliaulah saya disarankan untuk meminta dukungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Tokyo, yang kemudian tidak hanya bersedia memberikan dukungan finansial, tetapi Bapak Atase, Dr. Iqbal Djawad, juga bersedia hadir sebagai pembicara.

Ketika kesulitan mencari pembicara berkelas dari Indonesia karena waktu yang mepet, dari Nur Ahmadi juga saya dikenalkan dengan seorang trainer muda, Rendy Saputra, yang bersedia memberikan seminar bertema Inspirasi Muda Mulia.  Tidak hanya itu, Kang Rendy, sapaan akrabnya, juga bersedia tidak mendapatkan fasilitas apa-apa dari panitia.

Jadilah acara tersebut terealisasi dengan nama Inspirasi Muda Mulia: Berkarya dan Sukses Mulia sejak Muda.  Sekitar 60 orang hadir pada acara tersebut, dapat dikatakan telah melibatkan seluruh pelajar, orang Indonesia yang berdomisili di Nagasaki maupun kenshusei (peserta magang di perusahaan Jepang).  Meskipun tentu saja selalu ada banyak kekurangan yang terjadi karena kurangnya koordinasi, komunikasi, dsb, tetapi ucapan rasa syukur tak henti terucap.  Satu lagi, Allah memberikan jalan untuk merealisasikan resolusi 2013.

(Berita tentang pelaksanaan kegiatan ini juga dimuat di website DD Jepang disini dan live kultwit yang saya tulis untuk acara tersebut disini.  Kang Rendy juga menuliskan pengalamannya di website pribadinya disini)

Wednesday, 4 September 2013

Belajar dari mata air

Ada hadist Nabi yang kira-kira isinya menyebutkan bahwa kaum muslimin berseri kat dalam tiga hal, padang rumput, air dan api.  Sepemahaman saya, maksud hadist tersebut adalah ketiganya merupakan kepemilikan umum yang tidak tidak bisa dimiliki oleh golongan, apalagi dikuasai pribadi.

Nah, tidak jauh dari apartemen yang saya tempati, tepatnya di Nishimachi, Nagasaki City, ada sebuah sumber mata air yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang padat.  Mata air ini bebas dinikmati oleh siapapun.  Hal yang menarik berdasarkan informasi yang saya terima dari penduduk sekitar, secara berkala Pemerintah Kota Nagasaki melakukan pemeriksaan terhadap aspek keamanan dan kesehatan untuk memastikan air tersebut memang masih layak dikonsumsi secara langsung (tidak perlu di rebus lagi).

Ketika musim panas tiba, seperti saat ini, air tersebut begitu menyegarkan bagi siapapun yang meminumnya.   Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, pernah saya melihat ada yang mengisi hingga berjerigen-jerigen dan diangkut dengan mobil untuk keperluan rumah makannya.

Saya mencoba merenungi kembali hadist di atas. Sulitkah menerapkannya? Padang rumput (hutan-hutan), air (sumber air), api (sumber-sumber energi, barang tambang, dll) bisakah tidak dimiliki oleh golongan, apalagi pribadi? Bisakah dikuasai Negara dan pemanfaatannya diperuntukkan bagi kemaslahatan seluruh rakyatnya? Subhanallah, di sini, di negeri yang agama saja orang-orangnya tidak peduli, ucapan mulia Baginda Nabi terimplementasi.  Bukti sederhana mudahnya penerapan aturan yang datang dari Sang Pencipta.

Dan dari mata air ini juga saya belajar, kalau tidak bisa menjadi air hujan yang membasahi dan meyejukkan hati seisi bumi, jadilah mata air yang keberadaannya dirindukan, sehingga banyak di datangi orang.  Hindari menjadi air PAM yang baru datang ketika diundang dan tidak mau keluar sebelum dibayar.  Dan jangan sekali-kali menjadi air comberan yang  isinya segala jenis penyakit dan kotoran,  Jangankan ditelan, baunya saja tidak enak *dirasakan.

*Keterangan foto. Atas: sumber mata air yang terletak di pemukiman penduduk. Bawah: anak saya sedang memperhatikan orang yang sedang mengambil air