Apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar kata Dubai? Kota metropolitan di negara berpenduduk muslim, menara tertinggi di dunia, pulau buatan meyerupai pohon palem atau tempat belanja orang-orang berduit? Seperti itulah mungkin gambaran yang umum bagi yang belum pernah ke Dubai. Termasuk saya.
Setidaknya gambaran tersebut tidak sepenuhnya salah. Tetapi, selama 4 hari melakukan perjalanan dinas ke Dubai (2-6 Mei 2016) ada beberapa hal yang diluar perkiraan. Sebelum ini, saya pernah transit di bandara Dubai ketika melakukan perjalanan dinas ke Budapest dan Uganda. tapi belum sekalipun keluar bandara.
Untuk orang yang berpaspor dinas (service passport) perjalanan di bawah 60 hari tidak memerlukan visa. Ada sedikit ketidakpercayaan petugas imigrasi di Dubai ketika memeriksa paspor saya. Mengapa tidak ada visa? mau apa kesini? tujuannya apa? berapa lama? dsb. Setelah berdiskusi dengan beberapa temannya, baru lah saya dipersilahkan keluar. Aturannya memang seperti itu.
Seorang petugas telah siap menjemput di bandara menggunakan sedan mewah milik Sofitel Downtown Hotel Dubai. Bersama seorang rekan dari Sri Lanka, mobil dengan stir di kiri itu meluncur melewati jalan-jalan kota Dubai yang siang hari itu sangat cerah. Kami dibawa melewati Burj Khalifa, menara tertinggi di dunia, yang letaknya tidak sampai 1 km dari hotel.
Luar biasanya, kamar yang saya tempati di lantai 23 view-nya langsung menghadap ke menara setinggi 800 meter lebih tersebut. Hotel bintang 5 ini pasti sangat mahal. Di dalam kamar, pandangan mata saya tertuju pada secaraik kertas yang berisi informasi yang di tandatangani pejabat hotel. Informasi bahwa hotel ini tidak akan menyediakan minuman beralkohol mulai pukul 18.30 pada tanggal 3 Mei hingga pukul 19.30 pada tanggal 4 Mei 2016. Alasannya, untuk menghormati Isra' Mi'raj.
Hmmm, ada dua hal yang aneh...Bukannya Isra' Mi'raj itu baru tanggal 6 Mei (kalau liburnya di Indonesia) dan apa cuma Isra' Mi'raj saja yang perlu dihormati sehingga pada durasi waktu itu tidak menyediakan minuman beralkohol? saya kira karena ini di negara Arab, pelaksanaan hukum Islam akan lebih ketat.
Hari-hari berikutnya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kota ini memang terletak di negara Arab, tetapi lihatlah sekeliling. Orang yang memakai pakaian khas Arab, gamis putih yang pria dan abaya hitam yang wanita, jumlahnya sedikit, tidak bisa dibilang mayoritas. Kota ini dipenuhi dengan orang-orang asing. Informasinya, hampir 90% penduduk Dubai adalah pendatang!
Ketika Jumat tiba, bukanlah hal yang mudah mencari masjid terdekat dengan hotel. Petugas hotel memberitahu, perlu naik taksi untuk mencapai masjid. Saya agak tidak percaya. Di kota-kota besar di Indonesia, rasanya tidak akan sulit mencari masjid terlebih ketika shalat Jumat tiba. Saya berjalan ke Dubai Mall, berharap di Mall yang besar tersebut ada yang melaksanakan shalat Jumat. Saya ada di Dubai, ini negara Muslim, dalam hati saya meyakinkan diri. Betul saja, setelah berputar-putar dan bertanya-tanya, di lantai bawah ada salah satu prayer room yang dibuat untuk shalat Jumat.
Di hari ini pula saya baru merasakan, teriknya Dubai. Panas sekali. Menurut informasi, panasnya bisa mencapai 35-40 derajat Celcius. Tapi ini belum seberapa, karena rekor suhu tertinggi di Dubai adalah 53 derajat Celcius. Pikiran saya langsung membayangkan ke sebuah kota yang jaraknya sekitar dua jam lagi dari Dubai dengan pesawat. Kota impian yang belum juga dapat dikunjungi sampai saat ini. Ya, Mekkah dan Madinah. Menurut cerita, kota itu juga sangat terik ketika musim panas tiba. Ah, rasanya meskipun panas terik, tetap saja Mekkah dan Madinah adalah kota yang selalu dirindukan.
Friday, 6 May 2016
Saturday, 20 February 2016
Budapest
Ini adalah kota di luar Indonesia pertama yang dikunjungi sejak kepulangan dari Jepang nyaris dua tahun lalu. Pesawat dari maskapai Emirates yang berbadan besar membawa terbang melintasi langit untuk menempuh perjalanan sekitar 16 jam. Bila ditambah dengan transit di bandara Dubai selama 8 jam, lengkaplah 24 jam perjalanan Jakarta-Budapest.
Pesawat menjejakkan rodanya di bandara Budapest saat waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang, atau pukul setengah enam WIB. Perwakilan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dengan penyambutannya yang sangat ramah, sudah menanti di luar pintu bandara untuk menantar ke Hotel. Hembusan udara dingin sekitar 5 derajat Celcius langsung terasa menusuk kulit sesaat setelah keluar bandara. Hmmmm...sudah lama tidak merasakan fuyu (musim dingin).
Kota ini sangat unik, dibagi menjadi Buda dan Pest yang dipisahkan oleh sungai Duna yang besar. Mobil dengan kemudi di sebelah kiri membawa penumpangnya menyusuri jalan-jalan yang banyak pepohonan yang belum lagi tumbuh daunnya setelah musim gugur, menandakan belum datangnya musin semi.
Waktu makan siang tiba. Restoran Thailand, salah satu restoran khas Asia Tenggara yang masih bertahan, adalah tujuan pertama untuk mengisi perut yang sudah tidak bersahabat, sekaligus menyeruput tom yam untuk menghangatkan badan. Jangan kaget, kalau borok menjadi kegemaran masyarakat Budapest. Hiiii...Borok? iya borok...dalam bahasa mereka borok artinya adalah wine. Setidaknya itu adalah kata pertama dalam bahasa magyar (Hungaria) yang familiar karena tertulis dalam daftar menu. Terletak di Eropa bagian tengah menuju timur, disini tidak menggunakan mata uang Euro, sehingga transaksi menggunakan mata uang forint (HUF, Hungaria Forint).
Selanjutnya, kendaraan menuju kantor perwakilan ITPC yang digawangi oleh rekan-rekan dari Kementerian Perdagangan, sebagai ujung tombak untuk mempromosikan produk Indonesia khususnya di sekitar wilayah Eropa Tengah/Timur. Kantor ini diawaki oleh 6 orang yang terdiri dari Direktur, Deputy Directur, tiga orang staf promosi dari Indonesia dan satu orang staf promosi berkewarganegaraan Hungaria.
Dari sekian banyak cerita sepanjang perjalanan, ada satu yang menarik. Masyarakat Hungaria, sebagaimana masyarakat negara maju seperti halnya Jepang, mengalami problem pertumbuhan penduduk. Anak mudanya semakin cenderung memilih menikah diusia yang sangat mapan (untuk tidak menyebutnya telat) sehingga cenderung tidak ingin atau hanya sedikit memiliki anak. Bila di Indonesia penduduknya di anjurkan mempunyai anak banyak (dengan gencarnya program KB), maka disini orang yang mempunyai anak akan diberikan insentif.
Sangat kontras dengan suasana di jalan-jalan umumnya. Para pemuda pemudi tanpa rasa risih berpelukan dan berciuman di sembarang tempat. Untuk sekedar berpisah jalan saja, mereka melakukan adegan yang tidak layak dilihat. Bahkan suami istripun sebaiknya tidak melakukan itu di depan umum. Demikianlah kondisi masyarakat yang tidak mempunyai aturan yang jelas dalam menyalurkan gharizah nau nya.
Setelah cukup mengenal sekilas ITPC, the Aquincum Hotel adalah tujuan terakhir hari pertama ini. Tempat menginap, yang juga tempat penyelenggaraan sidang Codex Committee on Methods of Analysis and Sampling. Tidak seperti kamar hotel di belahan bumi Eropa yang pernah dikunjungi, kamar hotel disini lebih lapang. Harganya pun tidak beda dengan di Indonesia. Cukup nyaman untuk merebahkan badan, menarik nafas panjang. Ada banyak yang harus dikerjakan seminggu kedepan.
Pesawat menjejakkan rodanya di bandara Budapest saat waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang, atau pukul setengah enam WIB. Perwakilan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dengan penyambutannya yang sangat ramah, sudah menanti di luar pintu bandara untuk menantar ke Hotel. Hembusan udara dingin sekitar 5 derajat Celcius langsung terasa menusuk kulit sesaat setelah keluar bandara. Hmmmm...sudah lama tidak merasakan fuyu (musim dingin).
Kota ini sangat unik, dibagi menjadi Buda dan Pest yang dipisahkan oleh sungai Duna yang besar. Mobil dengan kemudi di sebelah kiri membawa penumpangnya menyusuri jalan-jalan yang banyak pepohonan yang belum lagi tumbuh daunnya setelah musim gugur, menandakan belum datangnya musin semi.
Waktu makan siang tiba. Restoran Thailand, salah satu restoran khas Asia Tenggara yang masih bertahan, adalah tujuan pertama untuk mengisi perut yang sudah tidak bersahabat, sekaligus menyeruput tom yam untuk menghangatkan badan. Jangan kaget, kalau borok menjadi kegemaran masyarakat Budapest. Hiiii...Borok? iya borok...dalam bahasa mereka borok artinya adalah wine. Setidaknya itu adalah kata pertama dalam bahasa magyar (Hungaria) yang familiar karena tertulis dalam daftar menu. Terletak di Eropa bagian tengah menuju timur, disini tidak menggunakan mata uang Euro, sehingga transaksi menggunakan mata uang forint (HUF, Hungaria Forint).
Selanjutnya, kendaraan menuju kantor perwakilan ITPC yang digawangi oleh rekan-rekan dari Kementerian Perdagangan, sebagai ujung tombak untuk mempromosikan produk Indonesia khususnya di sekitar wilayah Eropa Tengah/Timur. Kantor ini diawaki oleh 6 orang yang terdiri dari Direktur, Deputy Directur, tiga orang staf promosi dari Indonesia dan satu orang staf promosi berkewarganegaraan Hungaria.
Dari sekian banyak cerita sepanjang perjalanan, ada satu yang menarik. Masyarakat Hungaria, sebagaimana masyarakat negara maju seperti halnya Jepang, mengalami problem pertumbuhan penduduk. Anak mudanya semakin cenderung memilih menikah diusia yang sangat mapan (untuk tidak menyebutnya telat) sehingga cenderung tidak ingin atau hanya sedikit memiliki anak. Bila di Indonesia penduduknya di anjurkan mempunyai anak banyak (dengan gencarnya program KB), maka disini orang yang mempunyai anak akan diberikan insentif.
Sangat kontras dengan suasana di jalan-jalan umumnya. Para pemuda pemudi tanpa rasa risih berpelukan dan berciuman di sembarang tempat. Untuk sekedar berpisah jalan saja, mereka melakukan adegan yang tidak layak dilihat. Bahkan suami istripun sebaiknya tidak melakukan itu di depan umum. Demikianlah kondisi masyarakat yang tidak mempunyai aturan yang jelas dalam menyalurkan gharizah nau nya.
Setelah cukup mengenal sekilas ITPC, the Aquincum Hotel adalah tujuan terakhir hari pertama ini. Tempat menginap, yang juga tempat penyelenggaraan sidang Codex Committee on Methods of Analysis and Sampling. Tidak seperti kamar hotel di belahan bumi Eropa yang pernah dikunjungi, kamar hotel disini lebih lapang. Harganya pun tidak beda dengan di Indonesia. Cukup nyaman untuk merebahkan badan, menarik nafas panjang. Ada banyak yang harus dikerjakan seminggu kedepan.
Monday, 15 February 2016
Ironi sakratul maut
Seperti biasa, bila hari libur tiba salah satu kegiatan favorit adalah berkunjung ke rumah orang tua di kemayoran bersama seluruh 'pasukan'. Dipersiapkanlah semua keperluan sejak sebelum shubuh tiba, mulai dari makanan untuk sarapan di jalan, baju ganti, hingga minta tolong pakde dan bude memesan mobil melalui aplikasi online untuk keberangkatan sekitar pukul 8.
Hal yang tidak berubah adalah keberangkatan yang lebih lambat dari rencana. Bergiliran mandi, ada yang ngajak jalan-jalan dulu keliling komplek dan beli bubur, menyebabkan mobil sewaan baru bisa berangkat menjelang pukul 9.
Saat kendaraan roda empat itu melaju di atas tol jagorawi, teringat status facebook salah seorang tetangga ketika masih tinggal di Nagasaki, yang sedang berlibur bersama anak semata wayangnya ke kampung halaman di Bandung. Karena desakan rasa kangen setelah dua tahun bertemu, akhirnya perjalanan yang semestinya ke kemayoran berbelok ke Cibiru, Bandung.
Yushi kun, anak berumur 6 tahun keturunan Sunda-Jepang itu sudah semakin tinggi dibanding ketika pertemuan terakhir di apato (apartemen) nya dua tahun lalu. Sehari sebelum pulang ke Indonesia, kami memang menginap di apato mereka, mungkin karena beratnya berpisah setelah tiga tahun bertetangga.
Tanpa bisa dibendung lagi, cerita-cerita masa lalu bersahut-sahutan, mengenang nostalgia selama bertetangga di sana. Sampai pada obrolan tentang neneknya Yushi kun yang ketika kami pulang masih terbaring di rumah sakit karena kanker di lidahnya. Karena sudah menjalar ke seluruh organ tubuhnya, sekitar Oktober 2014 si nenek menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Lalu meluncurlah cerita mengenai proses perawatan si nenek hingga ajal menjemputnya dan tradisi orang Jepang yang melarang seluruh anggota keluarganya untuk bepergian jauh minimal satu tahun setelah kematian si nenek. Awalnya si nenek dirawat di rumah sakit umum yang terbaik di Nagasaki karena penyakitnya yang berat. Sempat dilakukan beberapa kali tindakan operasi yang dilanjutkan kemoterapi yang membuat si nenek kesulitan berkomunikasi. Tapi rupanya berbagai tindakan tersebut tidak mampu menundukkan kankernya yang semakin ganas dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kami juga baru tahu kebiasaan yang berlaku di Nagasaki, kalau seseorang sudah tidak ada harapan hidup lagi karena penyakit yang secara medis dokter sudah angkat tangan, si pasien akan dipindahkan ke rumah sakit lain di daerah Motohara. Menurut informasi, disana diberi infus yang berisi obat-obatan yang akan mempercepat kematiannya tanpa harus menderita rasa sakit berkepanjangan. Di hari terakhir kematiannya, si nenek ditunggui oleh banyak orang, selain keluarganya juga teman-teman dekatnya.
Menariknya, di saat sakratul maut itu si nenek ditemani lagu-lagu berirama disko. Mau tau tujuannya? ternyata agar si nenek bisa bahagia menjalani kematiannya, tanpa rasa sakit, sambil berdansa. Dan mereka semua berseru gembira ketika detik-detik sakratul mautnya jari-jari kaki si nenek bergerak-gerak, karena menurut mereka itu menandakan si nenek bergembira ria menghadapi kematiannya yang ditunjukkan dengan menari mengikuti irama musik disko yang diputarkan. Itu juga berarti di alam sana, dia akan senang. Yokatta ne..yokatta ne...
Sangat kontras dengan pemahaman kita. Detik-detik sakratul maut adalah saat yang tepat untuk membimbing dengan kalimat-kalimat tauhid, alih-alih memutarkan lagu disko. Gerakan jari kaki orang yang sedang sakratul maut tentu saja adalah responnya atas diangkatnya ruhnya oleh Malaikat Izrail, yang otomatis akan bergerak meskipun tidak ada irama musik. Demikianlah yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW tentang sakitnya orang yang diangkat ruhnya oleh malaikat maut.
Itu juga yang menjadi kekuatiran terbesar kepada Yushi kun ketika besar. Berbagai pemahaman tentang agama, termasuk mengkhitankannya ketika sedang liburan di Bandung ini meskipun ada keberatan dari keluarga besarnya di Jepang, dilakukan oleh ibunya, dengan harapan agar ketika dewasa kelak pemahaman Islamnya lebih dominan dibandingkan kepercayaannya terhadap leluhur. Dan doa kami pun turut menyertai.
Hal yang tidak berubah adalah keberangkatan yang lebih lambat dari rencana. Bergiliran mandi, ada yang ngajak jalan-jalan dulu keliling komplek dan beli bubur, menyebabkan mobil sewaan baru bisa berangkat menjelang pukul 9.
Saat kendaraan roda empat itu melaju di atas tol jagorawi, teringat status facebook salah seorang tetangga ketika masih tinggal di Nagasaki, yang sedang berlibur bersama anak semata wayangnya ke kampung halaman di Bandung. Karena desakan rasa kangen setelah dua tahun bertemu, akhirnya perjalanan yang semestinya ke kemayoran berbelok ke Cibiru, Bandung.
Yushi kun, anak berumur 6 tahun keturunan Sunda-Jepang itu sudah semakin tinggi dibanding ketika pertemuan terakhir di apato (apartemen) nya dua tahun lalu. Sehari sebelum pulang ke Indonesia, kami memang menginap di apato mereka, mungkin karena beratnya berpisah setelah tiga tahun bertetangga.
Tanpa bisa dibendung lagi, cerita-cerita masa lalu bersahut-sahutan, mengenang nostalgia selama bertetangga di sana. Sampai pada obrolan tentang neneknya Yushi kun yang ketika kami pulang masih terbaring di rumah sakit karena kanker di lidahnya. Karena sudah menjalar ke seluruh organ tubuhnya, sekitar Oktober 2014 si nenek menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Lalu meluncurlah cerita mengenai proses perawatan si nenek hingga ajal menjemputnya dan tradisi orang Jepang yang melarang seluruh anggota keluarganya untuk bepergian jauh minimal satu tahun setelah kematian si nenek. Awalnya si nenek dirawat di rumah sakit umum yang terbaik di Nagasaki karena penyakitnya yang berat. Sempat dilakukan beberapa kali tindakan operasi yang dilanjutkan kemoterapi yang membuat si nenek kesulitan berkomunikasi. Tapi rupanya berbagai tindakan tersebut tidak mampu menundukkan kankernya yang semakin ganas dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kami juga baru tahu kebiasaan yang berlaku di Nagasaki, kalau seseorang sudah tidak ada harapan hidup lagi karena penyakit yang secara medis dokter sudah angkat tangan, si pasien akan dipindahkan ke rumah sakit lain di daerah Motohara. Menurut informasi, disana diberi infus yang berisi obat-obatan yang akan mempercepat kematiannya tanpa harus menderita rasa sakit berkepanjangan. Di hari terakhir kematiannya, si nenek ditunggui oleh banyak orang, selain keluarganya juga teman-teman dekatnya.
Menariknya, di saat sakratul maut itu si nenek ditemani lagu-lagu berirama disko. Mau tau tujuannya? ternyata agar si nenek bisa bahagia menjalani kematiannya, tanpa rasa sakit, sambil berdansa. Dan mereka semua berseru gembira ketika detik-detik sakratul mautnya jari-jari kaki si nenek bergerak-gerak, karena menurut mereka itu menandakan si nenek bergembira ria menghadapi kematiannya yang ditunjukkan dengan menari mengikuti irama musik disko yang diputarkan. Itu juga berarti di alam sana, dia akan senang. Yokatta ne..yokatta ne...
Sangat kontras dengan pemahaman kita. Detik-detik sakratul maut adalah saat yang tepat untuk membimbing dengan kalimat-kalimat tauhid, alih-alih memutarkan lagu disko. Gerakan jari kaki orang yang sedang sakratul maut tentu saja adalah responnya atas diangkatnya ruhnya oleh Malaikat Izrail, yang otomatis akan bergerak meskipun tidak ada irama musik. Demikianlah yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW tentang sakitnya orang yang diangkat ruhnya oleh malaikat maut.
Itu juga yang menjadi kekuatiran terbesar kepada Yushi kun ketika besar. Berbagai pemahaman tentang agama, termasuk mengkhitankannya ketika sedang liburan di Bandung ini meskipun ada keberatan dari keluarga besarnya di Jepang, dilakukan oleh ibunya, dengan harapan agar ketika dewasa kelak pemahaman Islamnya lebih dominan dibandingkan kepercayaannya terhadap leluhur. Dan doa kami pun turut menyertai.
Monday, 11 January 2016
Kancil VS Kura-kura (2)
Malam berikutnya, anak-anak menagih lanjutan cerita kancil dan kura-kura. Hmmmm....baiklah, ini lanjutan ceritanya.
Setelah kalah dalam dua perlombaan pertama, kancil meminta saran dari kura-kura. Bagaimana agar selalu menang? tidak kalah terus menerus.
Kura-kura mendekati kancil dan memberikan sarannya kembali.
"Begini saja, kita ulangi perlombaan dengan lintasan yang tadi".
"Yaaa, itu sih aku kalah lagi. Aku kan gak bisa berenang." kancil buru-buru memprotes ide kura-kura.
"Sebentar dulu. Begini aturannya" lalu kura-kura mulai menjelaskan aturan barunya kepada kancil. Setelah mendengar penjelasan kura-kura-kura, kancil tersenyum dan mengangguk setuju.
"Oke, ayo kita mulai" kata kancil mulai tidak sabar.
Lomba dimulai seperti lomba yang kedua. Kancil berlari melesat meninggalkan kura-kura. Ketika sampai di pinggir sungai, ia berhenti dan beristirahat. Setelah cukup lama menunggu, kura-kura sampai juga di pinggir sungai.
"Ayo kancil, naiklah ke punggung ku" kura-kura menawarkan diri. Dengan sigap kancil melompat ke punggung kura-kura yang telah lebih dulu masuk ke sungai. Lalu kura-kura berenang menyeberangi sungai hingga mereka berdua finish bersama-sama. Kali ini, kancil tidak merasa kalah dari kura-kura.
"Dengan kerjasama yang baik, kita dapat sama-sama menyelesaikan perlombaan ini dan tiba di garis finish bersamaan" kata kura-kura. "Tidak ada diantara kita yang kalah" sambung Kancil sambil tersenyum.
Pelajaran ketiga, diperlukan kerjasama (teamwork) yang baik dan tidak perlu malu meminta bantuan kepada orang lain yang memiliki kemampuan lebih baik dari kita.
"Ada cara lain untuk menyelesaikan lomba ini dengan hasil yang lebih baik" sambung kura-kura.
"Apa itu? ayo beritahu aku" sahut kancil bersemangat. Ia baru saja berpikir ini adalah cara yang terbaik karena tidak ada diantara mereka yang kalah.
Lalu kura-kura mulai menceritakan skenarionya.....
Sesuai dengan yang telah mereka sepakati, dimulailah kembali lomba itu dengan rute yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.
Ketika lomba dimulai, kancil berlari sambil menggendong kura-kura sampai tepian sungai. Lalu mereka berganti peran seperti sebelumnya. Kura-kura masuk ke dalam sungai sambil menggendong kancil diatas tempurungnya. Mereka berdua bersama-sama sampai di garis finish jauh lebih cepat daripada cara sebelumnya. Tidak ada yang kalah dan dapat selesai lebih cepat. Keduanya tersenyum bahagia.
Pelajaran keempat. Kerjasama (teamwork) yang baik akan jauh lebih efektif ketika masing-masing anggota tim fokus pada kemampuan terbaiknya dan saling membantu anggota lain yang kesulitan. Saling menolong dan saling membantu juga akan menambah erat persahabatan.
Dan.... sepertinya kantuk sudah semakin hebat menghampiri. Sebentar lagi mereka terlelap....jangan lupa baca doa sebelum tidur nak.
Setelah kalah dalam dua perlombaan pertama, kancil meminta saran dari kura-kura. Bagaimana agar selalu menang? tidak kalah terus menerus.
Kura-kura mendekati kancil dan memberikan sarannya kembali.
"Begini saja, kita ulangi perlombaan dengan lintasan yang tadi".
"Yaaa, itu sih aku kalah lagi. Aku kan gak bisa berenang." kancil buru-buru memprotes ide kura-kura.
"Sebentar dulu. Begini aturannya" lalu kura-kura mulai menjelaskan aturan barunya kepada kancil. Setelah mendengar penjelasan kura-kura-kura, kancil tersenyum dan mengangguk setuju.
"Oke, ayo kita mulai" kata kancil mulai tidak sabar.
Lomba dimulai seperti lomba yang kedua. Kancil berlari melesat meninggalkan kura-kura. Ketika sampai di pinggir sungai, ia berhenti dan beristirahat. Setelah cukup lama menunggu, kura-kura sampai juga di pinggir sungai.
"Ayo kancil, naiklah ke punggung ku" kura-kura menawarkan diri. Dengan sigap kancil melompat ke punggung kura-kura yang telah lebih dulu masuk ke sungai. Lalu kura-kura berenang menyeberangi sungai hingga mereka berdua finish bersama-sama. Kali ini, kancil tidak merasa kalah dari kura-kura.
"Dengan kerjasama yang baik, kita dapat sama-sama menyelesaikan perlombaan ini dan tiba di garis finish bersamaan" kata kura-kura. "Tidak ada diantara kita yang kalah" sambung Kancil sambil tersenyum.
Pelajaran ketiga, diperlukan kerjasama (teamwork) yang baik dan tidak perlu malu meminta bantuan kepada orang lain yang memiliki kemampuan lebih baik dari kita.
"Ada cara lain untuk menyelesaikan lomba ini dengan hasil yang lebih baik" sambung kura-kura.
"Apa itu? ayo beritahu aku" sahut kancil bersemangat. Ia baru saja berpikir ini adalah cara yang terbaik karena tidak ada diantara mereka yang kalah.
Lalu kura-kura mulai menceritakan skenarionya.....
Sesuai dengan yang telah mereka sepakati, dimulailah kembali lomba itu dengan rute yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.
Ketika lomba dimulai, kancil berlari sambil menggendong kura-kura sampai tepian sungai. Lalu mereka berganti peran seperti sebelumnya. Kura-kura masuk ke dalam sungai sambil menggendong kancil diatas tempurungnya. Mereka berdua bersama-sama sampai di garis finish jauh lebih cepat daripada cara sebelumnya. Tidak ada yang kalah dan dapat selesai lebih cepat. Keduanya tersenyum bahagia.
Pelajaran keempat. Kerjasama (teamwork) yang baik akan jauh lebih efektif ketika masing-masing anggota tim fokus pada kemampuan terbaiknya dan saling membantu anggota lain yang kesulitan. Saling menolong dan saling membantu juga akan menambah erat persahabatan.
Dan.... sepertinya kantuk sudah semakin hebat menghampiri. Sebentar lagi mereka terlelap....jangan lupa baca doa sebelum tidur nak.
Thursday, 7 January 2016
Kancil VS Kura-kura
Mana yang lebih cepat, kancil atau kura-kura? Pertanyaan itu saya ajukan ke anak-anak saya sebelum bercerita sebagai pengantar tidur. Kata mereka, udah gak usah tanya-tanya, langsung aja cerita hehehe. Cerita ini saya dapatkan dari buku Jamil Azzaini yang saya baca saat pulang kampung. Begini ceritanya, yang ditulis kembali dengan versi saya....
Untuk membuktikan kecepatannya, kancil menantang kura-kura berlari dengan jarak yang ditentukan oleh kancil. Kura-kura yang tidak punya perasaan apa-apa terhadap tantangan si kancil mengiyakan saja. Lalu dimulailah perlombaan aneh yang tidak seimbang ini. Kancil langsung melesat berlari jauh meninggalkan kura-kura yang berlari sangat lambat dengan beban tempurungnya. Mengetahui kura-kura jauh tertinggal, sebelum garis finish kancil duduk santai, tentu saja tujuannya untuk meremehkan kura-kura. Setelah sekian lama santai, kura-kura belum juga mampu mendekatinya. Mulailah kancil tertawa senang, semakin santai, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Kura-kura yang terus mempertahankan konsistensinya berlari semakin mendekati kancil yang tertidur, sampai akhirnya ia berhasil melewati kancil dan mencapai garis finish terlebih dahulu. Kancil yang terbangun kaget bukan kepalang...."kamu curang kura-kura, berlari ketika aku tertidur". "Lho, kan tidak ada yang memaksa kamu tertidur. Itu kan salahmu sendiri" bela kura-kura. "Makanya kancil, jangan suka meremehkan yang lain, meskipun ia terlihat lebih lemah dari kamu. Sifat sombong itu akan mencelakakan dirimu sendiri".
Pelajaran pertama, jauhi sifat sombong dan meremehkan orang lain meskipun orang itu terlihat lemah dari kita.
Kancil yang penasaran kembali menantang kura-kura mengulang perlombaan. Dia berjanji tidak akan meremehkan kura-kura dan tidak akan menyombongkan diri. "Baiklah, kita ulangi lagi perlombaannya, tetapi kali ini aku yang menentukan jarak tempuhnya" pinta kura-kura. "Jaraknya adalah dari sini sampai melewati bukit kecil di depan sana, kemudian finish di pinggir hutan". Oke, tidak masalah, ayo kita mulai" kata kancil tidak sabar ingin membuktikan kemampuannya.
Kembali dimulai perlombaan yang tidak seimbang dan aneh ini. Kancil melesat jauh meninggalkan kura-kura yang berlari pelan seseuai kemampuannya. Melaju kencang menuju bukit kecil yang ditentukan kura-kura. Ketika sampai dibalik bukit, kancil terperanjat, ada sungai lebar terbentang di hadapannya sebelum finish di pinggir hutan!!!!
"Bagaimana cara ku melewati sungai ini?" pikirnya cemas.
Kancil berjalan mondar-mandir sambil terus berpikir. Ia terus berjalan mondar-mandir di pinggir sungai, namun seberapa kerasnya ia berpikir tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Untuk menyeberang sungai, ia taku sekali tenggelam karena tidak punya kemampuan berenang. Bila harus mengitari sungai ini, ia tidak tahu seberapa jauh sungai ini ke kiri dan ke kanan. Saat pikirannya masih bergejolak, kura-kura sampai di sebelah kancil, sambil berjalan dengan langkah yang pasti kura-kura masuk ke sungai, berenang menyeberangi sungai hingga tiba di pinggir hutan sebagai garis finish yang telah disepakati.
"Kamu curang lagi kura-kura, kamu menentukan lintasan lomba yang ada sungainya. Kamu kan tahu aku tidak bisa berenang melewati sungai itu" kancil protes keras kepada kura-kura.
"Bukan curang kancil. Di lomba yang pertama, kamu juga yang menentukan lintasan lombanya dan aku tidak protes. Saat gantian aku yang menentukan lintasannya, kamu juga kan sudah setuju. Jadi tidak pada tempatnya kalau baru sekarang kamu protes" sergah kura-kura. "Makanya kancil, sebelum memulai, pelajari dahulu lintasan lombanya."
Pelajaran kedua, kenali medan atau kenali sifat pekerjaan sebelum memulai suatu pekerjaan. Bila pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan (kompetensi) yang kita miliki, pikirkanlah apa yang harus dilakukan sebelum memulai. Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan kemampuan (kompetensi) yang kita miliki, tidak hanya akan dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat tetapi juga membuat kita yang mengerjakan selalu happy.
Kancil berkata lagi kepada kura-kura, "Bagaimana dong saranmu. Aku kan juga mau menang lomba, aku juga mau bisa sampai garis finish". Kura-kura tersenyum, "Ada caranya kancil, sini aku kasih tahu". Kura-kura mendekat ke kancil hendak mengucapkan sesuatu....
Tetapi....saat saya tengok kanan dan kiri anak-anak saya baru saja hendak terlelap.....Hmmmm....ceritanya dilanjut besok saja.
Untuk membuktikan kecepatannya, kancil menantang kura-kura berlari dengan jarak yang ditentukan oleh kancil. Kura-kura yang tidak punya perasaan apa-apa terhadap tantangan si kancil mengiyakan saja. Lalu dimulailah perlombaan aneh yang tidak seimbang ini. Kancil langsung melesat berlari jauh meninggalkan kura-kura yang berlari sangat lambat dengan beban tempurungnya. Mengetahui kura-kura jauh tertinggal, sebelum garis finish kancil duduk santai, tentu saja tujuannya untuk meremehkan kura-kura. Setelah sekian lama santai, kura-kura belum juga mampu mendekatinya. Mulailah kancil tertawa senang, semakin santai, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Kura-kura yang terus mempertahankan konsistensinya berlari semakin mendekati kancil yang tertidur, sampai akhirnya ia berhasil melewati kancil dan mencapai garis finish terlebih dahulu. Kancil yang terbangun kaget bukan kepalang...."kamu curang kura-kura, berlari ketika aku tertidur". "Lho, kan tidak ada yang memaksa kamu tertidur. Itu kan salahmu sendiri" bela kura-kura. "Makanya kancil, jangan suka meremehkan yang lain, meskipun ia terlihat lebih lemah dari kamu. Sifat sombong itu akan mencelakakan dirimu sendiri".
Pelajaran pertama, jauhi sifat sombong dan meremehkan orang lain meskipun orang itu terlihat lemah dari kita.
Kancil yang penasaran kembali menantang kura-kura mengulang perlombaan. Dia berjanji tidak akan meremehkan kura-kura dan tidak akan menyombongkan diri. "Baiklah, kita ulangi lagi perlombaannya, tetapi kali ini aku yang menentukan jarak tempuhnya" pinta kura-kura. "Jaraknya adalah dari sini sampai melewati bukit kecil di depan sana, kemudian finish di pinggir hutan". Oke, tidak masalah, ayo kita mulai" kata kancil tidak sabar ingin membuktikan kemampuannya.
Kembali dimulai perlombaan yang tidak seimbang dan aneh ini. Kancil melesat jauh meninggalkan kura-kura yang berlari pelan seseuai kemampuannya. Melaju kencang menuju bukit kecil yang ditentukan kura-kura. Ketika sampai dibalik bukit, kancil terperanjat, ada sungai lebar terbentang di hadapannya sebelum finish di pinggir hutan!!!!
"Bagaimana cara ku melewati sungai ini?" pikirnya cemas.
Kancil berjalan mondar-mandir sambil terus berpikir. Ia terus berjalan mondar-mandir di pinggir sungai, namun seberapa kerasnya ia berpikir tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Untuk menyeberang sungai, ia taku sekali tenggelam karena tidak punya kemampuan berenang. Bila harus mengitari sungai ini, ia tidak tahu seberapa jauh sungai ini ke kiri dan ke kanan. Saat pikirannya masih bergejolak, kura-kura sampai di sebelah kancil, sambil berjalan dengan langkah yang pasti kura-kura masuk ke sungai, berenang menyeberangi sungai hingga tiba di pinggir hutan sebagai garis finish yang telah disepakati.
"Kamu curang lagi kura-kura, kamu menentukan lintasan lomba yang ada sungainya. Kamu kan tahu aku tidak bisa berenang melewati sungai itu" kancil protes keras kepada kura-kura.
"Bukan curang kancil. Di lomba yang pertama, kamu juga yang menentukan lintasan lombanya dan aku tidak protes. Saat gantian aku yang menentukan lintasannya, kamu juga kan sudah setuju. Jadi tidak pada tempatnya kalau baru sekarang kamu protes" sergah kura-kura. "Makanya kancil, sebelum memulai, pelajari dahulu lintasan lombanya."
Pelajaran kedua, kenali medan atau kenali sifat pekerjaan sebelum memulai suatu pekerjaan. Bila pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan (kompetensi) yang kita miliki, pikirkanlah apa yang harus dilakukan sebelum memulai. Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan kemampuan (kompetensi) yang kita miliki, tidak hanya akan dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat tetapi juga membuat kita yang mengerjakan selalu happy.
Kancil berkata lagi kepada kura-kura, "Bagaimana dong saranmu. Aku kan juga mau menang lomba, aku juga mau bisa sampai garis finish". Kura-kura tersenyum, "Ada caranya kancil, sini aku kasih tahu". Kura-kura mendekat ke kancil hendak mengucapkan sesuatu....
Tetapi....saat saya tengok kanan dan kiri anak-anak saya baru saja hendak terlelap.....Hmmmm....ceritanya dilanjut besok saja.
Wednesday, 6 January 2016
Prihatin
Ketika prostitusi online sudah merajalela
dan menjadi PSK bukan lagi profesi yang hina
Tiada lagi yang berharga saat mahkota tidak dianggap mulia
dan menjadi PSK bukan lagi profesi yang hina
Tiada lagi yang berharga saat mahkota tidak dianggap mulia
Pelacuran dapar tumbuh subur
Juga karena banyak yang mudah tergiur
Tanpa berpikir suatu saat akan terkubur
Juga karena banyak yang mudah tergiur
Tanpa berpikir suatu saat akan terkubur
Bila istri sudah terlihat tidak menarik
Menundukkan pandangan adalah cara terbaik
Karena tak ada lagi pembanding yang lebih cantik
Menundukkan pandangan adalah cara terbaik
Karena tak ada lagi pembanding yang lebih cantik
Sulit berharap ada batasan aurat
Saat gaya berpakaian artis Korea menjadi kiblat
Dan PSK dianggap korban oleh aparat
Saat gaya berpakaian artis Korea menjadi kiblat
Dan PSK dianggap korban oleh aparat
Maka tengoklah anak-anak kita
Perhatikan dan awasi pertumbuhan mereka
Tuntun dengan tauladan, dekaplah dengan untaian doa
Perhatikan dan awasi pertumbuhan mereka
Tuntun dengan tauladan, dekaplah dengan untaian doa
Saturday, 5 September 2015
Mengatur Jadwal
Ada kisah menarik yang bersumber dari sharing status FB seseorang, meskipun wallahu alam ini kisah nyata atau bukan, yang bisa di ambil hikmahnya di kondisi saat ini. Dikisahkan seorang yang baru memulai usahanya di suatu daerah mendapat tiga tawaran untuk mempresentasikan perusahaan (atau produk perusahaannya?) di Jakarta beberapa hari lagi. Tetapi panggilan itu dihari yang berbeda dalam satu minggu, yaitu Senin, Rabu dan Jumat sore.
Ada dua pilihan untuk memenuhi ketiga panggilan tersebut. Pertama, naik pesawat disetiap hari panggilan (Senin, Rabu dan Jumat) sehingga tidak perlu menginap di Jakarta, atau naik kereta tetapi menginap selama seminggu di Jakarta. Dengan kondisi keuangannya yang tidak memadai, kedua opsi itu sangat tidak memungkinkan. Menolak salah satu atau dua panggilan tersebut sama saja menghilangkan kesempatan emas dan menjatuhkan reputasi perusahaan barunya itu.
Ia mulai mengeluh. Mengapa jadwal dan pilihannya sedemikian ruwet dan menyulitkan. Di tengah kegelisahannya, dia cerita ke temannya mengenai permasalahan yang dihadapinya itu, berharap ada solusi cerdas yang bisa diberikan. Bukannya solusi terhadap masalah yang dihadapi, temannya itu malah bertanya, "Jam berapa kamu kalau shalat shubuh?". Seketika dia agak jengkel dengan pertanyaan itu seraya menggerutu dalam hati, "lagi curhat masalah, malah nanya jadwal shalat shubuh gue lagi".
Pertanyaan berikutnya diajukan, "kalau shalat dzuhur, jam berapa?, shalat ashar? shalat maghrib? shalat isya?". Semua jadwal shalat ditanyakan. Meskipun malas menjawabnya, tetapi karena dia yang memulai curhat, terpaksalah dijawabnya. "eee, shalat shubuh saya masih sering kesiangan hehehe, biasanya sih setengah enam lah, dzuhur kadang-kadang di deketin sama waktu ashar biar sekalian. Begitu juga maghrib sama isya. Tapi ya kadang-kadang tepat waktu juga sih, maklum lah sering sibuk sama kerjaan". Begitu jawabnya setengah males, karena jadi membuka kekacauan shalatnya.
Temannya tersenyum ramah sambil berkata. "Mulai sekarang, cobalah shalat shubuh tepat waktu di masjid, begitu juga dengan dzuhur, ashar, magrib dan isya. Jangan ditunda dan diakhirkan. Shalatlah di awal waktu. Usahakan tambahkan dengan sunnah rawatib, dhuha dan tahajud".
Dia sih iya, iya aja dengan nasehat temannya itu. "Lagi gelisah dengan masalah panggilan kerjaan, malah dinasehatin suruh shalat tepat waktu", sambil berlalu dia melanjutkan keluhannya dalam hati.
Dua hari berlalu sejak pertemuan itu, dan dia sudah melupakan dan tidak mempedulikan nasehat temannya. Belum ada solusi dari permasalahannya yang dihadapinya. Kemudian dia berpikir, "ah, coba aja jalanin nasehat temanku itu, toh gak keluar biaya apa-apa. Cuma shalat tepat waktu doang" gumamnya.
Lalu mulailah ia dengan kebiasan barunya itu. Berat sekali rasanya. Harus bangun sebelum shubuh, lalu datang ke masjid. Menghentikan pekerjaannya ketika adzan dzuhur berkumandang. Mengendurkan dan mengalihkan pikirannya ketika masuk waktu ashar, serta berdiam diri di masjid saat maghrib dan isya. Sebisa mungkin ditambah dengan rawtib, dhuha dan tahajud. Semuanya demi shalat tepat waktu. Meskipun berat, sudah dua hari ini dia menjalaninya. Tetap saja tidak ada perubahan dan pemecahan solusi masalahnya.
Ada sedikit keputusasaan. Tetapi dia lalu berpiir, "ah, biarin aja. Terusin aja tetap shalat sesuai jadwal, toh gak ada ruginya dan gak keluar biaya apa-apa". Perasaan lebih rileks terhadap masalahnya mulai muncul. Hari berikutnya dia menerima telepon. "Pak, mohon maaf. Pak Direktur hari Senin ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan, jadi jadwal dengan Bapak di tunda dulu sampai waktu yang belum ditentukan".
Bukannya solusi yang didapatkan, malah penundaan salah satu jadwalnya. Mulai muncul sifat manusiawinya berupa keputusasaan. Namun lagi-lagi tetap saja dia berujar, "ah, biarin aja, toh masih ada dua lagi". Dia tetap istiqamah memelihara shalatnya. Hari berikutnya dia mendapat telepon lagi. "Pak, mohon maaf, jadwal yang hari Rabu terpaksa kami cancel, karena Pak Direktur mempunyai jadwal lain yang harus dihadiri. Kalau Bapak tidak keberatan, jadwalnya kami geser menjadi Jumat pagi pukul 09.30". Langsung saja dia menjawab, "tidak masalah bu, saya setuju dengan jadwal baru itu. Insya Allah saya akan kesana pukul 09.30". Alhamdulillah, mulai ada solusi.
Di siang harinya, kembali telepon berbunyi. "Pak, saya hendak menyampaikan pesan dari Direktur kami. Kami menjadwalkan ulang pertemuan yang tadinya hari Senin menjadi hari Jumat pukul 13.30. Bila Bapak setuju, kami menunggu di kantor kami sesuai jadwal tersebut". Spontan dia menjawab, "Saya setuju Bu. Insya Allah saya akan datang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tersebut".
Kemudian dia bersujud sambil mengucapkan rasa syukur tiada terkira. Tiga jadwal yang awalnya terpisah, Senin, Rabu, Jumat, telah menjadi satu di hari Jumat pagi, siang dan sore. Subhanallah. Biaya bisa dihemat karena dia hanya perlu naik kereta ekonomi di malam hari, pergi ketiga perusahaan tersebut seharian di hari Jumat, dan kembali di malam hari. Tidak perlu menginap, tidak harus naik pesawat.
Cerita diatas telah memaksa saya untuk mengecek ulang jadwal shalat setiap hari. Jangan-jangan ketidakmampuan menghadapi berbagai kesulitan pekerjaan atau pengaturan jadwal kegiatan disebabkan karena tidak mampu menjaga shalat tepat waktu. Saya ulangi kisah tersebut ke isrti saya, dan memintanya untuk memperhatikan juga jadwal shalat dirinya dan anak-anak, sambil berpesan untuk saling mengingatkan shalat tepat waktu.
Allah Maha Mengatur. Allah Maha Berkehendak. Dia-lah penguasa alam semesta. Kadang kita hanya bisa mengeluh ketika berbagai kesulitan dan cobaan mendera, tetapi tidak sadar bahwa seringkali kita abai terhadap kewajiban sebagai seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ketidakteraturan hidup kita boleh jadi akibat ketidakteraturan dalam menjalankan kewajiban yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Ampuni kami Ya Rahman.
Ada dua pilihan untuk memenuhi ketiga panggilan tersebut. Pertama, naik pesawat disetiap hari panggilan (Senin, Rabu dan Jumat) sehingga tidak perlu menginap di Jakarta, atau naik kereta tetapi menginap selama seminggu di Jakarta. Dengan kondisi keuangannya yang tidak memadai, kedua opsi itu sangat tidak memungkinkan. Menolak salah satu atau dua panggilan tersebut sama saja menghilangkan kesempatan emas dan menjatuhkan reputasi perusahaan barunya itu.
Ia mulai mengeluh. Mengapa jadwal dan pilihannya sedemikian ruwet dan menyulitkan. Di tengah kegelisahannya, dia cerita ke temannya mengenai permasalahan yang dihadapinya itu, berharap ada solusi cerdas yang bisa diberikan. Bukannya solusi terhadap masalah yang dihadapi, temannya itu malah bertanya, "Jam berapa kamu kalau shalat shubuh?". Seketika dia agak jengkel dengan pertanyaan itu seraya menggerutu dalam hati, "lagi curhat masalah, malah nanya jadwal shalat shubuh gue lagi".
Pertanyaan berikutnya diajukan, "kalau shalat dzuhur, jam berapa?, shalat ashar? shalat maghrib? shalat isya?". Semua jadwal shalat ditanyakan. Meskipun malas menjawabnya, tetapi karena dia yang memulai curhat, terpaksalah dijawabnya. "eee, shalat shubuh saya masih sering kesiangan hehehe, biasanya sih setengah enam lah, dzuhur kadang-kadang di deketin sama waktu ashar biar sekalian. Begitu juga maghrib sama isya. Tapi ya kadang-kadang tepat waktu juga sih, maklum lah sering sibuk sama kerjaan". Begitu jawabnya setengah males, karena jadi membuka kekacauan shalatnya.
Temannya tersenyum ramah sambil berkata. "Mulai sekarang, cobalah shalat shubuh tepat waktu di masjid, begitu juga dengan dzuhur, ashar, magrib dan isya. Jangan ditunda dan diakhirkan. Shalatlah di awal waktu. Usahakan tambahkan dengan sunnah rawatib, dhuha dan tahajud".
Dia sih iya, iya aja dengan nasehat temannya itu. "Lagi gelisah dengan masalah panggilan kerjaan, malah dinasehatin suruh shalat tepat waktu", sambil berlalu dia melanjutkan keluhannya dalam hati.
Dua hari berlalu sejak pertemuan itu, dan dia sudah melupakan dan tidak mempedulikan nasehat temannya. Belum ada solusi dari permasalahannya yang dihadapinya. Kemudian dia berpikir, "ah, coba aja jalanin nasehat temanku itu, toh gak keluar biaya apa-apa. Cuma shalat tepat waktu doang" gumamnya.
Lalu mulailah ia dengan kebiasan barunya itu. Berat sekali rasanya. Harus bangun sebelum shubuh, lalu datang ke masjid. Menghentikan pekerjaannya ketika adzan dzuhur berkumandang. Mengendurkan dan mengalihkan pikirannya ketika masuk waktu ashar, serta berdiam diri di masjid saat maghrib dan isya. Sebisa mungkin ditambah dengan rawtib, dhuha dan tahajud. Semuanya demi shalat tepat waktu. Meskipun berat, sudah dua hari ini dia menjalaninya. Tetap saja tidak ada perubahan dan pemecahan solusi masalahnya.
Ada sedikit keputusasaan. Tetapi dia lalu berpiir, "ah, biarin aja. Terusin aja tetap shalat sesuai jadwal, toh gak ada ruginya dan gak keluar biaya apa-apa". Perasaan lebih rileks terhadap masalahnya mulai muncul. Hari berikutnya dia menerima telepon. "Pak, mohon maaf. Pak Direktur hari Senin ada pertemuan penting yang tidak bisa ditinggalkan, jadi jadwal dengan Bapak di tunda dulu sampai waktu yang belum ditentukan".
Bukannya solusi yang didapatkan, malah penundaan salah satu jadwalnya. Mulai muncul sifat manusiawinya berupa keputusasaan. Namun lagi-lagi tetap saja dia berujar, "ah, biarin aja, toh masih ada dua lagi". Dia tetap istiqamah memelihara shalatnya. Hari berikutnya dia mendapat telepon lagi. "Pak, mohon maaf, jadwal yang hari Rabu terpaksa kami cancel, karena Pak Direktur mempunyai jadwal lain yang harus dihadiri. Kalau Bapak tidak keberatan, jadwalnya kami geser menjadi Jumat pagi pukul 09.30". Langsung saja dia menjawab, "tidak masalah bu, saya setuju dengan jadwal baru itu. Insya Allah saya akan kesana pukul 09.30". Alhamdulillah, mulai ada solusi.
Di siang harinya, kembali telepon berbunyi. "Pak, saya hendak menyampaikan pesan dari Direktur kami. Kami menjadwalkan ulang pertemuan yang tadinya hari Senin menjadi hari Jumat pukul 13.30. Bila Bapak setuju, kami menunggu di kantor kami sesuai jadwal tersebut". Spontan dia menjawab, "Saya setuju Bu. Insya Allah saya akan datang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tersebut".
Kemudian dia bersujud sambil mengucapkan rasa syukur tiada terkira. Tiga jadwal yang awalnya terpisah, Senin, Rabu, Jumat, telah menjadi satu di hari Jumat pagi, siang dan sore. Subhanallah. Biaya bisa dihemat karena dia hanya perlu naik kereta ekonomi di malam hari, pergi ketiga perusahaan tersebut seharian di hari Jumat, dan kembali di malam hari. Tidak perlu menginap, tidak harus naik pesawat.
Cerita diatas telah memaksa saya untuk mengecek ulang jadwal shalat setiap hari. Jangan-jangan ketidakmampuan menghadapi berbagai kesulitan pekerjaan atau pengaturan jadwal kegiatan disebabkan karena tidak mampu menjaga shalat tepat waktu. Saya ulangi kisah tersebut ke isrti saya, dan memintanya untuk memperhatikan juga jadwal shalat dirinya dan anak-anak, sambil berpesan untuk saling mengingatkan shalat tepat waktu.
Allah Maha Mengatur. Allah Maha Berkehendak. Dia-lah penguasa alam semesta. Kadang kita hanya bisa mengeluh ketika berbagai kesulitan dan cobaan mendera, tetapi tidak sadar bahwa seringkali kita abai terhadap kewajiban sebagai seorang hamba kepada Sang Pencipta. Ketidakteraturan hidup kita boleh jadi akibat ketidakteraturan dalam menjalankan kewajiban yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Ampuni kami Ya Rahman.
Thursday, 28 May 2015
Cemburu
Di status FB Jamil Azzaini tanggal 22 Mei 2015 ada artikel menarik dengan judul 'Cemburu itu Perlu'. Menurut Inspirator Sukses Mulia yang sering dipanggil dengan sebutan 'Kek Jamil' tersebut, salah satu bumbu cinta dalam rumah tangga yang harmonis adalah rasa cemburu. 'Kamu bukanlah laki-laki apabila tidak pernah cemburu dengan istrimu'.
Ada tiga hal yang bisa menimbulkan rasa cemburu bagi suami dan perlu dihindari wanita. Pertama, bila sang istri berjanji bertemu dengan laki-laki dewasa lain tanpa izin atau memberitahu suami. Tidak peduli apakah pertemuan itu di luar rumah atau di rumah sendiri, seorang istri perlu membiasakan diri untuk meminta izin suami bila hendak bertemu laki-laki dewasa lain.
Kedua, bila sang istri menceritakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki lelaki lain, baik dalam hal karir, bisnis, fisik, kepandaian, dsb. Membandingkan suami dengan lelaki lain hanya akan membuat timbul rasa cemburu suami. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga lebih baik fokus pada kelebihan suami tanpa perlu membandingkan dengan yang lain sehingga suami tidak merasa lemah atau kecil di mata istri sementara lelaki lain terlihat lebih hebat.
Ketiga, sang istri sibuk melayani atau bercengkrama dengan orang lain sehingga mengabaikan suami dan anak-anaknya. Biasanya terjadi saat pertemuan keluarga, acara pernikahan, reuni atau pertemuan besar lainya yang melibatkan pertemuan dengan teman-teman lamanya, apalagi bila kesibukan bercengkramanya adalah dengan lelaki lain sampai melupakan suami dan anaknya.
Itu adalah tiga hal yang bisa menimbulkan rasa cemburu suami kepada istri yang dituliskan oleh Kek Jamil, yang semuanya gue banget', dengan beberapa tambahan berikut. Termasuk yang dalam kategori ketiga versi saya adalah bila istri terlalu sibuk bekerja hingga waktu dan perhatiannya berkurang untuk suami dan anaknya. Seberapa pun sibuk bekerja, tidak ada alasan untuk tidak telp anak-anak di rumah meskipun hanya sekedar menanyakan apakah mereka sudah shalat, makan, tidur siang, dsb.
Termasuk dalam kategori yang kedua, menurut pengamatan saya, meskipun tidak selalu, terkadang ada juga suami yang cemburu ketika istrinya mempunyai karir yang lebih baik, tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau gaji yang lebih besar. Kondisi ini sering menimbulkan suasana yang kurang enak terlebih ketika istri menceritakan kesibukan pekerjaannya yang suami tidak punya pengetahuan dan pengalaman disana. Suami akan merasa lebih kecil dan lemah merupakan bibit munculnya kecemburuan.
Tambahan lain veris saya untuk kategori pertama adalah yang berkenaan dengan ijin suami. Tidak hanya untuk keperluan bertemu dengan lelaki dewasa lain, bahkan untuk berbagai keperluan lain pun seorang istri perlu terbiasa meminta ijin suami. Sebagai contoh, seorang istri yang bekerja kemudian mendapat tugas dinas luar kota, sebelum menyatakan kesediaan kepada atasannya, jauh lebih baik meminta ijin dari suaminya. Bukan dibalik, setelah mendapat tugas, baru memberitahu suami.
Perasaan cemburu suami tidak perlu dimuntahkan dalam bentuk kemarahan, kata-kata yang menyakitkan apalagi tindakan fisik. Percayalah, penyesalah yang akan timbul, seperti penggalan lagunya Sheila on 7 ini:
Takkan kubiarkan kau menangis
Takkan kubiarkan kau terkikis
Terluka perasaan oleh semua ucapanku
Maafkanlah semua sifat kasarku
Bukan maksud untuk melukaimu
Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu
Bila kau tak disampingku
Seorang istri adalah bidadari bagi suaminya dan panutan bagi anak-anaknya di rumah. Tugas yang sangat berat, tetapi sangat mulia. Mulai dari mengerjakan hal-hal besar dan berat, hingga menjaga perasaaan cemburu suaminya. Suami yang mulai muncul rasa cemburunya tidak perlu mengumbar emosinya dengan sifat kasar atau perkataan menyakitkan yang dapat melukai perasaan. Apalagi, jangan-jangan istri juga mempunyai parameter rasa cemburu yang lebih banyak dari suami dan suami cenderung cuek dengan perasaan istri.
Ada tiga hal yang bisa menimbulkan rasa cemburu bagi suami dan perlu dihindari wanita. Pertama, bila sang istri berjanji bertemu dengan laki-laki dewasa lain tanpa izin atau memberitahu suami. Tidak peduli apakah pertemuan itu di luar rumah atau di rumah sendiri, seorang istri perlu membiasakan diri untuk meminta izin suami bila hendak bertemu laki-laki dewasa lain.
Kedua, bila sang istri menceritakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki lelaki lain, baik dalam hal karir, bisnis, fisik, kepandaian, dsb. Membandingkan suami dengan lelaki lain hanya akan membuat timbul rasa cemburu suami. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga lebih baik fokus pada kelebihan suami tanpa perlu membandingkan dengan yang lain sehingga suami tidak merasa lemah atau kecil di mata istri sementara lelaki lain terlihat lebih hebat.
Ketiga, sang istri sibuk melayani atau bercengkrama dengan orang lain sehingga mengabaikan suami dan anak-anaknya. Biasanya terjadi saat pertemuan keluarga, acara pernikahan, reuni atau pertemuan besar lainya yang melibatkan pertemuan dengan teman-teman lamanya, apalagi bila kesibukan bercengkramanya adalah dengan lelaki lain sampai melupakan suami dan anaknya.
Itu adalah tiga hal yang bisa menimbulkan rasa cemburu suami kepada istri yang dituliskan oleh Kek Jamil, yang semuanya gue banget', dengan beberapa tambahan berikut. Termasuk yang dalam kategori ketiga versi saya adalah bila istri terlalu sibuk bekerja hingga waktu dan perhatiannya berkurang untuk suami dan anaknya. Seberapa pun sibuk bekerja, tidak ada alasan untuk tidak telp anak-anak di rumah meskipun hanya sekedar menanyakan apakah mereka sudah shalat, makan, tidur siang, dsb.
Termasuk dalam kategori yang kedua, menurut pengamatan saya, meskipun tidak selalu, terkadang ada juga suami yang cemburu ketika istrinya mempunyai karir yang lebih baik, tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau gaji yang lebih besar. Kondisi ini sering menimbulkan suasana yang kurang enak terlebih ketika istri menceritakan kesibukan pekerjaannya yang suami tidak punya pengetahuan dan pengalaman disana. Suami akan merasa lebih kecil dan lemah merupakan bibit munculnya kecemburuan.
Tambahan lain veris saya untuk kategori pertama adalah yang berkenaan dengan ijin suami. Tidak hanya untuk keperluan bertemu dengan lelaki dewasa lain, bahkan untuk berbagai keperluan lain pun seorang istri perlu terbiasa meminta ijin suami. Sebagai contoh, seorang istri yang bekerja kemudian mendapat tugas dinas luar kota, sebelum menyatakan kesediaan kepada atasannya, jauh lebih baik meminta ijin dari suaminya. Bukan dibalik, setelah mendapat tugas, baru memberitahu suami.
Perasaan cemburu suami tidak perlu dimuntahkan dalam bentuk kemarahan, kata-kata yang menyakitkan apalagi tindakan fisik. Percayalah, penyesalah yang akan timbul, seperti penggalan lagunya Sheila on 7 ini:
Takkan kubiarkan kau menangis
Takkan kubiarkan kau terkikis
Terluka perasaan oleh semua ucapanku
Maafkanlah semua sifat kasarku
Bukan maksud untuk melukaimu
Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu
Bila kau tak disampingku
Seorang istri adalah bidadari bagi suaminya dan panutan bagi anak-anaknya di rumah. Tugas yang sangat berat, tetapi sangat mulia. Mulai dari mengerjakan hal-hal besar dan berat, hingga menjaga perasaaan cemburu suaminya. Suami yang mulai muncul rasa cemburunya tidak perlu mengumbar emosinya dengan sifat kasar atau perkataan menyakitkan yang dapat melukai perasaan. Apalagi, jangan-jangan istri juga mempunyai parameter rasa cemburu yang lebih banyak dari suami dan suami cenderung cuek dengan perasaan istri.
Friday, 8 May 2015
Parenting 2: Kebutuhan, keinginan atau pemikiran?
Salah satu oleh-oleh parenting adalah pemahaman terhadap perbedaan antara kebutuhan, keinginan atau pemikiran dalam merespon tingkah laku anak. Apa maksudnya?
Ini sebenarnya implementasi dari tulisan sebelumnya tentang
gharizah. Manusia pada dasarnya memiliki
kebutuhan jasmani dan naluri (gharizah).
Kebutuhan jasmani adalah sesuatu yang harus dipenuhi, karena kalau tidak
akan sampai berakibat kematian. Contohnya
adalah kalau lapar, harus makan, haus harus minum, kedinginan, kepanasan,
dll.
Lain halnya dengan gharizah yang kalau tidak dipenuhi tidak
sampai menimbulkan kematian, tetapi bisa membuat seseorang gelisah. Untuk pembahasan anak-anak ini dibatasi pada
gharizah baqa, yang salah satu wujudnya adalah keinginan untuk memiliki atau
mendapatkan sesuatu.
Pemahaman terhadap konsep ini akan membantu orang tua dalam
merespon permintaan anak. setiap kasus tentu mempunyai cara penyelesaiannya sendiri. Sebagai contoh saja,
ketika seorang ayah pulang kerja, lalu setiap hari anaknya bertanya apakah bawa makanan?permintaan anak ini bisa dianalisa sebagai berikut.
Apabila permintaan tersebut adalah kebutuhan, artinya si anak memang lapar dan saat itu tidak mau makan malam kecuali dengan ayahnya maka itu merupakan kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi oleh ayah. Tetapi bisa saja permintaan tersebut hanya karena si anak ingin memiliki sesuatu. Misalnya ingin martabak spesial, ice cream, sate ayam, dsb.
Terhadap keinginan ini (yang bukan merupakan kebutuhan) yang merupakan wujud dari gharizah bawa, ayah tidak wajib memenuhi. Ada dua hal yang bisa dilakukan yaitu mengalihkan atau menguatkan Mengalihkan bisa saja dilakukan misalnya bila saat itu kondisi keuangan tidak memungkinkan sehingga anak dapat diberikan pengertian untuk memahami kondisi ayahnya. Atau bisa dengan menguatkan, misalnya diberikan penjelasan bahwa malam hari tidak baik makan ice cream, lebih baik kita beli buah saja, kan tetap bisa makan dan lagi itu menyehatkan.
Lalu apa hubungannya dengan pemikiran? Orang tua disarankan juga memahami perilaku anak yang di era keterbukaan informasi ini terpapar berbagai hal yang positif maupun negatif. Bisa saja bahwa permintaan anak tersebut merupakan wujud dari pemahaman dia bahwa setiap ayah yang pulang kerja itu harus bawa makanan, kalau tidak itu tandanaya ayah tidak sayang. Bila demikian, tugas orang tua harus menjelaskan bahwa wujud kasih sayang itu tidak mesti dengan membawa makanan. Selalu mendoakan kebaikan itu juga merupakan wujud kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.
Thursday, 7 May 2015
Pengingat waktu Shalat
Biarkan saja malam semakin pekat
itu tanda alami datangnya mentari
ikhlaskan saja cobaan yang semakin berat
karena sesudah kesulitan ada kemudahan menanti
Akan dijelang waktu shubuh
yang udaranya menyegarkan tubuh
maka tidak perlu lagi mengeluh
ada Allah tempat berteduh
Sambil menanti waktu dzuhur
sesekali ingatlah alam kubur
tempat tubuh kaku kan terbujur
dan perlahan-lahan akan hancur
Saat menyongsong waktu ashar
tanyakan, dapatkah lisan ini lancar?
ketika dihampiri malaikat nakir dan munkar
dengan pertanyaan yang mencecar
Maka tatkala datang waktu maghrib
bersegeralah melaksanakan perintah yang wajib
lengkapi dengan perintah sunnah dan rawatib
kelak amal kan jadi sahabat karib
Dan tersenyumlah menyambut waktu isya
sebagai pengingat yang sempurna
manusia dicipta 'tuk ibadah semata
hingga saat kembali pada-Nya
itu tanda alami datangnya mentari
ikhlaskan saja cobaan yang semakin berat
karena sesudah kesulitan ada kemudahan menanti
Akan dijelang waktu shubuh
yang udaranya menyegarkan tubuh
maka tidak perlu lagi mengeluh
ada Allah tempat berteduh
Sambil menanti waktu dzuhur
sesekali ingatlah alam kubur
tempat tubuh kaku kan terbujur
dan perlahan-lahan akan hancur
Saat menyongsong waktu ashar
tanyakan, dapatkah lisan ini lancar?
ketika dihampiri malaikat nakir dan munkar
dengan pertanyaan yang mencecar
Maka tatkala datang waktu maghrib
bersegeralah melaksanakan perintah yang wajib
lengkapi dengan perintah sunnah dan rawatib
kelak amal kan jadi sahabat karib
Dan tersenyumlah menyambut waktu isya
sebagai pengingat yang sempurna
manusia dicipta 'tuk ibadah semata
hingga saat kembali pada-Nya
Wednesday, 6 May 2015
Parenting
Beberapa waktu lalu Chacha meminta saya untuk ikut kegiatan parenting di sekolahnya. Dia beralasan, ini kegiatan yang wajib dihadiri oleh orang tua. Singkat cerita, datanglah saya ke acara tersebut dengan full team.
Subhanallah, saya harus mengucapkan terima kasih ke Chacha yang sudah sedikit memaksa saya untuk datang karena banyak sekali informasi dan pelajaran yang belum saya ketahui tentang pendidikan anak. Beberapa hal yang menarik dari kegiatan tersebut Insya Allah akan saya tuliskan dalam beberapa bagian.
Anak mempunyai sel otak yang terus berkembang hingga umur 12 tahun. Dalam kaitannya dengan pendidikan, anak harus diberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan di berbagai bidang, tidak perlu dipaksakan untuk menekuni bidang tertentu.
Oleh karena itu sekolah ini mengajarkan bernyanyi (pantes aja Chacha beberapa kali minta abinya main gitar untuk nyanyi lagu 'Bunda' -nya Melly Goeslaw, Hymne Guru, dll). Tetapi perlu dicatat bahwa kegiatan ini bukan untuk mengarahkan anak menjadi penyanyi, apalagi terus ikut kontes-kontesan.
Demikian juga diajarkan tentang ketrampilan berenang (dengan memisahkan waktunya antara laki-laki dan perempuan), berpuisi/berpantun, berkebun, berjualan, wisata alam, dll sesuai dengan porsinya sebagai anak kelas 2 SD. Tentu saja, sebagai dasarnya tetap diajarkan kemampuan baca tulis hitung, Qiraati, pemahaman tentang syariat Islam, dsb.
Hal yang sangat menjadi perhatian adalah bahwa orang tua harus menjadi mentor utama bagi pendidikan anak serta menjadi tauladan bagi mereka. Sebagai contoh, bila orang tua berkeinginan anaknya menjadi hafidz Quran, sudah selayaknya orang tuanya pun berusaha keras mencontohkan dengan sering membaca dan menghafal Quran. Insya Allah akan menjadi motivasi ekstra bagi anak.
Selain tentang pelajaran, orang tua pun harus ikut 'mereview' kegiatan lain yang dilakukan anak di sekolah. Hmmmm, saya jadi tahu kalau akhir-akhir ini Cahcha sering ngajak nyanyi 'Bunda' berarti mungkin di sekolahnya sedang diajarkan nyanyi lagi itu. Satu lagi yang menggelitik adalah, orang tua sesekali sebaiknya membuat puisi untuk anaknya yang juga berguna bagi anak dalam melatih kemampuannya. Tidak perlu panjang-panjang, untuk sekedar anak mengetahui tentang puisi yang berima.
Ngomong-ngomong, ulama-ulama atau ilmuwan muslim dahulu umumnya adalah seorang polymath, yaitu orang yang menguasai berbagai bidang ilmu. Ketika kita mengenal Al Biruni sebagai ahli astronomi, ternyata beliau telah hafal Quran sejak sebelum baligh, ahli fiqih, ahli geografi, matematika, sejarah, kedokteran, dan ketinggalan juga......ahli syair/sastra, terbukti dengan bukunya yang ditulis di berbagai bidang tersebut.
Saat ditanya cita-cita, anak saya menjawab banyak, dan yang agak mengagetkan adalah jawaban Fiya. Dia ingin jadi ibu rumah tangga, ingin jadi hafidzah, ingin jualan kue ulang tahun, ingin banyak menolong orang dan terakhir ingin masuk surga. Hmmmmm, sepertinya bukan tugas yang ringan untuk orang tua seperti saya yang memiliki kemampuan dan pengetahuan terbatas.
Subhanallah, saya harus mengucapkan terima kasih ke Chacha yang sudah sedikit memaksa saya untuk datang karena banyak sekali informasi dan pelajaran yang belum saya ketahui tentang pendidikan anak. Beberapa hal yang menarik dari kegiatan tersebut Insya Allah akan saya tuliskan dalam beberapa bagian.
Anak mempunyai sel otak yang terus berkembang hingga umur 12 tahun. Dalam kaitannya dengan pendidikan, anak harus diberi kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan di berbagai bidang, tidak perlu dipaksakan untuk menekuni bidang tertentu.
Oleh karena itu sekolah ini mengajarkan bernyanyi (pantes aja Chacha beberapa kali minta abinya main gitar untuk nyanyi lagu 'Bunda' -nya Melly Goeslaw, Hymne Guru, dll). Tetapi perlu dicatat bahwa kegiatan ini bukan untuk mengarahkan anak menjadi penyanyi, apalagi terus ikut kontes-kontesan.
Demikian juga diajarkan tentang ketrampilan berenang (dengan memisahkan waktunya antara laki-laki dan perempuan), berpuisi/berpantun, berkebun, berjualan, wisata alam, dll sesuai dengan porsinya sebagai anak kelas 2 SD. Tentu saja, sebagai dasarnya tetap diajarkan kemampuan baca tulis hitung, Qiraati, pemahaman tentang syariat Islam, dsb.
Hal yang sangat menjadi perhatian adalah bahwa orang tua harus menjadi mentor utama bagi pendidikan anak serta menjadi tauladan bagi mereka. Sebagai contoh, bila orang tua berkeinginan anaknya menjadi hafidz Quran, sudah selayaknya orang tuanya pun berusaha keras mencontohkan dengan sering membaca dan menghafal Quran. Insya Allah akan menjadi motivasi ekstra bagi anak.
Selain tentang pelajaran, orang tua pun harus ikut 'mereview' kegiatan lain yang dilakukan anak di sekolah. Hmmmm, saya jadi tahu kalau akhir-akhir ini Cahcha sering ngajak nyanyi 'Bunda' berarti mungkin di sekolahnya sedang diajarkan nyanyi lagi itu. Satu lagi yang menggelitik adalah, orang tua sesekali sebaiknya membuat puisi untuk anaknya yang juga berguna bagi anak dalam melatih kemampuannya. Tidak perlu panjang-panjang, untuk sekedar anak mengetahui tentang puisi yang berima.
Ngomong-ngomong, ulama-ulama atau ilmuwan muslim dahulu umumnya adalah seorang polymath, yaitu orang yang menguasai berbagai bidang ilmu. Ketika kita mengenal Al Biruni sebagai ahli astronomi, ternyata beliau telah hafal Quran sejak sebelum baligh, ahli fiqih, ahli geografi, matematika, sejarah, kedokteran, dan ketinggalan juga......ahli syair/sastra, terbukti dengan bukunya yang ditulis di berbagai bidang tersebut.
Saat ditanya cita-cita, anak saya menjawab banyak, dan yang agak mengagetkan adalah jawaban Fiya. Dia ingin jadi ibu rumah tangga, ingin jadi hafidzah, ingin jualan kue ulang tahun, ingin banyak menolong orang dan terakhir ingin masuk surga. Hmmmmm, sepertinya bukan tugas yang ringan untuk orang tua seperti saya yang memiliki kemampuan dan pengetahuan terbatas.
Friday, 10 April 2015
Baik atau tidak baik?
Saat ini sulit sekali menilai sesuatu itu baik atau tidak baik. Opini,
broadcast atau pemberitaan media seringkali memutarbalikkan yang baik
dan tidak baik.
Apakah kenaikan bbm, elpiji, listrik, harga-harga kebutuhan pokok atau pemblokiran situs itu baik? Akan tergantung siapa yang menilai dan memberitakan, sudut pandang/standar yang digunakan untuk menilai itu baik atau tidak baik.
Selama standar perbuatan yang digunakan berbeda, akan selalu berbeda menilai sesuatu itu baik atau tidak baik.
Pemimpin ibarat tameng bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik akan membuat kebijakan yang baik. Rakyat yang baik akan selalu mendoakan agar mempunyai pemimpin yang baik.
Tidak perlu menunggu merasa baik untuk berbuat baik. Orang yang dianggap baik seringkali berbuat baik karena belum merasa baik.
Bila suatu saat merasa lelah setelah berbuat baik, ingat saja bahwa rasa lelah itu mudah hilang sedangkan nikmat surga itu abadi.
Pun bila suatu saat merasa senang berbuat tidak baik, ingat saja bahwa rasa senang itu mudah hilang sedangkan siksa neraka itu abadi.
Apakah kenaikan bbm, elpiji, listrik, harga-harga kebutuhan pokok atau pemblokiran situs itu baik? Akan tergantung siapa yang menilai dan memberitakan, sudut pandang/standar yang digunakan untuk menilai itu baik atau tidak baik.
Selama standar perbuatan yang digunakan berbeda, akan selalu berbeda menilai sesuatu itu baik atau tidak baik.
Pemimpin ibarat tameng bagi rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik akan membuat kebijakan yang baik. Rakyat yang baik akan selalu mendoakan agar mempunyai pemimpin yang baik.
Tidak perlu menunggu merasa baik untuk berbuat baik. Orang yang dianggap baik seringkali berbuat baik karena belum merasa baik.
Bila suatu saat merasa lelah setelah berbuat baik, ingat saja bahwa rasa lelah itu mudah hilang sedangkan nikmat surga itu abadi.
Pun bila suatu saat merasa senang berbuat tidak baik, ingat saja bahwa rasa senang itu mudah hilang sedangkan siksa neraka itu abadi.
Thursday, 19 March 2015
Gharizah
Setiap manusia memiliki kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Contohnya, bila lapar kita makan, haus lalu minum, dsb. Bila kebutuhan jasmani tidak dipenuhi, bisa sampai menyebabkan kematian. Selain itu, setiap manusia juga memiliki gharizah (naluri). Naluri ini tidak dapat 'dibunuh'/dihilangkan, bagaimanapun manusia membuat aturannya sendiri. Meskipun bila naluri tidak dipenuhi tidak akan sampai menyebabkan kematian, tetapi dapat menyebabkan kegelisahan. Pemenuhan naluri ini haruslah sesuai dengan fitrah manusia, karena kalau tidak berbagai penyimpangan dapat saja terjadi.
Naluri yang pertama adalah gharizatun baqa (naluri yang berhubungan dengan mempertahankan diri). Pengejawantahan dari naluri ini adalah kecenderungan manusia untuk mempertahankan diri ketika sedang terancam, mempertahankan pendapat atas suatu permasalahan, atau bisa juga kecenderungan untuk berkuasa, mempunyai kedudukan/status sosial yang tinggi, ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin disalahkan, dsb.
Naluri yang kedua adalah gharizatun nau' (naluri yang berhubungan dengan rasa kasih sayang). Dari naluri ini manusia mempunyai kecenderungan untuk sayang terhadap anak, istri/suami, ayah/ibu, ingin saling melindungi, ingin mempunyai keturunan, suka terhadap lawan jenis dsb.
Naluri yang ketiga atau yang terakhir adalah gharizatun tadayyun (naluri yang berhubungan dengan mensucikan sesuatu). Dari naluri ini, sebagai makhluk yang lemah, manusia mempunyai kecenderungan untuk mensucikan atau bergantung terhadap sesuatu yang 'Maha'. Oleh karena itu manusia membutuhkan agama, berdoa dan beribadah kepada Tuhan, merasa lemah dihadapan Pencipta, membutuhkan pertolongan-Nya, dsb. Bahkan orang atheis yang tidak beragamapun tetap mempunyai kecenderungan mensucikan sesuatu. Sebagai contoh, mendewakan Lenin, si pencetus ajaran komunis.
Islam datang untuk mengatur cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan memenuhi seluruh gharizah-nya secara paripurna. Islam mengatur makanan/minuman yang layak dikonsumsi, etika makan/minum dan bagaimana cara yang baik dalam mendapatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Islam juga mengatur cara menyalurkan gharizahnya sesuai dengan fitrah dasar manusia. Islam memberikan tuntunan etika orang berkuasa, mempertahankan kehormatan diri dan negara. Islam juga mengatur hubungan laki-laki dan wanita serta batasan auratnya serta penyaluran rasa kasih sayang dan mempertahankan keturunan melalui ikatan perkawinan. Bisa dilihat dengan mudah, bahwa tanpa aturan yang jelas manusia memenuhi gharizatun nau' nya dengan pacaran, free sex atau perkawinan sesama jenis, sehingga manusia dikategorikan lebih menjijikan dari binatang sekalipun. Di sisi lain, ada yang melarang perkawinan sehingga bisa dipastikan aturan tersebut akan menimbulkan kegelisahan pada yang menjalankan atau bisa jadi berujung pada penyimpangan.
Begitupun, Islam mengatur tentang tata cara beribadah, siapa yang layak disembah, diikuti dan tempat bergantung, yang semuanya sesuai dengan fitrah manusia. Tanpa aturan yang jelas, manusia akan menyembah sesama manusia, menyembah atau mensucikan benda atau makhluk hidup lain untuk memenuhi gharizatun tadayyun-nya.
Naluri yang pertama adalah gharizatun baqa (naluri yang berhubungan dengan mempertahankan diri). Pengejawantahan dari naluri ini adalah kecenderungan manusia untuk mempertahankan diri ketika sedang terancam, mempertahankan pendapat atas suatu permasalahan, atau bisa juga kecenderungan untuk berkuasa, mempunyai kedudukan/status sosial yang tinggi, ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin disalahkan, dsb.
Naluri yang kedua adalah gharizatun nau' (naluri yang berhubungan dengan rasa kasih sayang). Dari naluri ini manusia mempunyai kecenderungan untuk sayang terhadap anak, istri/suami, ayah/ibu, ingin saling melindungi, ingin mempunyai keturunan, suka terhadap lawan jenis dsb.
Naluri yang ketiga atau yang terakhir adalah gharizatun tadayyun (naluri yang berhubungan dengan mensucikan sesuatu). Dari naluri ini, sebagai makhluk yang lemah, manusia mempunyai kecenderungan untuk mensucikan atau bergantung terhadap sesuatu yang 'Maha'. Oleh karena itu manusia membutuhkan agama, berdoa dan beribadah kepada Tuhan, merasa lemah dihadapan Pencipta, membutuhkan pertolongan-Nya, dsb. Bahkan orang atheis yang tidak beragamapun tetap mempunyai kecenderungan mensucikan sesuatu. Sebagai contoh, mendewakan Lenin, si pencetus ajaran komunis.
Islam datang untuk mengatur cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan memenuhi seluruh gharizah-nya secara paripurna. Islam mengatur makanan/minuman yang layak dikonsumsi, etika makan/minum dan bagaimana cara yang baik dalam mendapatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Islam juga mengatur cara menyalurkan gharizahnya sesuai dengan fitrah dasar manusia. Islam memberikan tuntunan etika orang berkuasa, mempertahankan kehormatan diri dan negara. Islam juga mengatur hubungan laki-laki dan wanita serta batasan auratnya serta penyaluran rasa kasih sayang dan mempertahankan keturunan melalui ikatan perkawinan. Bisa dilihat dengan mudah, bahwa tanpa aturan yang jelas manusia memenuhi gharizatun nau' nya dengan pacaran, free sex atau perkawinan sesama jenis, sehingga manusia dikategorikan lebih menjijikan dari binatang sekalipun. Di sisi lain, ada yang melarang perkawinan sehingga bisa dipastikan aturan tersebut akan menimbulkan kegelisahan pada yang menjalankan atau bisa jadi berujung pada penyimpangan.
Begitupun, Islam mengatur tentang tata cara beribadah, siapa yang layak disembah, diikuti dan tempat bergantung, yang semuanya sesuai dengan fitrah manusia. Tanpa aturan yang jelas, manusia akan menyembah sesama manusia, menyembah atau mensucikan benda atau makhluk hidup lain untuk memenuhi gharizatun tadayyun-nya.
Si Comel
Tadi malam, di tengah makan malam bersama, tanpa sebab yang jelas tiba-tiba Fiya menutup muka dengan kedua tanggannya sambil menangis. Sampai selesai makan dia gak mau cerita penyebabnya menangis. Selesai makan, Fiya minta dipangku sambil dipeluk. Lalu kakaknya, Chacha, sambil masih menikmati dinner buatan abinya, berkata, Abi tadi waktu Chacha cerita tentang si Comel (panggilan sayang untuk adik kecilnya, Aisyah) Chacha juga hampir mau nangis.
Lho, ada apa ini koq tiba-tiba dua-duanya jadi melow.
Hari ini Ummi dan Aisyah memang saya ijinkan untuk pergi dan menginap satu malam. Si Ummi minta ijin mengajar dua hari di Serang. Ketika menerima tawaran, dikira tempatnya dekat dan bisa dijangkau dengan pulang pergi, ternyata harus menginap. Jadilah saya kasih ijin dengan catatan, Aisyah juga dibawa.
Fiya terus bilang, tadi waktu makan Fiya kangen sama Ummi. pengin makan sama Ummi. Dia terus cerita sambil terus memeluk abinya. Hmmmm, baru aja ditinggal sehari...
Jadilah untuk mengusir rasa kangen, mereka saya ajak naik motor mencari dan membeli makanan kesukaan mereka. Kembali kerumah, mereka saya kasih HP untuk telp Umminya, lalu di rumah saya ajak mengulang pelajaran Qiraati dan Iqra sampai mereka mengantuk. Sebelum tidur, Fiya minta diceritakan tentang Rasulullah. Saya ceritakan kisah seorang wanita kulit hitam yang punya penyakit ayan/epilepsi, yang minta didoakan oleh Rasulullah agar penyakitnya sembuh. Rasulullah memberi pilihan, didoakan agar penyakitnya sembuh atau dia bersabar atas penyakitnya sehingga mendapat balasan surga atas kesabarannya mempunyai penyakit itu. Wanita itu memilih bersabar, tetapi minta Rasul mendoakan agar bila penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. Sabar. Itu sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki setiap orang. Cerita selesai, Fiya mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur. Seperti biasa, setelah mata mereka terpejam, saya cium dan berdoa untuk kebaikan mereka. Setelah itu gantian, saya yang keluar air mata...Maafkan abi nak.
Sepulang kerja, saya sudah semaksimal mungkin berusaha memainkan peran sebagai seorang Ibu. Saya buatkan mereka makanan dan makan bersama; saya minta mereka sholat maghrib dan isya berdua berjamaah (sementara saya ke masjid), saya ajak mereka bermain; bersama-sama mengulang pelajaran dan menyiapkan untuk pelajaran besok, Tetapi, betapapun telah berusaha dengan keras, saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang Ibu. Bagaimanapun dekatnya mereka dengan abinya, tetap sosok Ummi yang selalu diinginkan. Seberapapun 'galaknya' ummi ke mereka, tetap saja mereka tidak rela lepas walau semalam.
Lho, ada apa ini koq tiba-tiba dua-duanya jadi melow.
Hari ini Ummi dan Aisyah memang saya ijinkan untuk pergi dan menginap satu malam. Si Ummi minta ijin mengajar dua hari di Serang. Ketika menerima tawaran, dikira tempatnya dekat dan bisa dijangkau dengan pulang pergi, ternyata harus menginap. Jadilah saya kasih ijin dengan catatan, Aisyah juga dibawa.
Fiya terus bilang, tadi waktu makan Fiya kangen sama Ummi. pengin makan sama Ummi. Dia terus cerita sambil terus memeluk abinya. Hmmmm, baru aja ditinggal sehari...
Jadilah untuk mengusir rasa kangen, mereka saya ajak naik motor mencari dan membeli makanan kesukaan mereka. Kembali kerumah, mereka saya kasih HP untuk telp Umminya, lalu di rumah saya ajak mengulang pelajaran Qiraati dan Iqra sampai mereka mengantuk. Sebelum tidur, Fiya minta diceritakan tentang Rasulullah. Saya ceritakan kisah seorang wanita kulit hitam yang punya penyakit ayan/epilepsi, yang minta didoakan oleh Rasulullah agar penyakitnya sembuh. Rasulullah memberi pilihan, didoakan agar penyakitnya sembuh atau dia bersabar atas penyakitnya sehingga mendapat balasan surga atas kesabarannya mempunyai penyakit itu. Wanita itu memilih bersabar, tetapi minta Rasul mendoakan agar bila penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. Sabar. Itu sesuatu yang amat berharga yang harus dimiliki setiap orang. Cerita selesai, Fiya mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur. Seperti biasa, setelah mata mereka terpejam, saya cium dan berdoa untuk kebaikan mereka. Setelah itu gantian, saya yang keluar air mata...Maafkan abi nak.
Sepulang kerja, saya sudah semaksimal mungkin berusaha memainkan peran sebagai seorang Ibu. Saya buatkan mereka makanan dan makan bersama; saya minta mereka sholat maghrib dan isya berdua berjamaah (sementara saya ke masjid), saya ajak mereka bermain; bersama-sama mengulang pelajaran dan menyiapkan untuk pelajaran besok, Tetapi, betapapun telah berusaha dengan keras, saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang Ibu. Bagaimanapun dekatnya mereka dengan abinya, tetap sosok Ummi yang selalu diinginkan. Seberapapun 'galaknya' ummi ke mereka, tetap saja mereka tidak rela lepas walau semalam.
Saturday, 14 February 2015
Cinta semu di V-day
Hari ini masih saja sebagian besar orang merayakan apa yang mereka sebut hari kasih sayang. Meskipun mungkin punya motivasi masing-masing yang boleh jadi tidak sama, tapi fakta menunjukkan bahwa pada hari tersebut banyak digunakan sebagai ajang perzinahan. Sedikitnya lima walikota melarang warganya merayakan valentine day sambil men-sweeping minmarket yang kedapatan memajang coklat dengan minuman keras dan kondom. Lebih miris lagi ketika hotel kelas melati di beberapa tempat diisi oleh bukan pasangan suami istri. naudzubillah.
#Cinta semu
#Cinta semu
Telah menjadi dasar perayaan itu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Dibungkus dengan berbagai kata dan rayu
Yang hanya berisi hawa nafsu
Sama halnya dengan #Cinta buta
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
Menghantui siapapun yang gelap mata
Tidak peduli jebakan setan yang menggoda
Seolah tak ada lagi iman di dada
#Cinta mulia
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Akan hadir tepat pada waktunya
Meski tak tahu pasti kapan masanya
Karna salah satu rahasia Sang Pencipta
Begitupun #Cinta sejati
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Akan tiba suatu saat nanti
Tak ada kata terlambat atau terlalu dini
Sepanjang syarat sah terpenuhi
Demikian juga #Cinta suci
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Akan datang dan menghampiri
Menantinya dengan memantaskan diri
Terus merayu Yang Maha Pemberi
Sehingga #Cinta terindah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dapat berharap agar dipermudah
Seperti yang dilalui oleh Siti Fatimah
Atau jalan yang ditempuh Ibunda Khadijah
Dan akhirnya #Cinta tertinggi
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Sesungguhnya yang harus dimiliki
Dipersembahkan pada Zat Yang Maha Suci
Karena Dia-lah tempat kembali
Wednesday, 21 January 2015
Memerangi kemalasan
Alhamdulillah, bisa kembali membuka blog yang sudah beberapa bulan tidak di update. Tidak ada dan tidak boleh ada alasan lain selain memang M.A.L.A.S. Sibuk sejatinya bukanlah alasan untuk menulis, pun juga ide-ide bukannya tidak ada. Kemalasan memang sesuatu yang harus diperangi dan ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Ada beberapa penyebab kemalasan yang setidaknya berhasil diidentifikasi. Pertama, tingkat stres yang bisa disebabkan karena banyaknya masalah, beban pekerjaan dan kurang percaya diri menghadapi hal baru. Stres yang berkepanjangan menyebabkan seseorang malas melakukan suatu aktifitas hingga persoalan yang dihadapi dianggap selesai atau minimal mereda. Kedua, enggan membaca dan mendengar. Tentu saja membaca dan mendengar hal-hal yang positif. Membaca dapat membuka wawasan dan pengetahuan sedangkan mendengar membuat banyak informasi bermanfaat masuk. Ketiga, kurang melakukan aktifitas berpikir. Ini biasanya terjadi ketika membaca dan mendengar tidak lagi menjadi kebiasan.
Setidaknya hal-hal itulah yang menyebabkan penurunan sangat tajam aktifitas menulis di blog ini. Karena itu, ketiga penyebab di atas akan coba diatasi dengan cara berikut. Pertama, tidak menjadikan pekerjaan rutin sebagai sebuah beban yang dapat memicu tingkat stres. Bekerja dalam sebuah tim tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tapi juga kemampuan manajerial seperti kemampuan komunikasi yang baik, pendelegasian tugas, membangun hubungan dsb. Kedua kemampuan tersebut perlu terus diasah agar semakin tajam.
Kedua, menambah daftar bacaan dan mengikuti kajian. Gadget telah membuat kebiasaan membaca diperjalanan menjadi menurun drastis. Membaca status di FB/twitter atau berita di internet seringkali melalaikan dari membaca kitab suci dan buku-buku bermutu. Menaruh buku di tas mungkin bisa menjadi solusi. Saat ini mengikuti kajian sebenarnya tidak harus hadir, meskipun akan jauh lebih baik bila duduk di majelis taklim. Setidaknya bisa juga memilih kajian yang berbobot yang banyak tersebar di youtube.
Bila kedua hal diatas bisa menjadi solusi, maka permasalahan ketiga Insya Allah lebih mudah diatasi. Dengan banyaknya informasi positif yang masuk, aktifitas berpikir seharusnya bisa dilakukan. Sesuai dengan tujuan blog ini "menulis untuk mengikat ilmu agar bermanfaat hingga akhir waktu", memerangi kemalasan harus dilakukan setiap saat, karena kemasalan tidak akan pernah benar-benar selesai ditaklukan.
Monday, 11 August 2014
Kebiasaan
Ada banyak cerita menarik dari seseorang yang pulang dari tanah suci, apalagi umrah di hari-hari terakhir Ramadhan. Siapaun akan merindukan mengucapkan doa saat malam lailatul qadr dan di tempat terbaik melaksanakan ibadah (masjidil haram). Menurut cerita, di sepuluh malam terkahir Ramadhan tidak ada yang melewatkan dengan tidur. Tarawih satu juz dimulai pukul 21.00an dan berakhir hingga sekitar pukul 24.00 . Selepas istirahat hampir satu jam, lanjut shalat tahajud hingga pukul 3.00, lalu sahur dan shalat shubuh. Tidur dilakukan setelah shalat dhuha sampai menjelang shalat dzuhur, yang paling banyak 2 jam.
Sesampai di tanah air, kebiasaan tidak tidur semalam masih terbawa. Begitulah, sesuatu yang awalnya terasa berat, ketika dilakukan secara rutin bisa menjadi sesuatu yang biasa saja. Orang yang terbiasa puasa senin-kamis akan menyambut ramadhan dengan lebih bergembira dibanding yang tidak biasa; yang punya kebiasaan shalat berjamaah akan merasa berat ketika meninggalkannya; yang sudah rutin mengalokasikan hartanya untuk zakat, infaq dan shadaqah tidak akan merasa berat mengeluarkan berapapun besarnya.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jepang bersama dua bidadari kecil yang saat itu berusia 4 dan 1.5 tahun, saya tidak terbayang bagaimana keduanya akan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dengan perbedaan bahasa. Tetapi setelah 6 bulan ditempatkan di hoikuen (daycare), mereka bisa akrab dengan teman-temanya karena setiap hari dibiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa disana.
Demikian pula yang mempunyai kebiasaan buruk, sulit sekali melepaskannya. Saya pernah mempunyai asisten rumah tangga yang ternyata suka mengambil barang milik orang lain tanpa ijin. Ketika kami ajak ke rumah orang tua, banyak barang-barang 'nganggur' seperti HP, uang di saku dan di celengan, dll diambilnya dengan alasan yang aneh 'nemu'. Hebatnya, selama seminggu melakukan aksinya tidak ada satupun orang yang memergokinya.
Orang-orang hebat, baik dalam hal baik atau buruk, umumnya bisa melakukan aktifitas tersebut setelah melakukannya berkali-kali atau menjadikan aktifitas tersebut sebagai kebiasaannya. Istilah yang sering digunakan adalah tergantung 'jam terbang'. Kebiasaan baik perlu dilakukan sejak masih muda, sehat dan kuat, agar ketika fisik sudah melemah dan tidak mampu lagi melakukannya, berniat melakukannya saja akan dihitung sebagai pahala. Atau jikapun tiba-tiba umur didunia sudah berakhir, nyawa kita diambil ketika sedang melakukan kebiasaan baik. Sayang sekali jika sewaktu muda, sehat dan kuat malah digunakan untuk melakukan kebiasaan yang buruk. Wallahualam
Monday, 4 August 2014
Mudik
Salah satu ciri khas berlebaran di Indonesia adalah ritual mudik atau pulang kampung yang tujuan mulianya adalah untuk bersilaturahim dengan orang tua, keluarga dan/atau kerabat. Tahun ini, lebaran pertama setelah tiga tahun tidak berlebaran bersama keluarga besar, saya sekeluarga mudik ke Muara Dua, yang termasuk dalam kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, propinsi Sumatera Selatan. Perjalanan normal dari Bogor dengan membawa kendaraan sendiri ditempuh dalam waktu minimal 16 jam.
Dengan perjalanan yang sedemikan panjang dan melelahkan itu, tentu saja butuh persiapan matang apalagi membawa tiga bidadari kecil. Mulai dari 'mendandani' mobil, perbekalan selama diperjalanan, oleh-oleh, dan yang pasti uang yang cukup. Saya berada di Muara Dua hingga Sabtu sedangkan istri dan anak-anak masih tetap tinggal hingga cutinya selesai.
Perjalanan kembali ke Bogor Sabtu kemarin benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, berangkat dari rumah pukul 8.30, bus berangkat pukul 12.00 siang dan berhasil tiba di pelabuhan Bakaheuni sekitar pukul 1.00 dinihari, namun antrian panjang masuk kapal yang dilansir detik.com hingga mencapai 5 km menyebabkan bus yang saya tumpangi baru bisa masuk kapal sekitar pukul 11.10. Lebih dari 10 jam antri di pelabuhan. Baru pukul 18.30 saya berhasil tiba di rumah dengan selamat, yang berarti total perjalanan dari rumah ke rumah sekitar 35 jam.
Sepanjang perjalanan saya teringat bahwa pada hakekatnya kita semua juga akan 'mudik'. Tempat tinggal pertama Nabi Adam ketika diciptakan oleh Allah adalah di surga, sehingga wajar bila ada yang mengatakan surga sesungguhnya adalah 'kampung halaman' kita. Bila mudik lebaran kita bisa memperkirakan jarak tempuh kampung halaman, 'mudik ke surga' ini tidak dapat dipastikan jauh perjalanannya.
Kita hanya tahu bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian dan setelah masuk ke alam kubur semua akan menanti dibangkitkan di hari akhir untuk mempertangguungjawabkan perbuatannya sebelum ada keputusan apakah kita akan kembali ke 'kampung halaman' di surga atau justru ke neraka. Hidup di dunia ini merupakan persiapan untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung halaman. Bila untuk perjalanan selama 16 jam atau 35 jam saja persiapan yang dibutuhkan sangat detil, apalagi perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.
Kesempatan mengumpulkan bekal hanya ketika di dunia karena setelah di alam kubur hanya tiga hal yang menemani, doa anak yang shaleh/shalehah, ilmu yang bermanfaat dan amal yang ketiganya harus disiapkan di dunia. Seberapa banyak harta yang dimiliki di dunia, harta terakhir yang dibawa adalah kain kafan, semewah apapun kendaraan yang dimiliki di dunia, kendaraan terakhir yang digunakan adalah keranda dan seberapa luaspun rumah didunia, tempat tinggal terakhir hanyalah kuburan seluas 1x2 meter.
Tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan dirinya akan meninggalkan dunia. Maut tidak mengenal tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, pria-wanita, pejabat-rakyat jelata, semua pasti mengalami kematian. Tidak ada yang bisa merasa umur masih panjang hanya karena masih berusia muda atau masih sehat, segar bugar, punya uang banyak untuk berobat, dsb.
Ketika saya antri di pelabuhan selama lebih dari 10 jam, perasaan bosan, jengkel dan lelah fisik begitu menyiksa. Pikiran ini mengembara ke suatu masa ketika nanti menghadapi antrian di padang mahsyar yang tidak bisa diperkirakan waktunya, menunggu giliran di hisab yang dikabarkan pada saat itu matahari berjarak sangat dekat dengan ubun-ubun kepala sehingga ada yang tenggelam di keringatnya sendiri. Hidup di dunia yang sebentar ini benar-benar akan menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya di alam kubur, hari kebangkitan dan alam akhirat.
Wallahualam.
Dengan perjalanan yang sedemikan panjang dan melelahkan itu, tentu saja butuh persiapan matang apalagi membawa tiga bidadari kecil. Mulai dari 'mendandani' mobil, perbekalan selama diperjalanan, oleh-oleh, dan yang pasti uang yang cukup. Saya berada di Muara Dua hingga Sabtu sedangkan istri dan anak-anak masih tetap tinggal hingga cutinya selesai.
Perjalanan kembali ke Bogor Sabtu kemarin benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, berangkat dari rumah pukul 8.30, bus berangkat pukul 12.00 siang dan berhasil tiba di pelabuhan Bakaheuni sekitar pukul 1.00 dinihari, namun antrian panjang masuk kapal yang dilansir detik.com hingga mencapai 5 km menyebabkan bus yang saya tumpangi baru bisa masuk kapal sekitar pukul 11.10. Lebih dari 10 jam antri di pelabuhan. Baru pukul 18.30 saya berhasil tiba di rumah dengan selamat, yang berarti total perjalanan dari rumah ke rumah sekitar 35 jam.
Sepanjang perjalanan saya teringat bahwa pada hakekatnya kita semua juga akan 'mudik'. Tempat tinggal pertama Nabi Adam ketika diciptakan oleh Allah adalah di surga, sehingga wajar bila ada yang mengatakan surga sesungguhnya adalah 'kampung halaman' kita. Bila mudik lebaran kita bisa memperkirakan jarak tempuh kampung halaman, 'mudik ke surga' ini tidak dapat dipastikan jauh perjalanannya.
Kita hanya tahu bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian dan setelah masuk ke alam kubur semua akan menanti dibangkitkan di hari akhir untuk mempertangguungjawabkan perbuatannya sebelum ada keputusan apakah kita akan kembali ke 'kampung halaman' di surga atau justru ke neraka. Hidup di dunia ini merupakan persiapan untuk mengumpulkan bekal pulang ke kampung halaman. Bila untuk perjalanan selama 16 jam atau 35 jam saja persiapan yang dibutuhkan sangat detil, apalagi perjalanan yang kita tidak tahu kapan berakhirnya.
Kesempatan mengumpulkan bekal hanya ketika di dunia karena setelah di alam kubur hanya tiga hal yang menemani, doa anak yang shaleh/shalehah, ilmu yang bermanfaat dan amal yang ketiganya harus disiapkan di dunia. Seberapa banyak harta yang dimiliki di dunia, harta terakhir yang dibawa adalah kain kafan, semewah apapun kendaraan yang dimiliki di dunia, kendaraan terakhir yang digunakan adalah keranda dan seberapa luaspun rumah didunia, tempat tinggal terakhir hanyalah kuburan seluas 1x2 meter.
Tidak ada satu makhluk pun yang tahu kapan dirinya akan meninggalkan dunia. Maut tidak mengenal tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, pria-wanita, pejabat-rakyat jelata, semua pasti mengalami kematian. Tidak ada yang bisa merasa umur masih panjang hanya karena masih berusia muda atau masih sehat, segar bugar, punya uang banyak untuk berobat, dsb.
Ketika saya antri di pelabuhan selama lebih dari 10 jam, perasaan bosan, jengkel dan lelah fisik begitu menyiksa. Pikiran ini mengembara ke suatu masa ketika nanti menghadapi antrian di padang mahsyar yang tidak bisa diperkirakan waktunya, menunggu giliran di hisab yang dikabarkan pada saat itu matahari berjarak sangat dekat dengan ubun-ubun kepala sehingga ada yang tenggelam di keringatnya sendiri. Hidup di dunia yang sebentar ini benar-benar akan menentukan bagaimana kehidupan kita berikutnya di alam kubur, hari kebangkitan dan alam akhirat.
Wallahualam.
Tuesday, 29 July 2014
Rembulan di langit hatiku: A tribute...
Suatu malam di hari kedua tahun baru 2013. Seperti biasa, tempat terbaik adalah tetap di laboratorium (lab), bukan karena hobi eksperimen tapi salah satu strategi penghematan biaya listrik, air, dan gas, apalagi di musim dingin yang semakin menggigit. Strategi ini juga memungkinkan tidak perlu menggunakan smartphone atau koneksi internet di apato (apartment) karena wifi sangat kencang di kampus. Tidak disangsikan lagi, lab adalah tempat tinggal terfavorit, sudah ada ijin dari Sensei buat mahasiswa bahkan bila setiap hari ingin menginap. Hari ini masih suasana libur tahun baru, salah satu momen sakral buat masyarakat Jepang, sehingga liburnya tidak cukup hanya tanggal 1 Januari.
Malam ini, seperti juga malam-malam sebelumnya, chatting, free call, free video call via YM, atau skype (tergantung kekuatan jaringan di Bogor) dilakukan bukan hanya untuk melepas rindu, tapi juga menguatkan hati. Di seberang sana, kali ini dirimu memberi kabar baik dan kabar kurang baik. Kabar baiknya, anak-anak dalam keadaan sehat dan tetap kangen abinya. Alhamdulillah. Kabar kurang baiknya, tidak ada ijin dari atasan untuk kembali lagi ke Nagasaki. Alasannya cukup jelas dan masuk akal, "bagaimana kamu dan anak-anak akan hidup di sana, sementara suamimu tidak punya beasiswa? membiayai dirinya sendiri saja belum tentu bisa apalagi kalau ditambah keluarga?" demikian ucap atasanmu.
Meskipun tidak terlihat, aku tahu ada air mata yang tidak terbendung. Hari-hari terakhir ini perasaan putus asa memang sudah ada diambang pintu. Seorang teman mengatakan, istilah dalam bahasa Jepangnya 'yaruki ga arimasen' atau 'yaruki ga nai'. Kalau orang Jepang sudah mengucapkan kalimat itu, berarti menunjukkan dia sudah tidak ada motivasi atau semangat lagi. Kata-kata itu sudah sempat diucapkan ke Sensei, hingga beliau sangat terkejut. Bagaimana lagi, saat dirimu selesai Master akhir September 2012, itu berarti tidak ada lagi sumber beasiswa. Tapi keputusan sudah dibuat, sekolah harus tetap dilanjutkan mesku saat ini belum ada financial support, sementara dirimu dan anak-anak pulang ke Indonesia.
Usaha bukannya tidak dilakukan. Entah sudah berapa kali aplikasi beasiswa dan lamaran kerja part time diajukan, tapi tidak ada yang diterima. "Wajar aja, dengan kemampuan akademik yang pas-pasan, bahasa Inggris gak karuan dan kemampuan bahasa Jepang awut-awutan, mana mungkin bisa dapat beasiswa atau part time di sini?" pikiran itu selalu saja menghantui. Hampir semua orang yang mengetahui berkata, "nekat amat sih tetep keukeuh ngambil S2 dengan kondisi kayak begitu".
Tetapi kata-kata dari dirimu ini telah membuat motivasi terus tegak, meski tidak bisa dikatakan kuat.
"Apapun yang akan terjadi, ummi dan anak-anak akan tetap datang ke Nagasaki sebelum Maret. Dulu Abi sudah memenuhi janji membawa anak-anak ke Nagasaki, sekarang Ummi akan menetapi janji membawa mereka sebelum berpisah dengan Abi-nya lebih dari 5 bulan." dirimu berkata sambil agak terisak.
"Lalu bagaimana dengan hidup di sini? bayaran kuliah sekitar Rp 30 juta per semester, biaya hidup sekeluarga yang paling minimal Rp 12 juta per bulan" akupun mulai sangsi.
"Bukan Abi yang ngasih rejeki ke ummi dan anak-anak. Setiap orang akan diberikan dan sudah punya rejeki masing-masing. Buat apa kuatir? Kita masih punya Allah. Menuntut ilmu kan ibadah, buat apa kuatir? Kalau memang Allah mentakdirkan abi tidak bisa selesai S2, kita pulang sama-sama dari Nagasaki. Tidak perlu malu, sampai kapanpun ummi dan anak-anak akan tetap bangga sama abi. Kalau orang kantor gak ijinin, ya udah ummi aka ambil cuti diluar tanggungan negara aja. Buat apa kuatir? Ummi bisa bantu abi dengan ikut kerja part time disana, jadi apapun termasuk jadi cleaning service seperti yang pernah dilakukan teman dari Kenya" kata-kata itu keluar bersamaan dengan air mata.
Iya, buat apa kuatir. Allah tidak akan pernah memberikan beban diluar kesanggupan manusia. Artinya, cobaan saat ini masih dalam batas kemampuan, jangan terus-terusan mengeluh dan malas berusaha, apalagi putus asa berdoa. Teorinya sih begitu. Tapi tetap saja, rasa kuatir kadang-kadang berhasil menjebol pertahanan.
Hari itu pun tiba. Tanggal 16 Feb 2013, dirimu dan anak-anak mendarat di Kansai International Airport, Osaka. Sengaja bukan di Fukuoka atau langsung ke Nagasaki. "Bukan untuk pemborosan. Kebetulan dapat tiket promo Malaysia Airlines dari Jakarta, yang kalau ditotal tetap lebih murah turun dan menginap di Osaka, ditambah liburan sama-sama ke Universal Studio"
Hari itu, dirimu menetapi janji untuk membawa anak-anak tidak berpisah lebih dari 5 bulan dengan abinya. Rasa rindu tidak bertemu dua bidadari kecil langsung terobati begitu mereka berebutan memeluk dengan erat. Tetapi, persoalan dan tantangan besar telah menanti. Bagaimana nanti kelanjutan hidup kita di sini? "Ya Allah, jangan biarkan istri dan anak-anak kelaparan" bisikku dalam doa. "Ya Allah, jangan biarkan kami terjerat hutang" begitu salah satu isi doamu.
Bukti kekuasaan Allah secara perlahan benar-benar hadir menyapa kami sekeluarga. Sebelum sampai di Nagasaki, seorang petugas di supermarket besar mengabarkan kalau aku diterima kerja part time dan bisa mulai kerja tanggal 18 Feb. Subhanallah, meskipun tetap tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidup, tetapi bisa menggantikan kerja part time di perusahaan ekspedisi yang tidak menentu saat ini. Alhamdulillah. Setelah dihitung penghasilan yang akan didapat, kira-kira itu hanya cukup untuk biaya makan sekeluarga.
"Allah langsung mengabulkan doaku untuk tidak membiarkan ummi dan anak-anak kelaparan" secercah harapan dan rasa optimis mulai timbul. Bukankan Allah berjanji akan bersama orang-orang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong?
Ketika dirimu mengatakan ingin program punya anak, perasaan kuatir langsung menggoda dengan sangat kuat. Dengan anak yang ada sekarang saja, kita masih kesulitan bagaimana kalau menambah anak?
Tetapi kekuatiran itu berubah menjadi keyakinan ketika keesokannya Sensei menawarkan dirimu untuk kerja part time di lab membantu penelitiannya. Tentu saja ini adalah kerja part time terbaik untuk seorang lulusan S2 Jepang daripada menjadi cleaning service atau kerja di supermarket atau yang lainnya. "Yakin saja bahwa setiap anak punya rejeki dari Yang Maha Pemberi" dirimu selalu menguatkan untuk mengurangi kekuatiran.
Ketika beberapa waktu kemudian dirimu mengatakan dari hasil tes urine sepertinya telah positif mengandung anak yang ketiga, perasaan senang tumpah ruah di apartmen kami. Anak-anak sudah heboh menyambut adik baru. Tapi, di Jepang yang berhak mengatakan positif hamil adalah seorang dokter, sehingga harus dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Bila benar positif, harus mendaftarkan kehamilannya ke kantor walikota dan harus melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit. Sudah terbayang biaya yang harus dikeluarkan untuk periksa rutin dan informasi bahwa biaya melahirkan sekitar Rp 50 juta. hmmm......
Seperti tidak ingin membiarkan rasa kuatir ini kembali muncul, keesokan harinya petugas dari international student center mengabarkan bahwa aku berhasil mendapat beasiswa Hashiya untuk biaya hidup. Sujud syukur. Ini adalah kesempatan terakhir karena setelah ini tidak mungkin lagi mengajukan beasiswa. Sekali lagi Allah menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas.
Kemudian, saat dokter mengatakan bahwa dirimu benar positif mengandung anak ketiga, Allah kembali menghamparkan rejeki-Nya. Teman-teman di lab memberikan ucapan selamat via grup di Line bahwa semester tiga ini aku bebas biaya SPP. Demikian pula ketika Aisyah lahir tanggal 20 Desember, selain ucapan selamat atas kelahiran putri ketiga kami, teman-teman memberikan kabar yang sama bahwa semester empat aku juga bebas biaya SPP. Doa-doa yang keluar dari lisan dirimu terkabul. Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan S2 tanpa harus berhutang.
Detail perjalanan hidup itu masih membekas. Semua menjadi lebih mudah ketika dirimu ada disampingku. Kebahagiaan menyapa saat kita yakin kepada Yang Maha Kuasa. Keyakinan takkan terusik bila kita mendekat kepada Sang Khalik.
Hari ini, 29 Juli 2014, tepat sembilan tahun akad terucap di hadapan orang tuamu. Semoga dirimu akan selalu menjadi rembulan di langit hatiku.
Rembulan di langit hatiku
menyalalah engkau selalu
temani kemana meskiku pergi menempuh tempat kita tuju
Doakanlah ku di shalat malammu
pelita perjalananku
Doakanlah ku di shalat malammu
rembulan di langit hatiku
(seismic)
Malam ini, seperti juga malam-malam sebelumnya, chatting, free call, free video call via YM, atau skype (tergantung kekuatan jaringan di Bogor) dilakukan bukan hanya untuk melepas rindu, tapi juga menguatkan hati. Di seberang sana, kali ini dirimu memberi kabar baik dan kabar kurang baik. Kabar baiknya, anak-anak dalam keadaan sehat dan tetap kangen abinya. Alhamdulillah. Kabar kurang baiknya, tidak ada ijin dari atasan untuk kembali lagi ke Nagasaki. Alasannya cukup jelas dan masuk akal, "bagaimana kamu dan anak-anak akan hidup di sana, sementara suamimu tidak punya beasiswa? membiayai dirinya sendiri saja belum tentu bisa apalagi kalau ditambah keluarga?" demikian ucap atasanmu.
Meskipun tidak terlihat, aku tahu ada air mata yang tidak terbendung. Hari-hari terakhir ini perasaan putus asa memang sudah ada diambang pintu. Seorang teman mengatakan, istilah dalam bahasa Jepangnya 'yaruki ga arimasen' atau 'yaruki ga nai'. Kalau orang Jepang sudah mengucapkan kalimat itu, berarti menunjukkan dia sudah tidak ada motivasi atau semangat lagi. Kata-kata itu sudah sempat diucapkan ke Sensei, hingga beliau sangat terkejut. Bagaimana lagi, saat dirimu selesai Master akhir September 2012, itu berarti tidak ada lagi sumber beasiswa. Tapi keputusan sudah dibuat, sekolah harus tetap dilanjutkan mesku saat ini belum ada financial support, sementara dirimu dan anak-anak pulang ke Indonesia.
Usaha bukannya tidak dilakukan. Entah sudah berapa kali aplikasi beasiswa dan lamaran kerja part time diajukan, tapi tidak ada yang diterima. "Wajar aja, dengan kemampuan akademik yang pas-pasan, bahasa Inggris gak karuan dan kemampuan bahasa Jepang awut-awutan, mana mungkin bisa dapat beasiswa atau part time di sini?" pikiran itu selalu saja menghantui. Hampir semua orang yang mengetahui berkata, "nekat amat sih tetep keukeuh ngambil S2 dengan kondisi kayak begitu".
Tetapi kata-kata dari dirimu ini telah membuat motivasi terus tegak, meski tidak bisa dikatakan kuat.
"Apapun yang akan terjadi, ummi dan anak-anak akan tetap datang ke Nagasaki sebelum Maret. Dulu Abi sudah memenuhi janji membawa anak-anak ke Nagasaki, sekarang Ummi akan menetapi janji membawa mereka sebelum berpisah dengan Abi-nya lebih dari 5 bulan." dirimu berkata sambil agak terisak.
"Lalu bagaimana dengan hidup di sini? bayaran kuliah sekitar Rp 30 juta per semester, biaya hidup sekeluarga yang paling minimal Rp 12 juta per bulan" akupun mulai sangsi.
"Bukan Abi yang ngasih rejeki ke ummi dan anak-anak. Setiap orang akan diberikan dan sudah punya rejeki masing-masing. Buat apa kuatir? Kita masih punya Allah. Menuntut ilmu kan ibadah, buat apa kuatir? Kalau memang Allah mentakdirkan abi tidak bisa selesai S2, kita pulang sama-sama dari Nagasaki. Tidak perlu malu, sampai kapanpun ummi dan anak-anak akan tetap bangga sama abi. Kalau orang kantor gak ijinin, ya udah ummi aka ambil cuti diluar tanggungan negara aja. Buat apa kuatir? Ummi bisa bantu abi dengan ikut kerja part time disana, jadi apapun termasuk jadi cleaning service seperti yang pernah dilakukan teman dari Kenya" kata-kata itu keluar bersamaan dengan air mata.
Iya, buat apa kuatir. Allah tidak akan pernah memberikan beban diluar kesanggupan manusia. Artinya, cobaan saat ini masih dalam batas kemampuan, jangan terus-terusan mengeluh dan malas berusaha, apalagi putus asa berdoa. Teorinya sih begitu. Tapi tetap saja, rasa kuatir kadang-kadang berhasil menjebol pertahanan.
Hari itu pun tiba. Tanggal 16 Feb 2013, dirimu dan anak-anak mendarat di Kansai International Airport, Osaka. Sengaja bukan di Fukuoka atau langsung ke Nagasaki. "Bukan untuk pemborosan. Kebetulan dapat tiket promo Malaysia Airlines dari Jakarta, yang kalau ditotal tetap lebih murah turun dan menginap di Osaka, ditambah liburan sama-sama ke Universal Studio"
Hari itu, dirimu menetapi janji untuk membawa anak-anak tidak berpisah lebih dari 5 bulan dengan abinya. Rasa rindu tidak bertemu dua bidadari kecil langsung terobati begitu mereka berebutan memeluk dengan erat. Tetapi, persoalan dan tantangan besar telah menanti. Bagaimana nanti kelanjutan hidup kita di sini? "Ya Allah, jangan biarkan istri dan anak-anak kelaparan" bisikku dalam doa. "Ya Allah, jangan biarkan kami terjerat hutang" begitu salah satu isi doamu.
Bukti kekuasaan Allah secara perlahan benar-benar hadir menyapa kami sekeluarga. Sebelum sampai di Nagasaki, seorang petugas di supermarket besar mengabarkan kalau aku diterima kerja part time dan bisa mulai kerja tanggal 18 Feb. Subhanallah, meskipun tetap tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidup, tetapi bisa menggantikan kerja part time di perusahaan ekspedisi yang tidak menentu saat ini. Alhamdulillah. Setelah dihitung penghasilan yang akan didapat, kira-kira itu hanya cukup untuk biaya makan sekeluarga.
"Allah langsung mengabulkan doaku untuk tidak membiarkan ummi dan anak-anak kelaparan" secercah harapan dan rasa optimis mulai timbul. Bukankan Allah berjanji akan bersama orang-orang menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong?
Ketika dirimu mengatakan ingin program punya anak, perasaan kuatir langsung menggoda dengan sangat kuat. Dengan anak yang ada sekarang saja, kita masih kesulitan bagaimana kalau menambah anak?
Tetapi kekuatiran itu berubah menjadi keyakinan ketika keesokannya Sensei menawarkan dirimu untuk kerja part time di lab membantu penelitiannya. Tentu saja ini adalah kerja part time terbaik untuk seorang lulusan S2 Jepang daripada menjadi cleaning service atau kerja di supermarket atau yang lainnya. "Yakin saja bahwa setiap anak punya rejeki dari Yang Maha Pemberi" dirimu selalu menguatkan untuk mengurangi kekuatiran.
Ketika beberapa waktu kemudian dirimu mengatakan dari hasil tes urine sepertinya telah positif mengandung anak yang ketiga, perasaan senang tumpah ruah di apartmen kami. Anak-anak sudah heboh menyambut adik baru. Tapi, di Jepang yang berhak mengatakan positif hamil adalah seorang dokter, sehingga harus dilakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Bila benar positif, harus mendaftarkan kehamilannya ke kantor walikota dan harus melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit. Sudah terbayang biaya yang harus dikeluarkan untuk periksa rutin dan informasi bahwa biaya melahirkan sekitar Rp 50 juta. hmmm......
Seperti tidak ingin membiarkan rasa kuatir ini kembali muncul, keesokan harinya petugas dari international student center mengabarkan bahwa aku berhasil mendapat beasiswa Hashiya untuk biaya hidup. Sujud syukur. Ini adalah kesempatan terakhir karena setelah ini tidak mungkin lagi mengajukan beasiswa. Sekali lagi Allah menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas.
Kemudian, saat dokter mengatakan bahwa dirimu benar positif mengandung anak ketiga, Allah kembali menghamparkan rejeki-Nya. Teman-teman di lab memberikan ucapan selamat via grup di Line bahwa semester tiga ini aku bebas biaya SPP. Demikian pula ketika Aisyah lahir tanggal 20 Desember, selain ucapan selamat atas kelahiran putri ketiga kami, teman-teman memberikan kabar yang sama bahwa semester empat aku juga bebas biaya SPP. Doa-doa yang keluar dari lisan dirimu terkabul. Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan S2 tanpa harus berhutang.
Detail perjalanan hidup itu masih membekas. Semua menjadi lebih mudah ketika dirimu ada disampingku. Kebahagiaan menyapa saat kita yakin kepada Yang Maha Kuasa. Keyakinan takkan terusik bila kita mendekat kepada Sang Khalik.
Hari ini, 29 Juli 2014, tepat sembilan tahun akad terucap di hadapan orang tuamu. Semoga dirimu akan selalu menjadi rembulan di langit hatiku.
Rembulan di langit hatiku
menyalalah engkau selalu
temani kemana meskiku pergi menempuh tempat kita tuju
Doakanlah ku di shalat malammu
pelita perjalananku
Doakanlah ku di shalat malammu
rembulan di langit hatiku
(seismic)
Thursday, 24 July 2014
Sebelum mulai shalat
Biasanya seorang imam akan meminta makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf atau kadang-kadang juga meminta yang membawa alat komunikasi agar dinonaktifkan atau disilent, sesaat sebelum mulai shalat. Tetapi ada yang beda saat shalat dzuhur kemarin. Selain mengatakan hal tersebut, imam juga berpesan kepada makmum untuk melakukan tiga hal berikut.
Pertama, ingatlah bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang kita lakukan. Karena itu shalatlah dengan benar, jangan melakukan gerakan yang pada akhirnya memalingkan kekhusyu'an. Apapun yang kita lakukan, Allah sedang menatap setiap gerakan kita.
Kedua, ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar apa saja yang kita ucapkan. Karena itu bacalah setiap bacaan shalat atau ayat quran dengan tartil, tidak terburu-buru, yang justru akan mengubah arti bacaan itu. Apapun yang kita ucapkan, Allah mendengar.
Ketiga, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui, termasuk apa yang ada dalam hati kita. Karena itu hindari memikirkan hal yang macam-macam yang akan menghilangkan konsentrasi shalat yang sedang kita kerjakan. Apapaun yang kita pikirkan, Allah pasti mengetahuinya.
Sejujurnya, ketiga nasehat itu mak jleb banget. Sangat mengena. Betapa selama ini sering sekali pikiran berkelana kesana kemari, ke alam lain tanpa sadar bahwa saya sedang menghadap Zat Yang Maha Tahu, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang mengetahui keberadaan seekor semut hitam di atas batu yang sangat hitam di malam yang gelap gulita. Kadang di waktu shubuh, pikiran mengembara ke urusan rumah, anak dan istri, ketika dzuhur memikirkan urusan pekerjaan yang belum selesai, saat ashar sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan saat pulang, shalat maghrib dan isya sibuk memikirkan makanan, bermain dengan anak, dsb.
Ah, ternyata masih sangat banyak yang harus saya perbaiki, padahal shalat lah yang membedakan seseorang itu muslim atau kafir, shalat juga yang pertama ditanya oleh Allah di hari akhir kelak dan shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bila shalat saya masih gak karuan???? mudah-mudahan masih belum terlambat untuk berbenah.
Pertama, ingatlah bahwa Allah Maha Melihat apa saja yang kita lakukan. Karena itu shalatlah dengan benar, jangan melakukan gerakan yang pada akhirnya memalingkan kekhusyu'an. Apapun yang kita lakukan, Allah sedang menatap setiap gerakan kita.
Kedua, ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar apa saja yang kita ucapkan. Karena itu bacalah setiap bacaan shalat atau ayat quran dengan tartil, tidak terburu-buru, yang justru akan mengubah arti bacaan itu. Apapun yang kita ucapkan, Allah mendengar.
Ketiga, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui, termasuk apa yang ada dalam hati kita. Karena itu hindari memikirkan hal yang macam-macam yang akan menghilangkan konsentrasi shalat yang sedang kita kerjakan. Apapaun yang kita pikirkan, Allah pasti mengetahuinya.
Sejujurnya, ketiga nasehat itu mak jleb banget. Sangat mengena. Betapa selama ini sering sekali pikiran berkelana kesana kemari, ke alam lain tanpa sadar bahwa saya sedang menghadap Zat Yang Maha Tahu, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang mengetahui keberadaan seekor semut hitam di atas batu yang sangat hitam di malam yang gelap gulita. Kadang di waktu shubuh, pikiran mengembara ke urusan rumah, anak dan istri, ketika dzuhur memikirkan urusan pekerjaan yang belum selesai, saat ashar sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan saat pulang, shalat maghrib dan isya sibuk memikirkan makanan, bermain dengan anak, dsb.
Ah, ternyata masih sangat banyak yang harus saya perbaiki, padahal shalat lah yang membedakan seseorang itu muslim atau kafir, shalat juga yang pertama ditanya oleh Allah di hari akhir kelak dan shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Bila shalat saya masih gak karuan???? mudah-mudahan masih belum terlambat untuk berbenah.
Subscribe to:
Posts (Atom)