Pages

Thursday, 17 July 2014

Berkah Ramadhan

Ramadhan segera memasuki fase terakhir.  Ada yang telah bersiap-siap menyambut lebaran, berkemas untuk pulang kampung atau masih disibukkan dengan undangan berbuka puasa bersama.  Tetapi, tidak sedikit juga yang semakin giat beribadah demi meraih kemuliaan malam lailatul qadr.  Kita termasuk yang mana? silahkan menghisab diri, merenungi perjalanan hidup dan kesempatan meraih pengampunan di bulan suci serta bagaimana kita memanfaatkan setiap detik Ramadhan.

Anyway, setiap orang mungkin punya pengalaman tersendiri selama bulan Ramadhan.  Ini memang bulan yang sangat istimewa, yang Rasulullah gambarkan andai kita tahu keistimewaannya tentu setiap orang akan berharap sepanjang tahun selalu Ramadhan.

Sebelum masuk Ramadhan, saya punya PR besar yang agak kuatir bisa diselesaikan, yaitu mengajarkan putri pertama (Chacha, 7.5 tahun) dan kedua (Fiya, 5 tahun) saya berpuasa.  Maklum, selama tiga tahun di Nagasaki belum pernah sekalipun mereka berpuasa. Bukan apa-apa, lingkungan sangat mempengaruhi mental mereka.  Tahun lalu sebenarnya saya sudah mencoba melatih Chacha berpuasa tetapi di sekolah selalu ada makan siang bersama sehingga dia tidak mau beda dengan teman-temannya karena itu berarti harus menjelaskan.  Sesuatu yang masih sangat sulit dilakukan, entah karena kesulitan bahasa atau faktor lainnya.

Persiapan dilakukan dengan memberi penjelasan tentang puasa, seperti harus bangun sahur sebelum shubuh dan tidak boleh makan dan minum sampai maghrib.  Terus terang, saya tidak yakin apakah mereka akan bisa bangun sahur dan tahan tidak makan minum sampai maghrib.  Hari pertama puasa mereka berdua kompak menangis tidak mau dibangunkan sahur.  Butuh waktu sekitar setengah jam hanya untuk membangunkan dan mendiamkan tangisan mereka.

Hari pertama, kami pergi melawat sahabat baik kami selama di Nagasaki yang meninggal tepat di tanggal 1 Ramadhan di kediamannya di daerah Ciputat.  Tentu saja melakukan perjalanan di saat terik bulan Ramadhan terasa lebih lelah dibanding hari biasa.  Di tengah perjalanan, Fiya sudah menyerah minta minum. Chacha? ketika sampai di rumah, selepas shalat dzuhur dia mulai menangis tidak tahan haus dan lapar.  Karena tidak tega, saya mengijinkannya untuk berbuka.

Sedih juga melihat kenyataan saya belum berhasil mengajarkan anak-anak berpuasa.  Saya adukan kelemahan saya ini kepada Sang Pencipta manusia.  Saya masih bisa memaklumi untuk Fiya karena masih 5 tahun, tetapi Chacha sudah cukup besar, seharusnya sudah kuat berpuasa.  Ketika mengijinkan berbuka, saya hanya bisa berpesan agar besok tetap coba berpuasa.

Hari kedua.  Seperti hari pertama, keduanya masih kompak menangis dibangunkan sahur.  Hmmm, teringat ketika di rumah dulu, saya sering dimarahin Ibu dan Bapak karena sulit sekali dibangunkan sahur. Like father like daughters.  Membangunkan sahur benar-benar menguji kesabaran Umminya.

Ketika sampai di rumah sepulang kerja, hal pertama yang saya ingin tahu adalah mereka sudah buka sejak jam berapakah? Saat parkir motor, Fiya langsung menyambut dengan tawa khasnya sambil teriak, "Abi, Fiya udah buka dari jam 11" hmmmm, lumayan ada kemajuan... Kemana Chacha? koq tumben gak ada suara khasnya menyambut kepulangan abinya. Setelah masuk ke dalam rumah, saya lihat Chacha tergelatak di tikar dengan wajah kuyu, sambil memegang perutnya. "Abi, Chacha belum buka, tapi sekarang perut Chacha sakit, terus lehernya panas.  Mungkin karena lapar sama haus ya".

Saya langsung mendatangi dan menyemangatinya, berusaha ikut merasakan apa yang sedang dia rasakan.  Perhatiannya berusaha saya alihkan dengan apa yang dia suka.  Bercanda, main game kesukaannya, ajak jalan-jalan naik motor, dsb sampai tiba waktu maghrib. Alhamdulillah, Chacha kuat puasa sampai maghrib.  Subhanallah...

Hari ketiga, keempat dan kelima masih ada keluhan perut sakit atau leher panas, tapi tetap kuat berpuasa sampai maghrib.  Ketika mulai masuk sekolah pun sama sekali tidak ada keluhan lagi keluar darinya.  Lingkungan sekolahnya (SD Insantama) telah banyak membantu mengajarkan Chacha tentang puasa dan bagaimana mengisi kegiatan di bulan Ramadhan.  Meskipun masih saja masih saja dihadapkan pada problem membangunkan sahur, saya tetap bersyukur Chacha terbiasa berpuasa. Fiya? biarlah dia masih berfluktuasi jam berbukanya. Kemarin dia laporan buka puasa jam 4 sore, karena gak tahan lihat pisang goreng.....

Mendengar suara tangisanmu, berat rasanya mengganggu tidur lelapmu
tapi akan lebih berat lagi bila engkau tidak dibekali sejak dini
Kelak engkau akan tahu betapa besar kasih sayangku
ketika engkau telah mampu memahami perkataan mulia sang Nabi:
"Sahur adalah berkah, oleh karena itu janganlah kalian meninggalkannya meskipun dengan menelan seteguk air.  Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya memberikan shalawat kepada orang-orang yang makan sahur (HR. Ahmad)"

Sunday, 13 July 2014

Gaza malam ini...

Hampir seminggu terakhir ini umat Islam dikejutkan oleh kabar dari saudara-saudaranya di bumi Palestina.  Pasukan zionis Israel tanpa ada sedikitpun rasa kemanusian, yang mungkin sudah menjadi sifat dasarnya, membantai anak-anak, wanita, orang tua dan rakyat sipil tak berdosa.  Alasan awalnya membalas kematian tiga orang warga Israel yang menurut klaim mereka dibunuh warga Palestina meskipun tidak ada bukti yang mendukung.  Rudal-rudal dan serangan udara dengan target yang membabi buta telah membuat syahid puluhan, bahkan ratusan rakyat Palestina.  Belakangan alasannya berganti lagi, pejabat pemerintah Israel menyatakan akan memperluas operasi dengan menyiapkan 40.000 tentara cadangan untuk mendukung tentara reguler dalam melakukan serangan darat sampai Hamas menghentikan serangan roketnya.

Siapapun akan terusik nuraninya melihat kebiadaban yang dipertontonkan kaum Yahudi ini, yang bukan pertama kali mengotori kesucian bulan Ramadhan.  Rudal dan senjata mereka diarahkan ke orang-orang lemah tak bersenjata, rakyat sipil yang tidak tahu apa-apa, yang sedang menikmati bulan puasa.  Foto-foto yang beredar luas di media sosial sungguh sangat menyayat hati.  Maha Benar Allah yang telah berfirman sejak lebih dari 14 abad yang lalu bahwa orang-orang Yahudi tidak akan pernah ridho hingga semua mengikuti ajaran mereka.

Ada salah satu foto yang beredar luas yang salah satunya menampilkan perkataan orang Palestina yang berkata bahwa mereka tidak akan meninggalkan Palestina, bagaimanapun kondisinya.  Karena jika mereka pergi, lalu siapa yang akan menjaga Al Aqsa.  Mereka rela mewakili milyaran umat Islam yang penguasanya masih saja lebih banyak berdiam diri menyaksikan kekejian Israel, demi tanah suci kaum muslimin.  

Malu rasanya melihat kenyataan bahwa kita disini masih bisa tertawa, sementara mereka berselimut duka.  Jika kita disini kadang untuk bangun sahur saja masih berkeluh kesah, mereka disana sahur dalam keadaan yang sangat gelisah.  Bila kita disini berbuka dengan gembira dengan makanan yang berlimpah, mereka disana berbuka dalam kondisi berduka, bahkan banyak yang sahur di dunia dan berbuka di akhirat.

Tidakkah hati kita tersentuh untuk ikut membantu meringankan beban mereka? ditingkat penguasa, tidak ada alasan untuk berdiam diri lagi.  Kemana pasukan militer kaum muslimin yang dimasa pemerintahan Islam dulu pernah dikirimkan untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dilecehkan yahudi? Sungguh tidak masuk akal ada sebuah negara kecil yang bisa bertindak semena-mena dan dibiarkan sejak lama tanpa ada intervensi militer dari negara-negara lainnya. Ah, siapapun yang mau berpikir objektif akan mengetahui jawabannya.

Setidaknya di level kita, bantulah apa yang bisa dilakukan.  Untaian permohonan untuk keamanan, keselamatan, perlindungan dan kemenangan bagi rakyat Palestina sudah semestinya ada dalam doa yang kita panjatkan kepada Penguasa Alam Semesta.  Tapi itu saja tentu belumlah cukup. Salah satu ciri orang bertakwa yang digambarkan Allah dalam surat Al Imran 133-134 adalah menafkahkan hartanya baik di kala lapang maupun sempit.  Sesempit apapun kondisi kita saat ini, apalagi yang sedang diberikan kelapangan rejeki, segeralah salurkan harta untuk membantu rakyat Palestina.

Banyak lembaga-lembaga terpercaya yang menyalurkan bantuan langsung ke Gaza.  Tidak ada alasan lagi untuk menunda di bulan yang mulia.  Sungguh, berapapun yang kita keluarkan sejatinya belumlah sebanding dengan yang dilakukan saudara-saudara kita disana.  Mereka yang merindukan syahid, mereka yang setia menjaga Al Aqsa, mereka yang memastikan tidak akan pernah menyerah, di Gaza malam ini.  We will not go down, in Gaza tonight.

Thursday, 3 July 2014

Kabar duka di awal Ramadhan

Awal Ramadhan ini menyisakan kesedihan.  Di saat sedang makan sahur di hari pertama puasa, dapat kabar duka meninggalnya Dr. Endang Pujiyati yang sering saya, istri dan anak-anak panggil bude Endang.  Beliau adalah tetangga Indonesia terdekat selama tiga tahun tinggal di Nagasaki.  Ketika pertama kali istri saya hendak berangkat ke Nagasaki, bude Endang lah yang dihubungi dan kemudian banyak membantu persiapan serta adaptasi saat pertama tiba.  Istri saya menceritakan bahwa ketika sampai di Nagasaki, bude sedang hamil tujuh bulan anak terakhirnya (Michiko chan).  Bude sering mengajak jalan-jalan menunjukkan tempat-tempat untuk belanja yang murah, mencari makanan halal, dsb agar lebih mudah beradaptasi.

Ketika saya dan anak-anak datang, kami bertetangga sangat dekat, hanya berjarak 20an meter sehingga tidak heran kami begitu dekat, saling berkunjung, tuker-tukeran masakan, jalan-jalan bersama ketika libur tiba, dsb.  Bahkan ketika saya diminta teman-teman menjadi ketua PPI, bude Endang saya 'paksa' menjadi bendahara, sehingga kami sering berdiskusi bersama tentang ke-PPI-an.

Bude Endang memang punya riwayat penyakit jantung.  Saya  tidak akan melupakan ketika bude harus melaksanakan operasi jantung, operasi yang kedua di Nagasaki setelah sebelumnya operasi pengangkatan 'thymoma' (saya kurang yakin sama namanya), beliau meminta saya dan istri untuk menemani karena Pak hendra, suami bude harus mengantar ketiga anak mereka.  Jadilah, saya dan istri yang menemani dan ikut mendorong tempat tidur bude sebelum masuk ke kamar operasi, kami juga diminta melihat jalannya operasi dari ruang tunggu, hingga yang dilaporkan oleh Dokter yang membedah tentang kemajuan penanganan penyakit pasca operasi.

Keluarga saya dan bude juga memiliki waktu kepulangan yang sama karena sama-sama di wisuda di bulan Maret.  Bedanya saya pulang tanggal 28 Maret, sedangkan bude sekeluarga 1 April, dan sempat jalan-jalan dulu ke Tokyo.  Tetapi kami mengirim barang-barang di kontainer yang sama, sehingga setelah sampai di Indonesia pun kami masih saling berkomunikasi.

Sekitar tanggal 12 Juni terakhir kami berkomunikasi via whatsapp karena bude posting di FBnya sedang di rawat.  Ketika itu bude bilang akan pulang hari Jumat (13 Juni). Banyak hal yang kami bicarakan ketika itu, mulai dari sekolah anak-anak rencana ke depan dll.

Kabar meninggalnya bude tanggal 29 Juni pukul 12.45 dinihari, tepat di tanggal 1 Ramadhan sungguh mengejutkan.  Ketika kami datang melayat kerumahnya (hal yang membuat kami makin sedih karena datang ke rumah bude disaat hanya dapat melihat jasad bude yang telah terbujur kaku), pak hendra cerita tentang penyakit bude setelah pulang ke rumah tanggal 13 Juni itu yang ternyata tak kunjung sembuh hingga Allah memanggilnya.

Manusia punya berjuta rencana, tetapi Allah lah sebaik-baik pembuat rencana. Allah jauh lebih sayang bude. Allah menghentikan seluruh penderitaan bude akibat penyakit yang telah lama dideritanya. Bude adalah seorang ibu yang luar biasa, istri yang sangat penurut, penuntut ilmu yang sabar, tetangga, teman dan saudara yang baik.  Ketika pak hendra membukaan penutup muka di atas wajah jenazah bude, subhanallah, kami melihat senyum di wajah bude.  Semoga Allah mengampuni dosa-dosa bude, memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga pak Hendra, Sabrina, Naufal dan Michiko diberikan kesabaran dalam menerima ketetapan-Nya ini. Innalillaahi wa innailaihi rajiun.  Selamat jalan Dr. Endang Pujiyati.

Friday, 20 June 2014

Pemimpin yang dirindukan

Khutbah Jumat lagi-lagi bercerita tentang Umar bin Khattab dan lagi-lagi tidak pernah bosan telinga ini mendengar.  Mungkin karena sedang musim kampanye capres-cawapres sehingga keteladanan beliau menjadi salah satu contoh terbaik.  Saya akan mengulas kalau setelah diperhatikan ternyata beberapa sifat Umar bin Khattab yang telah melegenda, yaitu ketegasan, kewibawaan, kesederhanaan dan kepeduliaannya terhadap rakyat yang sangat tinggi, menjadi slogan yang digadang-gadang oleh para tim sukses capres saat ini baik 1 maupun 2 .

Ketika menjabat sebagai Khalifah dengan kekuasaan yang demikian luas, setiap malam Khalifah Umar selalu sulit memejamkan mata.  Alasannya? ini yang luar biasa.  Beliau sering tidak bisa tidur karena sangat takut bila memikirkan pertanggungjawaban di hadapan Allah terhadap rakyat yang dipimpinnya.  Lalu apa yang beliau lakukan dimalam hari? salah satunya sudah diceritakan dan silahkan di baca di sini.

Selain tentang kisah ibu dan anak penjual susu tersebut, kisah terkenal yang sering diceritakan adalah saat Khalifah di malam buta memangul sendiri gandum dari baitul maal untuk seorang ibu yang berusaha mendiamkan anak-anaknya yang terus merengek minta makanan, dengan cara memasak batu.  Subhanallah.  Seorang pemimpin yang kekuasaannya terbentang luas di jazirah Arab memanggul sendiri bahan makanan karena takut memanggul dosanya di akhirat bila Allah meminta pertanggungjawaban terhadap salah satu rakyatnya yang kelaparan.

Meski telah berulangkali mendengar kisah ini, berulang kali pula mata ini tidak sanggup membendung air mata.  Beliau-lah sejatinya pemimpin yang sederhana dan merakyat, yang melakukan 'blusukan' bukan demi pencitraan dan tidak pernah merasa perlu disaksikan masyarakat banyak.  Blusukan Khalifah Umar justru dilakukan di malam hari disaat sebagian besar rakyatnya terlelap dan paling hanya ditemani satu orang ajudannya.

Beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan berwibawa, yang tidak pernah kompromi terhadap setiap bentuk kedzaliman.  Kisah yang sangat terkenal adalah ketika ada seorang yahudi yang gubuknya digusur oleh salah seorang gubernur karena hendak ada perluasan masjid. Meskipun sudah diberikan kompensasi, ia tidak terima dengan keputusan gubernur karena dianggap sewenang-wenang. Orang yahudi itu memutuskan untuk pergi ke Madinah mengadukan masalahnya ke Khalifah.  

Sungguh kaget si yahudi tersebut ketika menemui Khalifah yang memiliki kekuasaan demikian besar, sedang duduk di bawah pohon rindang dekat masjid.  Khalifah juga hanya memakai pakaian yang sangat sederhana.  Setelah si yahudi menceritakan persoalannya, wajah Khalifah terlihat mengeras karena murka.  Lalu beliau memerintahkan orang itu mengambil tulang di tempat sampah.  Digoreskan dengan pedangnya garis lurus seperti huruf alif dan diberi garis melintang.  "Pulanglah dan berikan tulang ini kepada gubernur" kira-kira begitu perintah beliau.

Tentu saja yahudi tersebut terheran-heran.  Mungkin dia berpikir, 'Jauh-jauh datang ke Madinah hendak mencari keadilan, malah pulang suruh bawa tulang dari tempat sampah'. Dengan hati yang penuh tanda tanya, orang yahudi tersebut kembali ke daerah asalnya dan menghadap ke gubernur untuk menyerahkan tulang dari Khalifah Umar tanpa dia tahu apa maksudnya.  Reaksi gubernur sungguh di luar dugaan.  Wajahnya langsung pucat pasi, jelas terlihat sangat ketakukan.  Langsung saja diperintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan perluasan masjid, mengembalikan tanah dan membangun kembali gubuk orang yahudi tersebut. Segera, tanpa ditunda...

Ada apa ini? apa maksudnya? mengapa hanya dengan tulang saja ketakutannya seperti itu? berjuta pertanyaan menggelayuti pikiran orang yahudi tersebut.  Lalu gubernur menerangkan yang kira-kira berkata, "tulang ini memang hanyalah sampah tidak berguna.  Tetapi tanda garis dari pedang Khalifah ini mewakili perintah Khalifah bahwa aku harus bertindak adil dan lurus kepada siapapun karena sesungguhnya pada akhirnya semua manusia akan menjadi tulang belulang dan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hadapan Allah.  Bila tidak, maka garis melintang ini menandakan siapapun penguasa yang bertindak sewenang-wenang dan tidak mengayomi rakyatnya sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka Khalifah siap menggunakan pedang (kekuasannya) untuk menghentikannya.  

Subhanallah.  Inilah yang kemudian membuat orang yahudi tersebut dengan rela meminta diteruskan perluasan masjidnya, menerima penggusuran gubuknya dan kemudian bersyahadat karena menyaksikan sendiri kemuliaan ajaran Islam yang dicontohkan langsung oleh Khalifah.

Sekali lagi, ketegasan dan kewibawaan yang melekat dalam diri Khalifah bukanlah demi pencitraan dan sama sekali tidak dilakukan agar mendapat pujian masyarakat.  Kesederhanaan, kepedulian kepada masyarakat, ketegasan, kewibawaan seorang pemimpin yang lahir dari keimanan yang tinggi kepada Sang Pencipta, yang kemudian menjadi dasar setiap tindakannya.  Inilah sosok pemimpin yang dirindukan, yang memerintah berdasarkan tuntunan syariat, bukan hawa nafsu sesaat.  

Kita merindukan pemimpin yang tegas dan berwibawa, sekaligus yang sederhana dan merakyat, yang perbuatannya dilakukan karena keimanan yang tinggi dan ketakutannya akan pertanggungjawaban di akhirat kelak.  Bila sifat dan perbuatan yang dilakukan hanya demi pencitraan semata, atau hanya ingin diliput media massa, atau hanya sekedar ingin menaikkan elektabilitasnya, atau tidak ikhlas karena Allah Yang Maha Kuasa, bersiaplah semua akan berakhir sia-sia dan pada akhirnya lagi-lagi rakyat tidak akan mendapat apa-apa.  Semoga Allah karuniakan kembali pemimpin yang dikagumi penduduk bumi dan dirahmati penghuni langit...

Friday, 6 June 2014

Cara memberi tahu...

Rabu lalu saya bersama tim mendapat tugas evaluasi lapangan ke salah satu perusahaan kaca terbesar di Indonesia.  Di sela-sela pembicaraan informal, ada cerita menarik dari pimpinan Laboratory Service-nya yang baru pulang dari Jepang.

Begini ceritanya.  Dahulu ketika baru pertama kali ke Jepang dan masih menjadi perokok aktif, dia ditemui oleh kliennya yang merupakan orang Jepang.  Sambil menunggu bis yang akan mengantarnya ke lokasi, dia mengajak ngobrol rekan barunya sambil menghisap rokok kesayangannya dari Indonesia.  Setelah selesai merokok, seperti kebiasaan di Indonesia, langsung di matikan api di puntung rokoknya, dan membuang begitu saja di jalanan.  Menurutnya, aneh sekali negara semaju ini gak ada tong sampah.

Hal yang mengejutkan terjadi.  Teman Jepangnya tiba-tiba mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.  Setelah menghisap satu kali, segera dimatikan rokoknya, dibungkus dengan tisu dan dimasukkan ke dalam tasnya.  Kontan saja sambil menahan malu yang luar biasa dia mengambil puntung rokok yang tadi dibuang dijalan, dan dimasukkan ke dalam tas seperti yang dilakukan orang Jepang.

Sebelum mengucapkan sesuatu, orang Jepang itu yang langsung berkata, "kamu tidak perlu melakukan seperti saya, ini kan negara saya bukan Indonesia".  Kata-kata tersebut membuatnya tambah tidak enak saja.  Dia menjawab, "Maaf pak, saya tidak seharusnya melakukan seperti tadi. Ini kebiasaan bagus yang harus saya tiru."

Jadi teringat beberapa hal penting yang diajarkan di sekolah dasar, yang saya dapatkan dari anak saya, seperti bagaimana membuang sampah pada tempatnya atau dibawa pulang, menghormati orang dan antri.  Bahkan orang yang membawa anjing berkeliling juga harus membawa air untuk menyiram dan kantong untuk menampung kotoran bila tiba-tiba si anjing buang air kecil atau besar.

Pelajaran dari kisah di atas, tidak perlu malu mengakui kesalahan dan belajar memang bisa dari siapa saja...